RUMAH MERTUA
By. Laras Wati
Beratap genting
yang retak. Dindingnya bamboo berlubang. Tanpa ada lemari sebagai tempat
menaruh pakaian. Bila ada tamu, kami duduk diatas bangku kayu yang bagian
kakinya sudah di revisi puluhan kali. Kadang aku menyuguhkan kopi. Bila
lagi tak punya gula, maka akan
kusuguhkan air kendhi. Untunglah kopi bagi kami tak usah beli. Cukup memetiknya
dari pohon kopi yang ditanam pada sebilah tanah yang tersisa dibagian belakang
rumah mertua. Itupun kami harus adu cepat dengan kawanan luwak yang sering kali
nakal, mencuri buah kopi kami yang telah ranum. Namun tak apalah, setidaknya,
berada dibawah pohon kopi ini, aku menemukan sedikit penghiburan dari luka lara
batin yang terus datang bertubi-tubi, dan selalu kami obati dengan kata, sabar.
Dibawah pohon
kopi, anganku sering melesat menembus ruang hayal. Mungkin karena aroma kembang
kopi yang wangi. Setidaknya lebih wangi dari bau dapur atau kasur tempat kami
merebahkan diri. Walau sudah berkali-kali di jemur saat matahari meninggi. Namun,
setiap kali hujan datang mengguyur bumi, saat itulah kasur kami akan sembab
kembali. Terpaksa, kami harus menutupnya dengan plastic bekas pembungkus TV.
Menghayal, telah
menjadi hiburan yang menyenangkan bagiku. Dalam dunia hayal, aku dapat menjelma
menjadi peri, bidadari, kupu-kupu, bahkan pernah sekali, aku menghayal menjadi
seorang Diva Indonesia, Syahrini. Bukan karena wajahku mirip dengannya, namun
karena nama kami yang hampir sama. Hanya beda pada huruf Y satelah S. namaku,
Sahrini. Begitulah caraku menghibur diri. Dengan memainkan pucuk-pucuk kembang
kopi, aku bernyanyi Tralala Trilili Senangnya Basa Basi atau lagu lama brjudul
Burung Nuri.
Tak usaahlah kau
ingin tau lirik lagu Burung Nuri itu. Kali ini, sungguh aku tak berniat untuk
menceritakan padamu. Karena hari ini aku sedang berduka. Tapi aku juga bahagia.
Entahlah. Sulit sekali untuk menjelaskan suasana hatiku saat ini. Nano nano,
alias aneka rasa.
Aku bahagia,
karena saat ini, di dalam rahimku tengah tumbuh seorang janin. Baru tiga bulan
lamanya. Semalam, di rumah mertua yang kubayangkan mirip bentuk tubuh penari
Bali itu, bagian pinggul menjorok ke kiri dan atasnya menjorok ke kanan, kami
mengadakan syukuran ketiga bulanan. Setelah tamu-tamu pulang dengan
membawa bingkisan nasi seadanya, tiba-tiba kudapati suamiku menangis.
Kutanya kenapa. Dan
jawabnya sangat memilukan dada, “bagaimana bila anak kita nanti kehujanan pada
tengah malam?” begitu katanya. Padaku yang diam-diam, turut menghapus tetes air
mata yang berlinangan dipipiku. “Berdoalah untuk sebuah keajaiban.” Jawabku spontan.
Entah darimana aku mendapatkan jawaban yang kukira cukup cerdas itu. Keajaiban,
tepat seperti hayalanku saat menjadi seorang peri, hingga aku dapat menyulap
gubuk kami menjadi istana kaca.
Aku tahu aku
sedang berbohong padanya. Tepatnya aku sedang omong kosong. Doa bagi orang
seperti kami, tak hanya terucap saat kami bersimpuh mengahadap Illahi. Doa bagi
kami adalaah santapan sehari-hari. Pagi siang sore malam dahkan hadir disetiap
nadi. Tapi bagaimana lagi? Sawah yang kami garap dengan bercucur keringat, kini
tak dapat menjadi sumber penghidupan yang mencukupi. Harrga pupukmelambung
tinggi. Anehnya lagi, hama tanaman tak mempan oleh racun serangga atau obat
apapun namanya. Seolah dia terus ada dan ada. Beranakpunak begitu cepat, hingga
munul begitu saja seperti sumber mata air yang menyembul dari dalam bumi. Aneh tapi
nyata.bahkan kini, anak tikus sudah sebesar kucing. Suatu kenyataan pahit yang,
yah… lagi-lagi harus kami terima dengan lapang dada.
“ Cobalah
berkunjung kerumah Pak Lurah, Mas. Bukankah waktu itu rumah kita sudah didata. Untuk
mendapatkan bantuan pemerintah, dalam program bedah rumah.”
Aku mmencoba
tersenyum. Senyum termanis yang aku miliki. Namun senyumku segera luruh saat
kudengar pernyataan suami.
“Kata Pak Lurah,
mereka sedang sibuk. Program itu baru akan terlaksana setelah PILKADA. Sesuatu yang
mereka namakan, pesta rakyat!”
Mendengar kata-katanya
itu, sungguh kepalaku menjadi kian pusing. Bahkan kini bertambah dengan debaran
jantungku yang berdegub kencang. Pesta rakyak? Pesta macam apa? Sungguh aku tak
paham dengan apa yang dipikirkan para pembesar Negara.
Enam bulan lagi
aku akan melahirkan. Selama itu pula aku
menguat-nguatkan hati dan pikiran. ‘Tirakat’ begitu aku menamakan. Agar semua berjalan lancar dan normal. Namun,
pagi ini lagi-lagi jantungku dikejutkan oleh berita dari seorang bidan. Yang bertugas
pada Puskesmas tempat aku memeriksaklan kandungan secara gratisan. “Bayimu
kembar. Dan sepertinya terdapat kelainan.
Mungkin kau harus operasi dalam menjalani persalinan!”
Seketika itu
pula lutut dan persendianku bergetar. Kakiku lemas bagai tak bertulang. Kurangkul
pundak suami sebagai pegangan. Sekilas, bayangan rumah mertua yang kami
tempati,berlalu lalang dipelupuk mataku yang mulai buram oleh genangan. (*)

Keindahan...selalu melekat dengan kesederhanaan .....dan kesediaan yang ada.....Mantappp!!!
BalasHapusTerimakasih sudah mampir ke beranda blog saya mas
BalasHapussalam :)