Kamis, 09 Januari 2014

RUMAH MERTUA



RUMAH MERTUA
By. Laras Wati


                                                        
Beratap genting yang retak. Dindingnya bamboo berlubang. Tanpa ada lemari sebagai tempat menaruh pakaian. Bila ada tamu, kami duduk diatas bangku kayu yang bagian kakinya sudah di revisi puluhan kali. Kadang aku menyuguhkan kopi. Bila lagi  tak punya gula, maka akan kusuguhkan air kendhi. Untunglah kopi bagi kami tak usah beli. Cukup memetiknya dari pohon kopi yang ditanam pada sebilah tanah yang tersisa dibagian belakang rumah mertua. Itupun kami harus adu cepat dengan kawanan luwak yang sering kali nakal, mencuri buah kopi kami yang telah ranum. Namun tak apalah, setidaknya, berada dibawah pohon kopi ini, aku menemukan sedikit penghiburan dari luka lara batin yang terus datang bertubi-tubi, dan selalu kami obati dengan kata, sabar.

Dibawah pohon kopi, anganku sering melesat menembus ruang hayal. Mungkin karena aroma kembang kopi yang wangi. Setidaknya lebih wangi dari bau dapur atau kasur tempat kami merebahkan diri. Walau sudah berkali-kali di jemur saat matahari meninggi. Namun, setiap kali hujan datang mengguyur bumi, saat itulah kasur kami akan sembab kembali. Terpaksa, kami harus menutupnya dengan plastic bekas pembungkus TV.

Menghayal, telah menjadi hiburan yang menyenangkan bagiku. Dalam dunia hayal, aku dapat menjelma menjadi peri, bidadari, kupu-kupu, bahkan pernah sekali, aku menghayal menjadi seorang Diva Indonesia, Syahrini. Bukan karena wajahku mirip dengannya, namun karena nama kami yang hampir sama. Hanya beda pada huruf Y satelah S. namaku, Sahrini. Begitulah caraku menghibur diri. Dengan memainkan pucuk-pucuk kembang kopi, aku bernyanyi Tralala Trilili Senangnya Basa Basi atau lagu lama brjudul Burung Nuri.

Tak usaahlah kau ingin tau lirik lagu Burung Nuri itu. Kali ini, sungguh aku tak berniat untuk menceritakan padamu. Karena hari ini aku sedang berduka. Tapi aku juga bahagia. Entahlah. Sulit sekali untuk menjelaskan suasana hatiku saat ini. Nano nano, alias aneka rasa.

Aku bahagia, karena saat ini, di dalam rahimku tengah tumbuh seorang janin. Baru tiga bulan lamanya. Semalam, di rumah mertua yang kubayangkan mirip bentuk tubuh penari Bali itu, bagian pinggul menjorok ke kiri dan atasnya menjorok ke kanan, kami mengadakan syukuran ketiga bulanan. Setelah tamu-tamu pulang dengan membawa bingkisan nasi seadanya, tiba-tiba kudapati suamiku menangis.

Kutanya kenapa. Dan jawabnya sangat memilukan dada, “bagaimana bila anak kita nanti kehujanan pada tengah malam?” begitu katanya. Padaku yang diam-diam, turut menghapus tetes air mata yang berlinangan dipipiku. “Berdoalah untuk sebuah keajaiban.” Jawabku spontan. Entah darimana aku mendapatkan jawaban yang kukira cukup cerdas itu. Keajaiban, tepat seperti hayalanku saat menjadi seorang peri, hingga aku dapat menyulap gubuk kami menjadi istana kaca.

Aku tahu aku sedang berbohong padanya. Tepatnya aku sedang omong kosong. Doa bagi orang seperti kami, tak hanya terucap saat kami bersimpuh mengahadap Illahi. Doa bagi kami adalaah santapan sehari-hari. Pagi siang sore malam dahkan hadir disetiap nadi. Tapi bagaimana lagi? Sawah yang kami garap dengan bercucur keringat, kini tak dapat menjadi sumber penghidupan yang mencukupi. Harrga pupukmelambung tinggi. Anehnya lagi, hama tanaman tak mempan oleh racun serangga atau obat apapun namanya. Seolah dia terus ada dan ada. Beranakpunak begitu cepat, hingga munul begitu saja seperti sumber mata air yang menyembul dari dalam bumi. Aneh tapi nyata.bahkan kini, anak tikus sudah sebesar kucing. Suatu kenyataan pahit yang, yah… lagi-lagi harus kami terima dengan lapang dada.

“ Cobalah berkunjung kerumah Pak Lurah, Mas. Bukankah waktu itu rumah kita sudah didata. Untuk mendapatkan bantuan pemerintah, dalam program bedah rumah.”

Aku mmencoba tersenyum. Senyum termanis yang aku miliki. Namun senyumku segera luruh saat kudengar pernyataan suami.

“Kata Pak Lurah, mereka sedang sibuk. Program itu baru akan terlaksana setelah PILKADA. Sesuatu yang mereka namakan, pesta rakyat!”

Mendengar kata-katanya itu, sungguh kepalaku menjadi kian pusing. Bahkan kini bertambah dengan debaran jantungku yang berdegub kencang. Pesta rakyak? Pesta macam apa? Sungguh aku tak paham dengan apa yang dipikirkan para pembesar Negara.

Enam bulan lagi aku akan melahirkan. Selama itu pula aku  menguat-nguatkan hati dan pikiran. ‘Tirakat’ begitu aku menamakan.  Agar semua berjalan lancar dan normal. Namun, pagi ini lagi-lagi jantungku dikejutkan oleh berita dari seorang bidan. Yang bertugas pada Puskesmas tempat aku memeriksaklan kandungan secara gratisan. “Bayimu kembar. Dan sepertinya terdapat kelainan.  Mungkin kau harus operasi dalam menjalani persalinan!”

Seketika itu pula lutut dan persendianku bergetar. Kakiku lemas bagai tak bertulang. Kurangkul pundak suami sebagai pegangan. Sekilas, bayangan rumah mertua yang kami tempati,berlalu lalang dipelupuk mataku yang mulai buram oleh genangan. (*)


2 komentar:

  1. Keindahan...selalu melekat dengan kesederhanaan .....dan kesediaan yang ada.....Mantappp!!!

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mampir ke beranda blog saya mas
    salam :)

    BalasHapus