BECAK TANPO SOPIR
By. Laras Wati
Dahulu. Aku senang sekali bila dijak ibu belanja kepasar. “Ayo ngumbah moto,” itu kata Ibu, padaku. Kepasar, berarti kesempatan memakai baju baru. Juga kesempatan untuk memperoleh jajan pasar dan yang lebih menyenanglan lagi adalah, ketika kami pulang dengan membawa keranjang yang penuh, maka kami akan memanggil tukang becak untuk mengantar kami pulang. Terlebih lagi bila saat itu hujan. Si tukang becak akan menutup bagian wajah becaknya dengan selembar plastik transparan. “Kita dibungkus kaya kerupuk ya, Bu?” dan ibuku selalu menjawab hanya dengan senyuman.
Dibalik plastic transparan, aku mengintip pemandangan dari balik duniaku yang sempit. Sepeda dan motor berlalu lalang. Derap kaki kuda penarik delman berdentuman. Sesekali, kakinya yang lelah menginjak genangan air dan memercikan air keruh kebadan becak yang kami tumpangi. Namun aku aman disana, karena kami tertutup plastic pelindung. Aku tersenyum. Tanpa paham, ada peluh yang luruh bersama rintik air hujan dibelakang tempat dudukku. Seorang lelaki tua bercaping bambu, mengayuh pedal yang kian berat karena jalanan yang becek berlumpur. Semua, hanya demi selembar uang limaratus perak, yang lusuh dan basah, yang akan segera berpindah tangan dari ibu ke lelaki tua itu.
Kini, duapuluh lima taun telah berlalu. Bila kukenang kembali saat itu, luruh juga air mataku. Perjalanan kehidupan berlalu begitu saja. Penuh rona dan rupa, jua cerita. Demikian juga kisah becak dan lelaki tua. Kini hanya menjadi sebuah legenda. Becak, yang dulu turut serta menjadi alat juang seorang lelaki tua untuk bertahan hidup, kini hanya bisa terpuruk, sendiri, merindukan tuannya.
“Aku ingin dikayuh dan melanglang buana.” Begitu kira-kira kata si becak. Namun siapakah supirnya? Masih adakah anak muda jaman sekarang yang mau mengayuh becak dan bercucuran keringat demi selembar upah yang halal? Atau mereka lebih senang mengangkat gitar dan menyanyi semau-maunya dijalanan? Atau naik turun bis kota dan menengadahkan tangan untuk sekeping koin ratusan? Manakah yang lebih mulia daripada keduanya? Ah, semua pertanyaan itu, berlalu lalang dalam benakku. Prihatin melihat becak-becak itu tak bertuan. Dan bilapun becak-becak itu menemukan tuannya, apakah ada penumpang yang hendak menaikinya? Bukankah lebih praktis, irit dan keren bila mereka kridit motor saja? Toh, uang mukanya gak seberapa. tentang setoran bulanan? dipikir nanti-nanti saja.
Diambang petang, aku kembali melihat wajah becak tanpa sopir itu bermuram durja. Tubuhnya lusuh, lelah dan tampak tua. “Aku hanya tinggal menikmati hari tua, La. Dan menunggu waktuku saja, untuk masuk dalam ruang kenangan, karena tergilas putaran zaman.” Ah…dia mengedipkan mata. Menunggu nasib selanjutnya. Aku tercengang mendapati semua fenomena yang ada. apakah ini bagian dari cerita dalam panggung sandiwara? Entahlah. Namun yang pasti, becak tua dan kisah lelaki bercaping bambu itu adalah bukti keteguhan jiwa yang sebenarnya. Juga, mereka adalah pribadi bangsa Indonesia sejati, yang walau apa adanya dan sangat sederhana, namun pantang tunduk oleh perintah ujung jari yang pongah karena kuasa.
Kini, aku benar-benar merindukan sensasi menaiki becak seperti dahulu kala. Ditengah kejamnya polusi udara yang ada di kota-kota. Seandainya saja, becak-becak itu kembali berjaya, sungguh sebenarnya ada cinta yang telah tertambat mesra, pada setiap guliran roda dan derai tawa dari menusia perkasa yang dengan kebesaran jiwa selalu tersenyum dan saling berebut kata, Terima kasih.(*)

utak utik lagi....hehe nanti kan lancar....
BalasHapus