NYANYIAN
SI NURI
By.
Laras Wati
Terbang meninggi
menyusuri lembah dan gunung sunyi. Mencari sedikit damai bagi sebuah hati. Yang
telah sekian lama di rundung dahaga. Kehilangan tempat di telapak semesta,
untuk bernyanyi, melagukan tembang-tembang surgawi.
“Akan kemana
lagi kita mencari? Aku telah lelah. Sangat lelah.”
“Bertahanlah.
Demi Tuhan, bersabarlah.”
“Kita telah
terbang terlalu tinggi. Terlalu lama.”
“Lawan rasa
lelahmu. Kita tidak akan mati disini. Ayo, kepakkan kembali sayapmu!”
“Aku kehausan,
Ibu.”
Nuri menunduk
lesu. Mendengar ratap anaknya yang pilu, sungguh, membuat hatinya kian beku.
“Akan kuambilkan
air untukmu. Sembunyikan dirimu dibalik perdu. Dan tunggu aku.”
Nuri terbang
melandai menuruni menara. Di bawah sana, ia melihat kemilau air bak telaga. Warnanya
biru muda. Di sisi kanan kirinya, manusia-manusia setengah telanjang saling bercengkrama. Menceburkan dirinya lalu
berenang kesana kemari selayaknya ikan pari-pari.
Ibu Nuri
melangkah mengendap-endap. Pelan. Nyaris tak terdengar suara tapak kaki
kecilnya. Dia ingin mencuri air. Sedikit saja. Untuk disimpan dalam tembolok, lalu
akan ia bawa terbang pulang ke atas menara, untuk dilolohkan pada kedua buah
hatinya yang dahaga.
Buuihh…
Uhuk… uhuk..
“Air apa ini?”
gumam Nuri dalam hati. Rasanya aneh.
Seperti ada bau kaporit. Ibu Nuri memandang percikan air yang ia muntahkan
barusan. Betapa ia menyesal. Susah payah ia mengendap, dan begitu ia dapat,
malah dimuntahkan begitu saja. Sia-sia belaka.
Ibu Nuri menoleh
kesana kemari. Sekali lagi, ia ingin memastikan bahwa penjaga kolam yang galak
itu tak melihatnya mendekat. Dia kembali mengendap. Dan begitu ia dapat apa
yang ia mau, Ibu Nuri kembali terbang meninggi. Keatas menara. Menemui
anak-anaknya yang telah menunggunya untuk sekian lama.
“Ibu datang..
Ibu datang..” Teriak si bungsu kegirangan.
“Hust! Jangan
keras-keras.” Hardik ibu mengingatkan.
“Kalau mereka mendengar
kita ada disini, mereka akan mengusir kita lagi.”
Kedua anak Nuri
saling berpandangan. Manggut-manggut diantara ketakutan.
“Makanan apa
yang kau bawa untuk kami, Ibu?”
Mata Ibu Nuri
menggenang.
“Hanya sedikit
air. Minumlah. Sekedar untuk membasahi kerongkongan. Lalu tidurlah sebentar.
Ibu janji, bila kalian membuka mata nanti, kalian akan mendapati makanan yang
kalian inginkan.”
Nuri menyungging
sebuah senyuman. Bagaimanapun juga dia harus kuat. Dia harus tegar.
Ketabahannya dalam menjalani kehidupan adalah semangat bagi kedua buah hatinya
untuk bertahan. Di dalam kehidupan, yang kian suram.
Memastikan kedua
buah hatinya telah tertidur pulas. Tangis Nuri kian lepas. Dia sesenggukan
menahan kesedihan yang berdebam di dalam hati. Dia tau benar, bahwa mereka
lapar. Namun apa yang harus ia lakukan? Di zaman sekarang ini, wajah Ibu
Pertiwi hanya ditumbuhi pohon menara. Tak ada lagi tanah untuk mengais
biji-bijian disana. Semua telah tertutup beton dan aspal. Bahkan ulat sayurpun
kini telah tiada. Ditumpas oleh racun pestisida.
Bahkan kini,
burung-burung sangat dimusuhi. Nyanyian burung dipagi hari tak lagi di nanti
apalagi dipuji. Papan pengumuman tertempel disana sini, ‘TIDAK BOLEH MEMBERI
MAKAN BURUNG’, sehingga semakin sulit saja baginya dan kawan-kawan untuk
sekedar mencari sisa-sisa makanan yang tercecer di jalanan. Di taman bahkan di ujung jalan pasar.
Betapa takutnya
mereka pada kawanan burung. Katanya, makluk kecil nan lucu itu adalah pembawa
penyakit. Pembawa firus mematikan. Mareka adalah kawanan binatang yang akan
membuat manusia itu masuk rumah sakit. Berada dalam satu tempat tertutup yang
dingin. Dengan selang yang bersaling silang menusuk-nusuk badan.Bahkan, kata
mereka, kawanan burung yang senang sekali bersenandung itu, dapat mengakibatkan
kematian.
Betapa sakit
hati Ibu Nuri mendengar fitnah yang sedemikian keji. Mereka, para manusia
modern itu bahkan telah lupa, bahwa sesungguhnya, mereka sendirilah yang
menciptakan segala macam penyakit yang kini bermunculan. Lalu, kenapa mereka
harus menyalahkan burung-burung yang berterbangan? Bukankah dunia ini milik
semua makluk?
Mereka tak pernah
sadar, bahwa sesungguhnya merekalah yang merampas hak hidup para binatang yang
diciptakan Tuhan, untuk saling melengklapi antar sesama. Untuk saling mengisi
kekosongan hati. Dan untuk menyadari bahwa bumi ini adalah tempat untuk saling
berbagi. Bukan eksploitasi dan ingin menang sendiri.
Baru kemarin,
Nuri mengunjungi sahabat kecilnya. Pada sebuah balkoni apartemen mewah yang
berdada di lantai lima puluh. Pada paman
Parroth itu, Nuri berkeluh kesah, “Ah,
apakah ini saatnya, kawanan kita akan punah?” dan paman Parroth hanya bisa
mendesah pasrah,” apa lagi yang bisa kulakukan? Dengan kaki terikat pada rantai
besi ini. Aku hanyalah boneka hidup, hiburan mereka yang setiap hari
menghadiahi aku sebiji jagung. Apabila telah kuturuti maunya untuk bernyanyi,
atau memanggilnya dengan sebutan ’tuan.. tuan..’”
Dalam
gelisahnya, Nuri seringkali teringat akan cerita ayah bundanya dulu. Manakala
pada suatu masa, dahulu kala, mereka bersama hidup berdampingan dengan mesra.
Pada sebuah negeri nun hijau merayu. Dimana didalamnya, banyak terdapat
pepohonan yang rindang tempat mereka membangun sarang dan beranak pinak. Dimana
antara sesama makluk saling membutuhkan untuk kelangsungan kehidupan mereka.
Anak-anak burung yang bersuka ria diatas tubuh kerbau yang membajak sawah untuk
mencari kutu. Dan kerbau-kerbau yang bekerja keras membajak sawah para petani.
Lalu berak disana sini, menyumbangkan pupuk alami. Kupu-kupu beterbangan
memamerkan kebebasan dan keindahan sayapnya.Ular sawah leluasa memangsa tikus
yang mencuri padi. Juga anak-anak gembala yang bercengkerama dibawah pohon
mahoni bermandi sinar matahari. berlari-lari kesana kemari. Berpeluh dan
tertawa gembira, menikmati hasil bumi yang di tanam di kebun sendiri. Semuanya
saling bersinergi dan mengisi. Tak ada takut apalagi jijik melihat makluk lain
penghuni bumi.
Nuri termenung.
Kemana semua kini pergi? Apa yang bisa ia beri untuk anak-anaknya kini? Bila
keluar dari tempat persembunyian saja mereka ketakutan. Apalagi bernyanyi di
ambang jendela yang terbuka di awal pagi.
Kecantikan
burung Nuri kini tak lagi punya arti. Suara merdunya tak lagi dinikmati. Kini,
manusia modern itu hanya mempunyai gambar lukisan burung pada dinding rumahnya.
Atau kalau tidak, mereka hanya membeli miniature burung lengkap dengan suara
tiruan yang dijadikan symbol pembelajaran pada putra putrinya. Tentang
kupu-kupu? Kurasa kini, mereka hanya dapat melihat keindahannya pada pinggul
perempuan-perempuan cantik nan sexy, yang di ukir melalui jarum bertinta warna
warni oleh laki-laki yang menamakan dirinya pecinta seni.
Sapi-sapi dan
kerbau itu kini juga telah kehilangan fungsi. Bukan membajak sawah atau menarik
pedati. Mereka kini, bahkan menjadi raja galau. Bagaimana tidak galau? Setiap
hari, mereka hanya dipaksa untuk makan dan minum tanpa bekerja. Menggerakkan
ototnya sehingga terbentuk daging tanpa lemak di tubuhnya. Soal makanan? Kini
mereka hanya makan rumput sebagai makanan camilan. Selebihnya, mereka dipaksa
untuk memakan tulangnya sendiri, Meat Bone Meal! Yang akhirnya malah membuat
sapi-sapi itu tumbuh subur namun tak sehat. Tak sedikit diantara mereka yang stress
bahkan menjadi gila. Keterlaluan sekali.
Sebenarnya apa
yang diperbuat manusia itu? Apakah mereka cukup punya kuasa untuk merubah dan
mengotak atik tata cara kehidupan yang telah diajarkan oleh alam?
Berani-beraninya mereka membolak balikkan keadaan hingga rusak semua seluruh
tatanan kehidupan. Dan kini, bila dampak dari ulah mereka sendiri kian terasa,
mereka sibuk mencari alasan pembenaran kesana kemari. Tanpa mau sadar diri, dan
merubah pola hidup yang memang telah salah kaprah. Ah… Nuri mendesah. Suaranya
bergetar menahan gejolak perasaan. Kilat matanya tajam mengawasi setiap keadan.
“Ini kejam.
Sangat kejam!” Suara Nuri bergetar
diantara isak tangisan.
“Seharusnya,
mereka keluar dari gedung ber AC itu. Berjalan dengan kaki telanjang. Berpeluh.
Dan hidup selaras denagn alam.” Geram Nuri diantara kilat matanya yang mengawasi
gerak-gerik anak kecil yang berlarian ditengah taman.
“Apa yang mereka
takutkan pada kawanan burung? Bukankah kami ini hanyalah unggas pemakan
biji-bijian yang tak seberapa jumlahnya? Lain halnya dengan mereka, yang bahkan
tega memakan bangkai sesama!” Ibu Nuri kian marah. Marah pada polah tingkah
manusia yang seolah semakin serakah. Dan kemarahannya kian menjadi, manakala ia
melihat salah satu kawannya, jatuh terkapar dan menggelepar. Dia terjatuh
lunglai dari dahan pohon kamboja yang tak
berbunga. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya kurus kering, sama sekali tak
berdaging. Kukira, ia pasti kelaparan berhari-hari. Dan lapar itu telah
membawanya menemui ajal. Kembali pulang ke alam keabadian dengan cara yang
sangat mengenaskan.
Mendadak Nuri teringat akan anak-anaknya yang ia
tinggal di sarang. Mungkin mereka telah bangun dan mencarinya. Sementara dia,
belum jua mendapatkan makanan, walau hanya sebagai pengganjal lambung sementara.
Nuri menaikkan
kepalanya. Bulu-bulu cantik di lehernya meremang. Ia melihat satu benda kecil
terjatuh dari anak kecil yang merengek dalam gendongan. Karena tangisnya,
sepotong roti melompat dari mulutnya yang menangis kencang.
Secepat kilat ia
terbang. Mematuk secuil roti kuat-kuat pada paruhnya yang kecil. Lalu kembali
pulang keperaduan. Yang tersembunyi pada dahan pohon yang hampir mati di atap
bangunan menara. Disana, ia mencoba menumbuhkan harapan. Juga mimpi akan adanya
sebuah perubahan. Akan negeri hijau yang dialiri sungai-sungai bening. Sehingga
ia dan anak-anaknya, dapat bernyanyi merdu, menyemarakkan kehidupan yang Tuhan
berikan.
Nuri memandang
iba kedua buah hatinya. Pelan, pelan sekalidia bersuara,
“Bangun, Nak.
Bangunlah. Lihat ini, Ibu bawa apa…
Ayo bangunlah,
Nak.. makanlah. Dan kita akan kembali terbang, menunaikan tugas kita untuk
meramaikan kehidupan. Bangnlah… banguuunnn…”
Nuri
tersedan-sedan. Dia menyadari apa yang terjadi barusan. Kini, dia kembali
terbang menyusuri gumpalan awan gemawan, sendirian.(*)
#cerpen ini masuk kedalam 50 cerpen terpilih dalam lomba yang diadakan Perum Perhutani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar