Sabtu, 04 Januari 2014

SAYAP KUPU-KUPU



Tuhan telah memberi perintah melalui rasa yang Ia kirim padaku. Rasanya mirip seperti degub yang bergema di ruang-ruang tubuhku. Reflek,aku mulai menggerakkan seluruh anggota tubuhku. Sebuah anugrah terindah yang telah Tuhan berikan padaku. Kuyakinkan diriku sendiri, bahwa aku akan tampak jauh lebih cantik dengan penampilan yang baru. Warnanya hitam mulus dengan bercak-barcak putih diatasnya. Bulu-bulu yang dulu sangat dibenci setiap insan, kini berubah menjadi sayap yang indah rupawan. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah, hiks... mereka, pasti akan memandangku dengan penuh kekaguman. Lalu aku akan menggodanya, dengan terbang keatas awan. Memanjakan diriku dengan bermandi sinar mentari. Mencumbui angin yang kupermainkan dengan kepakan sayap. Menukik landai lalu hingap pada kelopak bebunga yang menguarkan semerbak mewangi. Setelah itu, dengan sesuka hati, akan kuteguk madu-madu suci yang tersembunyi dibalik rautnya yang ayu. Ah... betapa Tuhan menyayangiku. Setelah sekian lama, aku bertapa dalam ruang gelap, pengap dan kedap suara. Siang dan malam, hanya larut dalam untaian doa-doa. Sebagai proses penyempurnaan,dari rentetan syarat bermetamorfosa.

Kuhitung tiga kali dalam hati. Sebelum kukumpulkan keberanian dalam diri. Bismillah, aku mengucap puja puji. Semoga kelahiranku hari ini,akan semakin meramaikan warna-warni bumi pertiwi. Sedikit sakit, namun aku harus tetap berusaha. Karena kekuatan otot-otot ditubuhku kelak, ditentukan saat ini. Satu-persatu, panel-panel dalam setiap sendi mulai bergerak aktif, merengsek keluar, perlahan tapi pasti, dari sempitnya ruang kepompong, tempatku bersemedi selama ini.

Hembus angin menyapa ujung kepalaku untuk pertama kali. Aku geli. Tapi aku tersenyum, tanda ada kegembiraan meluap-luap dalam hati. Lalu, kedua kaki depanku mulai mencuat dari jerat. Ah.. aku makin semangat. Kini, tubuhku sudah separuh berada diluar kepompong. Nyeri itu terasa lagi. Namun aku tak peduli. Aku harus fokus, dan memusatkan tenaga yang aku punya, untuk segera membebeskan diri. 

Yah! Aku berhasil. Trimakasih Tuhan, akhirnya aku bebas. Walau tubuhku masih lemas dan belum kuat untuk terbang melayang, tapi aku harus sabar. Kurasa, aku hanya perlu beristirahat sebentar. Memulihkan tenaga setelah terkuras habis untuk berjuang. Sambil sesekali, aku melatih otot-otot sayapku agar semakin kuat untuk melesat cepat, dan bercengkerama dengan kebebasan diatas sana. 

Sekali dua aku menggerak-gerakkan sayap. Masih sedikit lemah. Tapi aku berusaha kuat. Dengan senyum yang terus tersungging, aku tak lelah untuk terus mencoba dan mencoba lagi. Tapi, tiba-tiba saja antena di kepalaku bergerak-gerak. Memberi sinyal akan adanya sesuatu yang mendekat. Lamat-lamat, telingaku menangkap sebuah geraman yang menakutkan. Ya Tuhaann.. siapakah gerangan? Makluk itu begitu besar dan menyeramkan. Warna bulunya kekuning-kuningan. Taring-taringnya berkilat kilat diantara erangan. Kuku-kuku tajam itu menggaruk-garuk lantai menakuti. Dan lihatlah itu? Pandang matanya berkilauan. Menatapku tajam, seolah tak hendak dilepaskan. 

"Tolooonnggg.. Toloonnggg...." 

Aku berteriak diantara isak tangisan. Tapi tiada satupun manusia yang peduli denganku. Sungguh, aku ketakutan. Tubuhku gemetaran. Sebisa mungkin aku mengerahkan tenaga untuk menghindar, dan ketika sayap-sayapku mulai terbentang, tiba-tiba saja kurasakan sebuah terkaman. Aku menggelepar kesakitan. Tubuh lelah dan lemahku diinjak oleh makluk mengerikan. Semakin aku berontak dan meronta, semakin dia mempermainkan cakar-cakarnya yang tajam. Mengoyakku dengan kejam tanpa perasaan. 

Aku meringis-ringis menahan sakit. Darah bercucuran dari bagian sayapku yang patah. Kulihat makluk itu tersenyum kegirangan. Lalu berlalu, sambil menyunggingkan sebuah senyum sinis. Kukira, dia telah gembira karena melihatku tak berdaya. Dari kejauhan, aku masih mendengar gelegar tawanya. 

"Meeooonngggg.." begitulah dia bersendawa. Lalu melompat cepat, melampaui pagar-pagar taman yang terpaku menyaksikan kemalanganku. Tanpa peduli lagi padaku yang mengaduh menahan pilu.
Sebelah sayapku telah patah. Tergeletak pada ubin yang dihangatkan matahari. Aku memandangnya sedih. Oh, kenapa, ini mesti terjadi padak? Padahal, sedetik lalu, aku begitu mensyukuri anugerah ini. Tapi,  semua menjadi tidak sempurna begitu saja. Makluk itu, dengan ganas dan kejam, telah membuatnya menjadi serpihan tak bermutu.

Kini, aku hanya biasa melompat. Atau bila lelah aku melompat, maka aku akan merambat. Tapi aku adalah kupu-kupu. Yang ditakdirkan Tuhan untuk terbang ke awan. Bukan merangkak seperti saat aku menjadi ulat bulu.Dalam keletihan yang mengurat nadi, aku mencoba mensyukuri apa yang telah terjadi. Agar aku tidak semakin terpuruk dalam mengemban takdir ini. Sayapku mungkin telah kehilangan arti. Namun aku masih dikaruniai kaki. Seberapapun kuat aku akan bertahan nanti. Dan  yang pasti, aku tidak akan menyia-nyiakan nyawa yang telah Tuhan titipkan padaku.

Aku sadar, seekor kupu-kupu yang telah sayap patah, hanya akan menjadi makluk yang paling lemah. Sebentar lagi, mungkin akan ada makluk lain, atau kaki-kaki manusia yang akan menginjakku semaumaunya. Namun, kiranya aku tak menyerah begitu saja. Aku tetap akan melompat, mencari selamat. Atau setidaknya, aku akan berusaha
 meneguk madu pada ranum bunga didepan sana. Agar bila saat ajalku tiba, aku sudah punya bahan untuk ku ceritakan. Pada teman-temanku, di surga sana. (*)     



2 komentar:

  1. ,.kalau sayapmu dari kertas ada 'uhu',.kalau sayapmu dari gabus ada glue gun dg lem khususnya,.kalau dari keramik tentu 'alteco' jd penyambungnya,.kalau dari darah dan daging,.oo,.tidak tahu aku cara menyambungnya,..masih untung kucingnya baik,.krn biasanya dia suka bermain-main dg calon mangsanya,..baru stlh benar2 puas di-aemmm,...

    BalasHapus