Bapak Susanta, mengaku menyukai keroncong mulai tahun 1983.
Dengan bergabung dengan para sesepuh koroncong di Blitar diantaranya: Bapak
Yahuri dan Pak Gio, di mana mereka memiliki grup keroncong bernama Keroncong
Remaja. Pada saat itu Bapak Susanta berprofesi sebagai Guru di SMPN Kesamben 1.
Beliau bukan pemain keroncong namun hanya penikmat dan selalu mengikuti
kegiatan mereka kemana pun mereka tampil dan saat latihan.
Berkiprah dalam belantika musik keroncong merupakan
panggilan jiwa dalam menyukai dan mencintai musik satu ini sampai bertekat
untuk melestarikannya. Akhirnya, pada tahun 1987, Bapak Susanta mulai
mendirikan grup keroncong sendiri dengan personil anak-anak muda di kampung
Karanglo. Grup keroncong tanpa nama, hanya sebagai pengisi waktu disaat luang
dengan ke tujuh personil yang didukung penuh oleh Pak Gio dan Pak Muim sebagai
mentor.
Sejak tahun itu pula, Bapak Susanta mulai menabung alat
musik keroncong berupa cuk, cak, cello, bass dan biola. Namun grup keroncong besutannya
tidak bertahan lama. Hanya sekitar 3 tahun saja grupitu berdiri. Ini karena
banyak personil yang kuliah ke luar kota dan bekerja diberbagai instansi, lalu
fakum hingga beberapa tahun. Baru sekitar tahun 2006, muncul kembali keinginan
untuk mendirikan grup keroncong. Berangkat dari keprihatinan karena musik
keroncong yang pernah jaya di masa lalu, kian kemari semakin surut peminatnya.
Bapak Susanta kembali tergugah untuk nguri-uri budaya lokal
dengan kembali mengumpulkan personil lama dari grup keroncong Bina Mitra.
Diantaranya adalah Bapak Pendi, Bapak Gio, Pak Yuse, dan kawan-kanan lalu mulai membeli alat-alat baru untuk
menunjang segala aktifitas. Kemudian mereka membentuk grup baru dengan nama
Orkes Keroncong Nusantara.
Nama Orkes Keroncong Nusantara dipilih karena musik
keroncong yang mereka bangun bertujuan untuk mempopulerkan lagu-lagu nusantara.
Namun sayang, setelah grup musik yang mulai naik daun dan sudah sering tampil
di mana-mana baik dalam kota pun luar kota (Hotel Tugu Malang dan Blitar) juga
acara-acara resepsi dan hajatan, hanya berjalan dua tahun saja.
Bapak Susanta sempat kecewa karena grup keroncong yang
beliau besut akhirnya gugur karena masalah intern. Tak lain dan tak bukan
hanyalah karena niat awal para personil dalam berkesenian tidak jujur. Bapak
Susanta menuturkan bahwa dalam berkesnian itu tidak cukup hanya pandai bermain
musik namun kemurnian jiwa harus tetap dijaga. Karena seni adalah nama lain
dari keindahan dan keindahan akan tampak bila didasari niat yang jujur, tulus
dan iklas hanya karena ingin mengembangkan kesenian lokal, tanpa embel-embel
kepentingan pribadi. Bermain musik bukan hanya mampu memetik dawai namun
hakikatnya adalah keselarasan dalam
bermusik juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup yang selaras,
akan menghasilkan irama yang harmonis. Sama dengan keselarasan dalam bermain
musik, bila tidak tercapai keselarasan nada, mustahil akan hadir sebuah irama
yang bisa dinikmati.
Jatuh bangun dalam memajukan musik keroncong di kotanya,
Bapak Susanta tidak pernah merasa kapok dengan pengalaman pahit masa lalu.
Beriring waktu, beliau menemukan anak-anak jalanan (pengamen) . Para musisi
jalanan itu datang untuk dibina secara khusus oleh Bapak Susanta dalam hal
bermain musik keroncong. Dengan sukarela, Bapak Susanta menerima mereka dan
mendatangkan seorang guru pembimbing untuk melatih mereka hingga 6 bulan
lamanya. Grup baru mereka lahir dengan nama Orkes Keroncong Ojo Dumeh dengan
ketua yang ditunjuk langsung oleh Bapak Susanta bernama Joko Susanto. Namun
badai tak pernah bosan datang menggempur. Telah mengalami pasang surut dan
bongkar pasang personil, kini Orkes Keroncong yang diketuai langsung oleh
beliau, kini bernama Orkes Keroncong Yudhistira yang beralamat di Sanggar
Yudhistira, jalan Timor nomer 27 Karanglo. Kecamatan Sananwetan, Blitar.
Bapak Susanta bisa teguh dalam bermusik keroncong tidaklah
sendirian. Dalam jatuh bangunnya, beliau didampingi sahabat sejatinya bernama
Santoso Yuwono yang selalu ada dalam pengelolaan musik keroncong sejak awal
sampai sekarang. Segala kesulitan dalam seluruh kegiatan latihan, merombak
tatanan anggota, saat tanggapan dan sebagainya, beliau yang juga dosen
Universitas Negeri Merdeka Malang selalu memberikan masukan yang bermakna.
Harapan yang beliau sampaikan kepada para personil baru yang
merupakan gabungan dari musisi jalalan, semoga kelak mereka akan menjadi musisi
terkenal namun tetap menjaga kemurnian dalam berkesenian. Meski berawal dari
jalanan, semoga mereka tidak memiliki mental kacangan. Sukses dan dapat membawa
musik keroncong merebut hati penggemarnya dalam bersaing di belantika musik
Indonesia. (*)
