Minggu, 30 Maret 2014

NYANYIAN SI NURI

NYANYIAN SI NURI
By. Laras Wati


Terbang meninggi menyusuri lembah dan gunung sunyi. Mencari sedikit damai bagi sebuah hati. Yang telah sekian lama di rundung dahaga. Kehilangan tempat di telapak semesta, untuk bernyanyi, melagukan tembang-tembang surgawi.

“Akan kemana lagi kita mencari? Aku telah lelah. Sangat lelah.”
“Bertahanlah. Demi Tuhan, bersabarlah.”
“Kita telah terbang terlalu tinggi. Terlalu lama.”
“Lawan rasa lelahmu. Kita tidak akan mati disini. Ayo, kepakkan kembali sayapmu!”
“Aku kehausan, Ibu.”

Nuri menunduk lesu. Mendengar ratap anaknya yang pilu, sungguh, membuat hatinya kian beku.

“Akan kuambilkan air untukmu. Sembunyikan dirimu dibalik perdu. Dan tunggu aku.”

Nuri terbang melandai menuruni menara. Di bawah sana, ia melihat kemilau air bak telaga. Warnanya biru muda. Di sisi kanan kirinya, manusia-manusia setengah telanjang  saling bercengkrama. Menceburkan dirinya lalu berenang kesana kemari selayaknya ikan pari-pari.

Ibu Nuri melangkah mengendap-endap. Pelan. Nyaris tak terdengar suara tapak kaki kecilnya. Dia ingin mencuri air. Sedikit saja. Untuk disimpan dalam tembolok, lalu akan ia bawa terbang pulang ke atas menara, untuk dilolohkan pada kedua buah hatinya yang dahaga.

Buuihh…
Uhuk… uhuk..

“Air apa ini?” gumam  Nuri dalam hati. Rasanya aneh. Seperti ada bau kaporit. Ibu Nuri memandang percikan air yang ia muntahkan barusan. Betapa ia menyesal. Susah payah ia mengendap, dan begitu ia dapat, malah dimuntahkan begitu saja. Sia-sia belaka.

Ibu Nuri menoleh kesana kemari. Sekali lagi, ia ingin memastikan bahwa penjaga kolam yang galak itu tak melihatnya mendekat. Dia kembali mengendap. Dan begitu ia dapat apa yang ia mau, Ibu Nuri kembali terbang meninggi. Keatas menara. Menemui anak-anaknya yang telah menunggunya untuk sekian lama.

“Ibu datang.. Ibu datang..” Teriak si bungsu kegirangan.
“Hust! Jangan keras-keras.” Hardik ibu mengingatkan.
“Kalau mereka mendengar kita ada disini, mereka akan mengusir kita lagi.”
Kedua anak Nuri saling berpandangan. Manggut-manggut diantara ketakutan.
“Makanan apa yang kau bawa untuk kami, Ibu?”
Mata Ibu Nuri menggenang.
“Hanya sedikit air. Minumlah. Sekedar untuk membasahi kerongkongan. Lalu tidurlah sebentar. Ibu janji, bila kalian membuka mata nanti, kalian akan mendapati makanan yang kalian inginkan.”
Nuri menyungging sebuah senyuman. Bagaimanapun juga dia harus kuat. Dia harus tegar. Ketabahannya dalam menjalani kehidupan adalah semangat bagi kedua buah hatinya untuk bertahan. Di dalam kehidupan, yang kian suram.

Memastikan kedua buah hatinya telah tertidur pulas. Tangis Nuri kian lepas. Dia sesenggukan menahan kesedihan yang berdebam di dalam hati. Dia tau benar, bahwa mereka lapar. Namun apa yang harus ia lakukan? Di zaman sekarang ini, wajah Ibu Pertiwi hanya ditumbuhi pohon menara. Tak ada lagi tanah untuk mengais biji-bijian disana. Semua telah tertutup beton dan aspal. Bahkan ulat sayurpun kini telah tiada. Ditumpas oleh racun pestisida.

Bahkan kini, burung-burung sangat dimusuhi. Nyanyian burung dipagi hari tak lagi di nanti apalagi dipuji. Papan pengumuman tertempel disana sini, ‘TIDAK BOLEH MEMBERI MAKAN BURUNG’, sehingga semakin sulit saja baginya dan kawan-kawan untuk sekedar mencari sisa-sisa makanan yang tercecer di jalanan. Di taman bahkan di  ujung jalan pasar.

Betapa takutnya mereka pada kawanan burung. Katanya, makluk kecil nan lucu itu adalah pembawa penyakit. Pembawa firus mematikan. Mareka adalah kawanan binatang yang akan membuat manusia itu masuk rumah sakit. Berada dalam satu tempat tertutup yang dingin. Dengan selang yang bersaling silang menusuk-nusuk badan.Bahkan, kata mereka, kawanan burung yang senang sekali bersenandung itu, dapat mengakibatkan kematian.

Betapa sakit hati Ibu Nuri mendengar fitnah yang sedemikian keji. Mereka, para manusia modern itu bahkan telah lupa, bahwa sesungguhnya, mereka sendirilah yang menciptakan segala macam penyakit yang kini bermunculan. Lalu, kenapa mereka harus menyalahkan burung-burung yang berterbangan? Bukankah dunia ini milik semua makluk?

Mereka tak pernah sadar, bahwa sesungguhnya merekalah yang merampas hak hidup para binatang yang diciptakan Tuhan, untuk saling melengklapi antar sesama. Untuk saling mengisi kekosongan hati. Dan untuk menyadari bahwa bumi ini adalah tempat untuk saling berbagi. Bukan eksploitasi dan ingin menang sendiri.

Baru kemarin, Nuri mengunjungi sahabat kecilnya. Pada sebuah balkoni apartemen mewah yang berdada di lantai  lima puluh. Pada paman Parroth itu,  Nuri berkeluh kesah, “Ah, apakah ini saatnya, kawanan kita akan punah?” dan paman Parroth hanya bisa mendesah pasrah,” apa lagi yang bisa kulakukan? Dengan kaki terikat pada rantai besi ini. Aku hanyalah boneka hidup, hiburan mereka yang setiap hari menghadiahi aku sebiji jagung. Apabila telah kuturuti maunya untuk bernyanyi, atau memanggilnya dengan sebutan ’tuan.. tuan..’”

Dalam gelisahnya, Nuri seringkali teringat akan cerita ayah bundanya dulu. Manakala pada suatu masa, dahulu kala, mereka bersama hidup berdampingan dengan mesra. Pada sebuah negeri nun hijau merayu. Dimana didalamnya, banyak terdapat pepohonan yang rindang tempat mereka membangun sarang dan beranak pinak. Dimana antara sesama makluk saling membutuhkan untuk kelangsungan kehidupan mereka. Anak-anak burung yang bersuka ria diatas tubuh kerbau yang membajak sawah untuk mencari kutu. Dan kerbau-kerbau yang bekerja keras membajak sawah para petani. Lalu berak disana sini, menyumbangkan pupuk alami. Kupu-kupu beterbangan memamerkan kebebasan dan keindahan sayapnya.Ular sawah leluasa memangsa tikus yang mencuri padi. Juga anak-anak gembala yang bercengkerama dibawah pohon mahoni bermandi sinar matahari. berlari-lari kesana kemari. Berpeluh dan tertawa gembira, menikmati hasil bumi yang di tanam di kebun sendiri. Semuanya saling bersinergi dan mengisi. Tak ada takut apalagi jijik melihat makluk lain penghuni bumi.

Nuri termenung. Kemana semua kini pergi? Apa yang bisa ia beri untuk anak-anaknya kini? Bila keluar dari tempat persembunyian saja mereka ketakutan. Apalagi bernyanyi di ambang jendela yang terbuka di awal pagi.

Kecantikan burung Nuri kini tak lagi punya arti. Suara merdunya tak lagi dinikmati. Kini, manusia modern itu hanya mempunyai gambar lukisan burung pada dinding rumahnya. Atau kalau tidak, mereka hanya membeli miniature burung lengkap dengan suara tiruan yang dijadikan symbol pembelajaran pada putra putrinya. Tentang kupu-kupu? Kurasa kini, mereka hanya dapat melihat keindahannya pada pinggul perempuan-perempuan cantik nan sexy, yang di ukir melalui jarum bertinta warna warni oleh laki-laki yang menamakan dirinya pecinta seni.

Sapi-sapi dan kerbau itu kini juga telah kehilangan fungsi. Bukan membajak sawah atau menarik pedati. Mereka kini, bahkan menjadi raja galau. Bagaimana tidak galau? Setiap hari, mereka hanya dipaksa untuk makan dan minum tanpa bekerja. Menggerakkan ototnya sehingga terbentuk daging tanpa lemak di tubuhnya. Soal makanan? Kini mereka hanya makan rumput sebagai makanan camilan. Selebihnya, mereka dipaksa untuk memakan tulangnya sendiri, Meat Bone Meal! Yang akhirnya malah membuat sapi-sapi itu tumbuh subur namun tak sehat. Tak sedikit diantara mereka yang stress bahkan menjadi gila. Keterlaluan sekali.

Sebenarnya apa yang diperbuat manusia itu? Apakah mereka cukup punya kuasa untuk merubah dan mengotak atik tata cara kehidupan yang telah diajarkan oleh alam? Berani-beraninya mereka membolak balikkan keadaan hingga rusak semua seluruh tatanan kehidupan. Dan kini, bila dampak dari ulah mereka sendiri kian terasa, mereka sibuk mencari alasan pembenaran kesana kemari. Tanpa mau sadar diri, dan merubah pola hidup yang memang telah salah kaprah. Ah… Nuri mendesah. Suaranya bergetar menahan gejolak perasaan. Kilat matanya tajam mengawasi setiap keadan.

“Ini kejam. Sangat kejam!” Suara  Nuri bergetar diantara isak tangisan.
“Seharusnya, mereka keluar dari gedung ber AC itu. Berjalan dengan kaki telanjang. Berpeluh. Dan hidup selaras denagn alam.” Geram  Nuri diantara kilat matanya yang mengawasi gerak-gerik anak kecil yang berlarian ditengah taman.
“Apa yang mereka takutkan pada kawanan burung? Bukankah kami ini hanyalah unggas pemakan biji-bijian yang tak seberapa jumlahnya? Lain halnya dengan mereka, yang bahkan tega memakan bangkai sesama!” Ibu Nuri kian marah. Marah pada polah tingkah manusia yang seolah semakin serakah. Dan kemarahannya kian menjadi, manakala ia melihat salah satu kawannya, jatuh terkapar dan menggelepar. Dia terjatuh lunglai dari dahan pohon kamboja yang tak  berbunga. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya kurus kering, sama sekali tak berdaging. Kukira, ia pasti kelaparan berhari-hari. Dan lapar itu telah membawanya menemui ajal. Kembali pulang ke alam keabadian dengan cara yang sangat mengenaskan.

Mendadak  Nuri teringat akan anak-anaknya yang ia tinggal di sarang. Mungkin mereka telah bangun dan mencarinya. Sementara dia, belum jua mendapatkan makanan, walau hanya sebagai pengganjal  lambung sementara.

Nuri menaikkan kepalanya. Bulu-bulu cantik di lehernya meremang. Ia melihat satu benda kecil terjatuh dari anak kecil yang merengek dalam gendongan. Karena tangisnya, sepotong roti melompat dari mulutnya yang menangis kencang.

Secepat kilat ia terbang. Mematuk secuil roti kuat-kuat pada paruhnya yang kecil. Lalu kembali pulang keperaduan. Yang tersembunyi pada dahan pohon yang hampir mati di atap bangunan menara. Disana, ia mencoba menumbuhkan harapan. Juga mimpi akan adanya sebuah perubahan. Akan negeri hijau yang dialiri sungai-sungai bening. Sehingga ia dan anak-anaknya, dapat bernyanyi merdu, menyemarakkan kehidupan yang Tuhan berikan.

Nuri memandang iba kedua buah hatinya. Pelan, pelan sekalidia bersuara,
“Bangun, Nak. Bangunlah. Lihat ini, Ibu bawa apa…
Ayo bangunlah, Nak.. makanlah. Dan kita akan kembali terbang, menunaikan tugas kita untuk meramaikan kehidupan. Bangnlah… banguuunnn…”

Nuri tersedan-sedan. Dia menyadari apa yang terjadi barusan. Kini, dia kembali terbang menyusuri gumpalan awan gemawan, sendirian.(*)

#cerpen ini masuk kedalam 50 cerpen terpilih dalam lomba yang diadakan Perum Perhutani.



                                                                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar