Minggu, 09 Oktober 2016

SUSANTA, PELOPOR ORKES KERONCONG YUDHISTIRA



Bapak Susanta, mengaku menyukai keroncong mulai tahun 1983. Dengan bergabung dengan para sesepuh koroncong di Blitar diantaranya: Bapak Yahuri dan Pak Gio, di mana mereka memiliki grup keroncong bernama Keroncong Remaja. Pada saat itu Bapak Susanta berprofesi sebagai Guru di SMPN Kesamben 1. Beliau bukan pemain keroncong namun hanya penikmat dan selalu mengikuti kegiatan mereka kemana pun mereka tampil dan saat latihan.

Berkiprah dalam belantika musik keroncong merupakan panggilan jiwa dalam menyukai dan mencintai musik satu ini sampai bertekat untuk melestarikannya. Akhirnya, pada tahun 1987, Bapak Susanta mulai mendirikan grup keroncong sendiri dengan personil anak-anak muda di kampung Karanglo. Grup keroncong tanpa nama, hanya sebagai pengisi waktu disaat luang dengan ke tujuh personil yang didukung penuh oleh Pak Gio dan Pak Muim sebagai mentor.

Sejak tahun itu pula, Bapak Susanta mulai menabung alat musik keroncong berupa cuk, cak, cello, bass dan biola. Namun grup keroncong besutannya tidak bertahan lama. Hanya sekitar 3 tahun saja grupitu berdiri. Ini karena banyak personil yang kuliah ke luar kota dan bekerja diberbagai instansi, lalu fakum hingga beberapa tahun. Baru sekitar tahun 2006, muncul kembali keinginan untuk mendirikan grup keroncong. Berangkat dari keprihatinan karena musik keroncong yang pernah jaya di masa lalu, kian kemari semakin surut peminatnya.


Bapak Susanta kembali tergugah untuk nguri-uri budaya lokal dengan kembali mengumpulkan personil lama dari grup keroncong Bina Mitra. Diantaranya adalah Bapak Pendi, Bapak Gio, Pak Yuse, dan kawan-kanan  lalu mulai membeli alat-alat baru untuk menunjang segala aktifitas. Kemudian mereka membentuk grup baru dengan nama Orkes Keroncong Nusantara.
Nama Orkes Keroncong Nusantara dipilih karena musik keroncong yang mereka bangun bertujuan untuk mempopulerkan lagu-lagu nusantara. Namun sayang, setelah grup musik yang mulai naik daun dan sudah sering tampil di mana-mana baik dalam kota pun luar kota (Hotel Tugu Malang dan Blitar) juga acara-acara resepsi dan hajatan, hanya berjalan dua tahun saja.

Bapak Susanta sempat kecewa karena grup keroncong yang beliau besut akhirnya gugur karena masalah intern. Tak lain dan tak bukan hanyalah karena niat awal para personil dalam berkesenian tidak jujur. Bapak Susanta menuturkan bahwa dalam berkesnian itu tidak cukup hanya pandai bermain musik namun kemurnian jiwa harus tetap dijaga. Karena seni adalah nama lain dari keindahan dan keindahan akan tampak bila didasari niat yang jujur, tulus dan iklas hanya karena ingin mengembangkan kesenian lokal, tanpa embel-embel kepentingan pribadi. Bermain musik bukan hanya mampu memetik dawai namun hakikatnya  adalah keselarasan dalam bermusik juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup yang selaras, akan menghasilkan irama yang harmonis. Sama dengan keselarasan dalam bermain musik, bila tidak tercapai keselarasan nada, mustahil akan hadir sebuah irama yang bisa dinikmati.

Jatuh bangun dalam memajukan musik keroncong di kotanya, Bapak Susanta tidak pernah merasa kapok dengan pengalaman pahit masa lalu. Beriring waktu, beliau menemukan anak-anak jalanan (pengamen) . Para musisi jalanan itu datang untuk dibina secara khusus oleh Bapak Susanta dalam hal bermain musik keroncong. Dengan sukarela, Bapak Susanta menerima mereka dan mendatangkan seorang guru pembimbing untuk melatih mereka hingga 6 bulan lamanya. Grup baru mereka lahir dengan nama Orkes Keroncong Ojo Dumeh dengan ketua yang ditunjuk langsung oleh Bapak Susanta bernama Joko Susanto. Namun badai tak pernah bosan datang menggempur. Telah mengalami pasang surut dan bongkar pasang personil, kini Orkes Keroncong yang diketuai langsung oleh beliau, kini bernama Orkes Keroncong Yudhistira yang beralamat di Sanggar Yudhistira, jalan Timor nomer 27 Karanglo. Kecamatan Sananwetan, Blitar.

Bapak Susanta bisa teguh dalam bermusik keroncong tidaklah sendirian. Dalam jatuh bangunnya, beliau didampingi sahabat sejatinya bernama Santoso Yuwono yang selalu ada dalam pengelolaan musik keroncong sejak awal sampai sekarang. Segala kesulitan dalam seluruh kegiatan latihan, merombak tatanan anggota, saat tanggapan dan sebagainya, beliau yang juga dosen Universitas Negeri Merdeka Malang selalu memberikan masukan yang bermakna.

Harapan yang beliau sampaikan kepada para personil baru yang merupakan gabungan dari musisi jalalan, semoga kelak mereka akan menjadi musisi terkenal namun tetap menjaga kemurnian dalam berkesenian. Meski berawal dari jalanan, semoga mereka tidak memiliki mental kacangan. Sukses dan dapat membawa musik keroncong merebut hati penggemarnya dalam bersaing di belantika musik Indonesia. (*)

Kamis, 08 September 2016

PERPISAHAN UNTUK PERJUMPAAN


Saya merasa sangat beruntung saat Bu Endang Kalimasada, memberi kesempatan untuk ikut hadir dalam acara yang beliau gelar di rumahnya. Acara perpisahan kepala sekolah Wiku atau putra ke dua Bu Endang dan Pak Bagus Putuparto yang bernama Wijayakusuma.

Dalam kesempatan silaturahmi selama kurang lebih 3 jam itu, saya menangkap bergitu banyak ilmu dan hikmah yang bisa dipetik. Diantaranya adalah kekompakan, kerja sama, saling bimbing, harmonis dan komunikasi.



Kemarin, Kamis 9 September 2016, Bu Endang dan Pak Bagus mengundang staf guru, kepala sekolah lama dan kepala sekolah baru juga beberapa walimurid yang tergabung dalam komunitas Sor Ringin, untuk datang ke rumah beliau di Rumah Budaya Kalimasada. Beliau berinisiatif untuk mengadakan acara perpisahan Bapak Mukhamad Toyifudin selaku kepala sekolah lama SDN Bendogerit 1. Juga sebagai ajang silaturahmi antar guru dan walimurid.


Dari acara tersebut, saya menyadari bahwa begitu penting komunikasi antara pihak sekolah dan walimurid. Seperti yang saya  ketahui, banyak orang tua atau walimurid  hanya pasrah kepada pihak sekolah. Tidak ada komunikasi intensif antar keduanya. Namun ternyata, penting untuk menjalin komunikasi tersebut demi kamajuan anak didik.


Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Muhamad Toyifudin yang sukses mambawa banyak perstasi bagi anak-anak SDN Bendogerit 1 selama masa tugas dua tahun lebih. Beliau mengaku sangat terkesan terhadap kekompakan dan hubungan yang terjalin apik antar pihak sekolah dan walimurid. Sehingga setiap program yang dicanangkan oleh pihak sekolah, selalu didukung penuh oleh walimurid. Melihat kemampuan dan kemauan antara anak dan walimurid untuk mengejar prestasinya, maka Bapak Toyif – begitu beliau biasa di sapa – memberikan wadah bagi mereka untuk berkembang. Selama menjalankan bertugas, Bapak Toyif sudah memberikan beberapa program unggulan diantaranya: kelas pidato, berkomunikasi dengan bahasa inggris, mengaji di sekolah ( yang juga menjadi program walikota Blitar), olimpiade, cerita rakyat dan drum band. Semua kegiataan tersebut dilaksanakan setelah pulang sekolah dan dilaksanakan dengan metode pengajaran yang fun, sehingga tak membuat anak menjadi stress.



Banyak prestasi yang sudah disabet oleh anak-anak didik SDN Bendogerit 1, antara lain: juara umum kejuaraan propinsi dalam lomba drumb band. Lomba pidato, cerita rakyat dan baca puisi yang berhasil membawa pulang medali perak dan juara 1 tingkat propinsi. Dan beasiswa pun menanti untuk anak-anak yang berprestasi.

Beliau mengatakan masih banyak program yang akan diluncurkan. Namun beliau adalah abdi negara yang terikat tugas yang harus dijalankan dengan semangat dan tanggung jawab. Beliau berharap kepala sekolah yang baru dapat melanjutkan seluruh rangkaian program bahkan bisa lebih baik lagi dalam membawa anak-anak SDN Bendogerit 1 menjadi bintang-bintang cemerlang yang akan menjadi kebanggaan orangtua, sekolah bahkan negaranya. Dan sebagai ucapan selamat datang kepada kepala sekolah yang baru, Pak Bagus memberikan beberapa buku hasil karyanya.



Acara silaturahmi terasa semakin hangat karena di sana juga ada hiburan orgen tunggal dan biduwanita yang banyak melantunkan tembang kenangan. Juga para guru dan wali murid banyak yang menyumbangkan suaranya untuk menghibur para tamu undangan. Terakhir, acara ditutup dengan makan-makan. Hmm... antri deh, ambil bakso duluan. hahaha






Terkhusus kepada Bu Endang dan keluarga, saya mengucapkan banyak terima kasih karena telah banyak berbagi bailk ilmu, waktu, tenaga dan materi untuk kebaikan bersama. Sayuk, rukun, bahagia dan harmonis dalam semangat gotong royong yang terus dibina dan ditumbuh kembangkan bersama. Acara perpisahan yang dirancang sebagai ajang perjumpaan dan sharing masalah pendidikan dan anak, menjadi acara penuh berkah yang musti diadakan oleh setiap walimurid yang ingin menjalin komunikasi intensif. Rahayu. (*)


THE KARANGANYAR





Minggu kemarin 4 September 2016, saya sangat beruntung karena berkesempatan meliput bangunan utama di kebun kopi The Karanganyar yang merupakan bangunan sejak zaman kolonial Belanda. Bukan hanya meliput, namun Mas Wima selalu owner perkebunan tersebut juga mengijinkan saya untuk memotret benda-benda bersejarah yang ada di sana. Di mana benda tersebut adalah koleksi pribadi dari keluarga mereka. Yuk, intip apa saja yang ada di sana.

Kami bertiga, saya, sahabat saya Mbak Sinta dan Mas Toni dibawa oleh seorang guide yang ditugaskan khusus untuk menceritakan asal muasal dan kisah bersejarah dari ruang-ruang di dalam bangunan utama The Karanganyar. Ruang pertama, kami bertiga dibawa masuk ke dalam ruang Bung Karno. Kenapa disebut ruang Bung Karno? Karena barang-barang yang ada di sana adalah hasil lelang dari Hotel Indonesia nomer 806. Di mana kamar tersebut adalah kamar yang dikhususkan untuk Bung Karno. Sebagai pemenang lelang, PT Harta Mulia akhirnya membawa pulang barang-barang itu ke salah satu kamar bangunan utama kebun kopi The Karanganyar. Karena kedekatan Pak Deni dengan keluarga di Istana Gebang, ketika Bung karno pindah ke Blitar, beliau menyempatkan diri berkunjung ke kebun kopi The Karanganyar dan beristirahat di dalam ruang kamar tersebut.



Di dalam kamar itu, terdapat beberapa benda bersejarah diantaranya ada lukisan seorang perempuan bergaun putih salah satu koleksi Bung Karno. Selain itu ada juga keris yang merupakan benda pusaka dari koleksi  Bu Wardoyo ( kakak Bung Karno ) yang menghibahkannya kepada pemilik kebun kopi The Karanganyar.

Setelah kamar Bung Karno kami masuk ke kamar Pak Deni dan Bu Deni yang semua barangnya masih asli baik ranjang, perabot, lemari, brangkas, meja, topi, mesin ketik dan beberapa pusaka koleksi pribadi. Selain menunjukkan tempat-tempat bersejarah, guide yang membawa kami berkeliling juga menceritakan sejarah bangunan tersebut. Diceritakan bahwa perkebunan itu sudah berdiri sejak abad ke 19 zaman kolonial Belanda. Saat itu, Pak Deni bekerja sebagai mandor perkebunan dan pada tahun 1960, beliau mendirikan koperasi dan memimpin perusahaan yang diberi nama Harta Mulia. Di bagian dindingnya ada foto dan lukisan Pak Deni beserta Ibu.




Ruang selanjutnya adalah aula rumah loji ( rumah peninggalan Belanda ). Di ruang itu, Pak Deni kerap menerima tamu-tamu penting dan memimpin rapat perusahaan. Di bagian dinding aula rumah loji, terdapat lukisan Bung Karno sedang termenung. Lukisan tersebut merupakan lukisan terbaik dalam peringatan satu abad Bung Karno. Di mana pelukisnya adalah orang Blitar yang saat ini menetap di pulau Bali.


Selain bangunan utama, kami juga berkesempaatan untuk mengunjungi museum. Terpajang rapi beberapa pusaka diantaranya adalah keris Omyang Jimbe dimana keris tersebut adalah keris asli Blitar. Selain itu juga ada beberapa tombak, lukisan Jendral Sudirman dan keris pusakanya.



Ruangan lain yang kami kunjungi adalah miniatur ruang kerja Bapak Heri Nugroho sewaktu beliau masih menjabat sebagai Bupati Blitar. Meja kerja dan beberapa penghargaan serta seragam yang dulu beliau kenakan saat bertugas dan pakaiann adat,  menjadi saksi sejarah dalam beliau bertugas mengemban amanat warga kabupaten Blitar. 



Terakhir, kami mampir ke balai kesenian. Di sana, kami bergabung bersama sekelompok Bapak-Bapak yang sedang memainkan gamelan, berlatih karawitan melestarikan budaya nasional. Jadi, bila Anda berjunjung ke Blitar, jangan lupa untuk mampir ke salah satu destinasi wisata Kabupaten Blitar yang saat ini paling digandrungi. Salam budaya. Rahayu. (*)


Senin, 05 September 2016

GAYENG DI KEBUN KOPI BARENG OK_OJO DUMEH





Sabtu malam Minggu kemarin, salah satu personil grup keroncong OK_Ojo Dumeh mengabarkan bahwa besok pukul 12.00 kami diharapkan bisa pentas di kebun kopi The Karanganyar. Saya sempat kaget karena merasa tersanjung sekaligus senang bahwa pada akhirnya, kami bisa tampil di The Karanganyar. Sebuah tempat penuh sejarah yang menjadi saksi perjuangan sekaligus museum yang baru soft luonching beberapa bulan lalu.



Jujur saja saya memang belum pernah ke sana walau keinginan itu ada. Maka, ketika sahabat saya mengabarkan bahwa kami akan hadir untuk memberikan hiburan keroncong kepada para pengunjung tempat itu, rasanya semangat sekali. Hingga esoknya, saya mengajak salah satu sahabat perempuan untuk join dalam kunjungan ke kebun kopi The Karanganyar. Selain sebagai penunjuk jalan, saya kira kami bisa keroncongan bareng dengan iringan musik keroncong Ok_Ojo Dumeh. Kebayang deh bagaimana serunya! 



Benarlah. Perjalanan panjang dari kota Blitar menuju The Karanganyar, memakan waktu kurang lebih 30 menit. Selama itu, kami disuguhi pemandangan ala kampung yang asri. Persawahan nampak di kanan kiri jalan desa. Dalam hati saya berkata, kebun kopi The Karanganyar pastilah akan menjadi tempat menyenangkan bagi para wisatawan yang datang jauh dari kota besar, misal Surabaya atau Jakarta. Tempat yang sejuk membuat pikiran yang kusut jadi segar kembali. Apalagi, sebelum memasuki area kebun kopi, kami melewati Kampung Melon yang juga merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Blitar yang tengah dikembangkan. Bisa mampir ke Kampung Melon lalu lanjut ke kebun kopi pastilah menyenangkan. 

Memasuki gerbang The Karanganyar dan segera menuju tempat di mana kami akan melakukan pertunjukan. Di sana, berdiri beberapa bangunan seperti rumah-rumah dinas yang kukira sebagai tempat tinggal para pekerja kebun kopi. Di bangunan lain, ada sebuah caffe yang tampak ramai oleh pengunjung. Beberapa duduk di kursi luar dan beberapa duduk di dalam. Memasuki area kebun kopi The Karanganyar, kami seperti ditarik mundur ke masa lalu dan mengingat kembali perjalanan bangsa ini yang pernah di jajah oleh Belanda selama ratusan tahun.



Memang bangunan yang ada di sana adalah peninggalan Belanda. Meski sudah direnovasi pada beberapa bagian, namun kesan bangunan kuno dengan dinding-dinding tinggi dan jendela kayu dalam ukuran besar khas bangunan Belanda masih tak berubah. Di sinilah uniknya The karanganyar yang mulai beberapa bulan lalu, telah dibuka sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di kabupaten Blitar. Bagaimana tidak? Beberapa bangunan yang kuno, dipadukan dengan asesoris dan perabot caffe yang unik juga bar dengan nuansa Eropa, menjadikan tempat jauh lebih romantis. Nuansa budaya juga diusung dalam konsep wisata yang tentu saja menjadikan The Karanganyar ini lebih komplit sebagai tempat melepas lelah dan stress. Itulah kenapa, The Karanganyar menjanjikan sesuatu yang beda dari yang lain. Kami melihat ada wahana bermain anak-anak juga, yang praktis menjadi ajang selfie dan foto-foto para pengunjung di sana. Tapi, harapannya adalah, “jangan di rusak ya...”

Kami mulai perform pada pukul 14.00 WIB. memang terlambat dari jadwal sebelumnya. Namun setelah satu lagu selesai, kami melihat para pengunjung mulai menikmati alunan musik yang kami persembahkan. Bahkan Bapak Hery Nugroho dan Ibu, berkenan menyanyikan lagu dengan iringan musik keroncong. Jaaann... gayeng tenan!


Sebelum pulang, setelah selesai meliput bangunan utama ( akan saya tuliskan dalam artikel selanjutnya) saya sempat nembang campur sari diiringi Bapak-Bapak penduduk setempat yang tergabung dalam kelompok karawitan. Beberapa pengunjung tampak berjoget dan tertawa mengikuti irama gendang. Saya tahu bahwa setiap manusia memiliki masalah kehidupan yang terkadang pelik untuk dipecahkan. Namun di tempat ini, setidaknya kami menyatukan rasa syukur dan bahagia, karena memang hidup adalah medan perjuangan yang pada saat tertentu, kita harus meletakkannya sejenak, agar bisa menikmati irama kehidupan yang naik turun. Harapan saya, semoga kedepannya kebun kopi The Karanganyar menjadi pusat penelitian atau pun rujukan tentang ilmu budaya dan kearifan lokal. Selain juga menjadi tempat ngopi terbaik sepanjang zaman. Amin.(*)

Minggu, 04 September 2016

PEPAYA UNTUK KPK


Siapa yang tak kenal buah ini? Manis, legit, merah, menggoda, menawan, obat haus, obat sembelit dan sumber vitamin. Dia buah yang tak kenal musim. Bisa dimakan saat mentah pun kalau sudah matang. Pohon yang dari akar sampai daunnya mempunyai banyak manfaat. Ehem.. tau kan? Bener! Dia adalah si merah, pepaya.

Secara pribadi saya memang suka benget buah ini. Kebetulan di rumah ada dua pohon pepaya yang tumbuh subur dan turut serta menyumbang nilai gizi pada keluarga. Pun daunnya, yang berasa pahit namun baik untuk kesehatan itu sangat nikmat. Bisa dimasak urap, tumis atau dimakan dengan sambel pecel. Pohon yang mudah tumbuh walau tanpa perawatan ekstra, sangat bermanfaat bagi tubuh dan sekarang, pohon ini dikembangkan dengan sangat pintar oleh kepala desa Gogodeso, Bapak Chairul Anam bersama team yang terdiri dari beberapa relawan, donatur dan seluruh warga Gogodeso.



KPK di sini bukan Komisi Pemberantasan Korupsi namun Komunitas Pecinta Kesejukan. Maka dari itu, Pak Lurah menggandeng sahabatnya yang peduli dengan pengembangan desa wisata. Bapak Muhamad Dardak selaku penyedia bibit pepaya,melakukan penanaman pohon pepaya di sepanjang ruas jalan Desa Gogodeso.

Kenapa pepaya? Karena pepaya memiliki banyak manfaat, itu sudah pasti. Selanjutnya adalah karena pepaya tidak akan mengganggu jalan desa karena batangnya tidak akan tumbuh besar. Selain juga buahnya bisa dimanfaatkan oleh penduduk setempat yang membutuhkan. Nah, bagaimana bila hasil pepaya nanti melimpah? Pihak pengelola sudah menggandeng BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) untuk turut serta mengelola hasil panen. Pepaya bisa dijual dalam bentuk buah segar, bisa juga sebagai bahan saos pepaya, selai pepaya dan manisan. Bahkan terakhir, pepaya dapat dimanfaatkan sebagai puding. Menurut Papi, pengelola Bungdes, sampai saat ini bahkan sudah banyak pihak menghubungi beliau dan ingin memesan buah pepaya.

Pagi ini, sepanjang jalan desa Gogodeso sudah ditanam dengan serempak 700 bibit pohon dan masih akan bertambah sore hari. Program keren ini dinamakan ‘KATESISASI’ oleh para penggiat KPK. Seperti diketahui bahwa para penggerak dan pengelola adalah orang-orang yang mencintai kesejukan. Diharapkan dengan terlaksananya program ini kesejukan itu akan benar-benar didapat setelah sepanjang jalan desa penuh dengan warna hijau daun pepaya. Ada juga mitos yang mengatakan bahwa menanam pohon pepaya di depan rumah dapat menangkal pengaruh jahat yang dikirim oleh orang yang berniat tidak baik. Entah benar entah tidak, namun yang pasti bahwa buah pepaya itu enak! Hahaha



Telah disiapkan bibit pepaya dalam jumlah tak terbatas untuk memenuhi permintaan warga yang ingin menanam pohon pepaya secara gratis. Program ini sama sekali tidak memakai anggaran desa. Murni dilakukan oleh mereka yang peduli dengan kesejahteraan warga dan meningkatkan potensi desa. Diharapkan program ‘KATESISASI’ ini dapat meningkatkan kesejahteraan warga desa Gogodeso dan menambah nilai gizi. Setiap warga dapat menjual hasil panennya kepada BUMDES dengan harga yang baik demi terwujudnya visi misi desa Gogodeso yang damai dengan Tuhan, Menyatu Dengan Alam dan Damai dalam kehidupan.


Ada beberapa jenis bibit pohon pepaya yang di sediakan. Antara lain jenis Tailan dan Carica. Sebagai lumbung bibit pepaya adalah tanah seluas ¾ hektar yang disediakan pemerintah. Di sana akan dilakukan berbagai eksperimen tentang tehnik penanaman pohon pepaya, pengolahan pupuk organik, penyangkokan, pengawinan jenis-jenis pohon pepaya dan sebagainya. Dan yang terpenting dari semua program ‘KATESISASI’ ini adalah untuk memupuk jiwa dan semangat gotong royong antar penduduk. Bahwa bangsa ini lahir dari semangat gotong royong dan mereka ingin agar semangat itu tetap terjaga setiap minggunya dalam wujud kerja bakti, menanam, merawat dan memanen pepaya. Bahagia bersama, sukses berjamaah dan sejuk terasa. Bersama-sama mewujudkan Indonesia yang gemah ripah lohjinawi yang dimulai dari desa. Ah, sungguh mengikuti serangkaian acara pagi ini, saya jadi bangga menjadi bagian dari mereka dan bangga menjadi warga negara Indonesia. (*)


Sabtu, 03 September 2016

KUNCI BAHAGIA ITU: MENIKMATI HIDUP




Saya seperti kehabisan kata dalam menuliskan begitu besar baik sumber daya alam dan manusia di Desa Gogodeso kecamatan Kanigoro ini. Sebuah desa yang begitu sumringah dalam menyambut dan menghadapi hidup. Hal yang kusadari pada pagi ini saat saya akan melakukan wawancara dan pemotretan wilayah kebun desa dalam program baru Pak Choirul Anam dan team, yang artikelnya akan saya tulis setelah ini.  

Minggu 4 September 2016. Saat kami sarapan nasi pecel di warung Aulia, tiba-tiba ada sekelompok Bapak-Bapak yang berseragam selayaknya para pejuang tempo dulu. Ada juga yang memakai kaos bergambar wayang kulit, yang usianya kuperkirakan 50 sampai 70-an. Dengan menggunakan sepeda onta atau sepeda Hordok, mereka masuk ke dalam warung dan memesan makanan dengan wajah ceria dan canda tawa. 

Hal yang menarik perhatian saya saat itu adalah dari segi usia mereka juga sepedanya tentu saja. Sepeda yang nyentrik, lengkap dengan atribut kuno yang masih terawat apik. Seperti tas kulit yang digantung pada bagian boncengan di belakang. Seperti tempat surat Pak Pos jaman dulu. Iseng saya tanyakan apakah mereka memiliki komunitas dan langsung diiyakan oleh salah satu peserta. “Nama komunitas kami adalah Komunitas Sepeda Ontel,” katanya sembari menyeruput kopi hitam. 

Anggotanya lebih kurang 80 orang yang semuanya mengoleksi sepeda onta. Mereka juga sangat aktif mengikuti berbagai karnaval yang banyak digelar selama bulan Agustus kemarin. Dan agenda rutin mereka, bersepeda setiap hari Minggu pagi pukul 06.00 di wilayah Blitar. Jarak yang di tempuh cukup jauh. Bahkan sampai ke desa Penataran, Nlegok. Padahal rumah mereka ada di Gogodeso Kanigoro.

Selain bersepeda, mereka juga sering berkumpul untuk mengadakan acara musik. Kadang mengundang grup musik keroncong kadang pula orgen tunggal. Kegiatan rutinan ini dilaksanakan sebagai sarana olah raga juga sebagai cara untuk menyambung tali silaturahmi antar sahabat tua, juga untuk berbagi segala informasi. Hmmm... pantas saja mereka tampak bahagia, pikir saya.

Mendapati orang-orang tua yang masih semangat dan optimis dalam menghadapi hidup, saya memetik sebuah pelajaran berharga. Salah satunya adalah: kunci bahagia itu, menikmati hidup! Hidup selaras, seimbang dengan alam dan menempatkan ajaran Tuhan sebagai panutan. Menjalani hidup dengan kewajaran yang terpola dalam ajaran adat budaya  dan kebersamaan.

Senang sekali melihat mereka masih guyub rukun di usia senja. Senyum selalu mengiring setiap kata-kata. Jiwa yang damai terpancar dari matanya. Surga dunia telah mereka dapatkan, dan kelak surga akhirat menanti dengan gemilang. Karena saya yakin, surga itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang bahagia dalam segala kesyukuran. Allahuma amin. (*)

Kamis, 01 September 2016

PERKOSAAN DALAM RUMAH TANGGA




Bismillahirrahmanirrakhim.

Sebenarnya sejak lama saya ingin menuliskan hal ini namun belum cukup keberanian untuk mengunggahnya ke publik. Selama ini saya hanya mbatin, atas apa yang saya tahu soal dilematika perempuan dalam rumah tangga. Namun setelah seharian berada dalam seminar yang bertajuk Reproduksi Perempuan dan Kemerdekaannya di aula kelurahan desa Gogodeso. Acara diadakan oleh SAPUAN atau Sahabat Perempuan dan Anak, UNISBA dan pemerintah desa Gogodeso yang dikepalai oleh Bapak Chairul Anam. Sepulang dari sana, timbul keberanian itu. Ternyata apa yang saya khawatirkan selama ini juga telah menjadi masalah yang sangat serius di masyarakat kita.

Secara umum, arti merdeka adalah bebas. Seperti Indonesia yang bebas dari cengkeraman penjajah setelah 360 tahun. Di mana sejak 17 Agustus, Indonesia meski harus jatuh bangun, bisa dan boleh menentukan arah pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan bangsa sing. Demikian juga seorang perempuan. Meski sudah berumah tangga, hendaknya kemerdekaan bagi perempuan harus diberikan. 

Pada banyak kasus, perempuan Indonesia cenderung belum merdeka. Perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua oleh masyarakat yang sudah mengajarkan pola pikir turun temurun lalu diadopsi begitu saja sehingga menjadi kebiasaan pada masyarakat luas. Perempuan cenderung nrimo pada kenyataan pahit dalam ruang lingkup kehidupan pribadinya. Misal: lelaki merokok adalah hal lumrah namun perempuan merokok pasti akan dicap sebagai perempuan nakal dan sebagainya. Atau, bila lelaki bisa pergi dan pulang malam dengan tanpa beban, maka hal sebaliknya berlaku bagi perempuan. Blita sepasang suami istri sudah tak mau menambah anak lagi, maka perempuanlah yang di KB. Ada banyak sikap diskriminatif terhadap perempuan di masyarakat kita. Sehingga perempuan tidak memiliki banyak ruang untruk berkarya, berkarier bahkan sekedar berbicara mengeluarkan segala uneg-uneg yang dia miliki. Dan yang lebih parah lagi, perempuan yang menjadi korban perkosaan, bukan hanya terjadi pada mereka yang belum bersuami namun juga mereka yang sudah terbelenggu dalam status perkawinan dan dilakukan oleh pasangannya sendiri.

Kenapa saya katakan perkosaan dalam perkawinan? Bukankah sudah menjadi halal apabila seorang perempuan berhubungan badan dengan suaminya? Jawabnya adalah iya! Mereka halal dalam hukum agama. Namun, berapa banyak lelaki yang peduli soal kesiapan dan kemauan perempuan dalam menjalani hubungan itu?

Perlu kita pahami bahwa dalam sebuah hubungan intim, diperlukan adanya kesepakatan bersama antara pilak lelaki dan perempuan. bahkan adegan romantis yang dilakukan dengan penuh kasih sayang adalah hal wajib sebelum melakukan sebuah hubungan. Pun setelah selesai, ada ungkapan terima kasih yang disampaikan kedua belah pihak karena telah saling mengisi satu sama lain. Dan hal demikian masih belum bisa dirasakan oleh seluruh perempuan Indonesia yang cenderung nrimo opo jare wong lanang! Suara dan keluhan perempuan Indonesia kepada suaminya sendiri, tentang bagaimana dia membantu perekonomian, mengerjakan tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak masih dianggap hal paling biasa dalam rumah tangga yang TIDAK perlu mendapat perhatian. 

Demikian juga dalam urusan kasur, perempuan yang dengan terus terang meminta kepada suaminya masih dianggap hal tabu. Namun bila pihak suami yang menginginkan, maka sudah menjadi sebuah keharusan untuk melayani dengan tanpa peduli apakah kedua belah pihak merasa senang. Lalu apa nanamanya hal demikian kalau bukan perkosaan?

Dari data terakhir, menurut Bu Yenny, salah satu pembicara dalam seminar tersebut mengatakan bahwa ibu rumah tangga yang yang justru tak pernah keluar rumah-lah yang paling banyak mengidap penyakit HIV. Ini dikarenakan kurang adanya kesadaran dari pihak laki-laki untuk bisa menahan diri agar tidak menggauili istrinya ketika dia sudah positif terjangkit virus HIV. Seharusnya perempuan yang masih bekerja, mendidik anak, juga mengurus anggota keluarga lain tidak ditambahi dengan masalah virus yang malah akan memperburuk keadaan dalam rumah tangga. Bila seorang perempuan jatuh sakit, maka runtuhlah tiang dalam rumah tangga tersebut. Karena suami sakit dan sudah tidak ada lagi orang yang bekerja karena sang istri juga sakit dan anak-anak akan terlantar bahkan kurang perhatian. Kemudian timbul masalah baru dari sang anak yang tumbuh nakal karena kurang kasih sayang, pergaulan bebas, narkoba dan kenakalan remaja lainnya. 

Perempuan adalah ibu! Dan tiada tempat ternyaman di dunia ini selain pelukan ibu. Sudah selayaknya perempuan dimuliakan dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis, perempuan HARUS bahagia. Karena perempuan yang bahagia adalah perempuan yang penuh senyum dan rileks. Dalam artian dia akan jauh lebih bisa menjalankan fungsinya sebagai seorang istri dan ibu daripada perempuan yang stres dan tertekan. Perempuan yang bahagia adalah perempuan yang selalu tersenyum dan dengan senyumnya itu, dia akan menghadirkan kedamaian di dalam rumah tangga mereka. 

Betapa besar pengaruh perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Dimulai dari sebuah keluarga, keindahan ini akan menular kepada anak-anak yang tumbuh dengan bahagia. Anak yang bahagia cenderung lebih cerdas, aktif, kreatif dan kuat secara mental dan personality. Dan anak yang kuat akan mampu membentengi dirinya sendiri dari pengaruh buruk pergaulan di luar rumah. Anak yang tumbuh dengan semestinya cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi persaingan dalam dunia yang semakin sempit. Sangat berbeda dengan anak-anak yang tumbuh sendiri dan dipaksa dewasa sebelum waktunya. Dipaksa mengerti keadaan orang tuanya dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Untuk itu, keharmonisan dalam rumah tangga itu PENTING!

Banyak kasus ditemukan pada anak-anak yang orang tua mengira, sudah disekolahkan di pondok dengan ilmu agama yang baik namun masih terjangkit virus HIV karena homo. Ini disebabkan kurang adanya komunikasi antara anak dan orang tua, dan sejauh mana kedekatan hubungan mereka. Banyak yang mengira, dengan menitipkan anak ke pondok maka tugas orang tua selesai. Padahal belum! Sekolah hanyalah sarana yang diberikan orang tua agar anaknya belajar ilmu namun kedekatan emosional, terlebih lagi antara ibu dan anak masih sangat diperlukan. Hal ini untuk menjaga kejiwaan sang anak agar tidak merasa dikucilkan dari lingkungan keluarga dan perhatian yang masih utuh tentunya. 

Perempuan adalah matahari. Namun sudah sadarkah kita tentang pentingnya matahari itu hadir di rumah kita? tak banyak yang tahu tentang hal ini. Masih banyak perempuan yang dijadikan alat sex gratis hanya dengan satu kata SAH dari penghulu. Namun kebutuhan batin perempuan masih sering diabaikan. Coba kita lihat pada lingkungan sekitar kita atau bertanya pada diri kita sendiri, apakah benar perempuan itu bahagia dalam lingkup rumah tangga? Ataukah sebuah luka tersembunyi di sana dan dibalut dengan senyum dan kata sabar? Maka ini menjadi PR untuk kita semua dalam mensosialisasikan kemerdekaan bagi setiap perempuan. perempuan yang merdeka adalah perempuan yang tidak ‘diperkosa’, bukan hanya tubuhnya namun juga jiwa, ide, bakat, minat dan semangatnya. Perempuan merdeka adalah perempuan yang ‘nyaman dan manusiawi’ dalam menjalani hidupnya. Untuk itu perempuan harus cerdas. Perempuan harus berwawasan luas. Dan saya menyambut baik program sekolah perempuan yang akan segera di buka di Desa Gogodeso. Terima kasih Pak Lurah dan team. Salam bahagia. Salam sayang. (*)