Rabu, 11 Juni 2014

aku dan si bunga kambodja

AKU DAN SI BUNGA KAMBODJA
By. Laras Wati

Lima tahun lalu, tepatnya saat aku bekerja di pulau Dewata. Aku selalu melihatnya merekah indah pada halaman villa tempatku bekerja. Dia seperti tak mengenal musim. Terus ada dan ada. Sebagian warnanya ada yang putih, sebagian lagi ada yang merah muda. Indah.
Pada suatu pagi, angin yang berhembus pelan menegur dan menggugurkannya ke pinggiran kolam. Dengan kesegaran dan bekas embun yang masih lekat pada lembaran bunganya, dia tergeletak manja di atas lantai pualam di pinggir kolam. Anak majikan memungutnya, lalu menyuntingnya pada lipatan telinga. Membuatnya semakin ayu dengan bunga kambodja tersenyum menyamai wajah manisnya. Aku terpesona.
Hingga kini, aku masih selalu mengaguminya. Bunga kambodja, dengan keharuman yang khas, bagiku selalu mempunyai daya pikat luar biasa. Kalaupun ada yang menyamai kecantikannya, itu hanyalah bunga melati. Putihnya suci. Harumnya damaikan hati. Kecantikan yang tak pongah. Jauh dari kesan angguh, mahal dan tak tersentuh. Tak jua membingkai dirinya dengan duri-duri tajam yang dapat menyakiti pengagumnya yang hendak menyentuh, nikmati pesona yang ia miliki. Seperti menginspirasi diri ini agar selalu menebar wangi dengan segala kerendahan hati. Ah, sungguh indah menikmati karunia Illahi di awal hari. Sambil belajar dari maha guru kehidupan, alam beserta seluruh penghuninya.
Lima tahun berlalu semenjak aku benar-benar mengenalnya di pulau Dewata. Sampai saat ini, aku yang telah melanglang buana, pergi mengembara pencari potongan ilmu di berbagai belahan nusantara, kini aku kembali. Pada rumah asalku. Kampung halaman tempat pertama kali aku lahir ke dunia. Aku menginjakkan kaki dengan  sepenuh keyakinan bahwa aku akan bisa berada di sini, ikut membangun bangsa dan Negara tercinta dengan segenap kemampuan yang aku miliki. Namun  kali ini, kepulanganku di sambut oleh tangis sanak saudara yang baru saja melepas kepergian Ibunda keharibaan yang Maha Kuasa. Ibunda pergi, setelah melepas sesungging senyum sebagai tanda serah terima tanggung jawab atas putraku yang semenjak aku merantau, beliaulah yang mengurus anakku hingga dewasa.
Mengahantar kepulangannya, aku ingin sekali meneteskan air mata. Sudah kucoba berulang kali untuk mengingat satu dua hal yang paling menyedihkan dalam hidupku agar aku bisa menangis. Namun tak jua aku dapat melakukannya. Aku bahkan tersenyum, ketika kulihat pohon bunga kambodja ada di area pemakaman.
Aku tahu, banyak orang memandangku dengan perasaan aneh. Mungkin juga dalam hati mereka berkata, bahwa aku adalah anak yang tak berbakti. Bahkan ketika Ibunda pergi, aku tak menangis barang setetes pun. Tapi bagaimana aku harus memaksa diriku untuk menagis? Kenapa pula aku harus menangis? Ibu berpulang bukan karena kecelakaan atau sesuatu yang mengejutkan. Namun beliau berpulang dengan tenang. Ketika tugasnya dalam mengantar putra putrinya menuju dewasa telah terlaksana dengan sempurna. Aku mencintai Ibunda, tapi tak harus menangisinya ketika dia tiada, bukan? Ah, suka-suka merekalah mau berprasangka apa. Yang jelas, bakti dan pengabdianku sebagai seorang anak kepada orang tua tak harus aku tinjukkan dengan derai air mata.
Di area pemakaman yang sepi. Ketika orang-orang pelayat satu persatu mulai pergi. Meninggalkan aku sendiri dalam kesunyian berteman gundukan tanah merah yang basah. Aku menikmati kesendirianku bersama ibuku. Kini, beliau telah beristirahat dengan tenang di tempatnya. Tak lagi rebut memikirkan harga beras, gula, telur, tahu tempe yang kian hari kian melambung tinggi. Kini beliau telah rebah dalam haribaan ibu pertiwi. Mendaki jalan ke surga dengan amalan baik yang ia miliki. Dan saat seprti ini, tanpa diketahui oleh seorangpun, aku menangis.
Betapa dulu aku sering bercengkrama dengan ibuku tentang banyak hal. Betapa dulu kami sering melempar tawa tentang hal yang remeh temeh. Menjadikan sesuatu yang terjadi dalam keseharian, menjadi guliran cerita yang akan kami bahas hingga malam di atas pembaringan. Tiba-tiba, sekuntum bunga jatuh di atas pusaranya. Putih bersih. Memberi senyuman padaku, sama persis seperti senyum ibuku yang selalu meneduhkan. Aku memungutnya, dan menyuntingnya pada lipatan tilinga.
Kuhapus leleh air mataku. Dan kutanyakan sesuatu, “ibu, apa kau melihatku?” Tak ada jawaban. Mengukuhkan bahwa kini, aku memang tengah sendirian. Namun aku merasakan desir menyentuh kulitku. Belai lembut angin yang berhembus pelan.  Berisik daun kering yang berserakan. Membawaku pulang pada sebuah kenyataan. Aku masih ada dan hidup. Aku masih punya setumpuk tugas untuk kuselesaikan sebelum maut menjemput. Aku masih ingin berkelana lagi ke beberapa tempat dimana aku akan dapat merasakan keberadaan Tuhan. Entah di gunung. Di laut. Di belahan dunia lain. Atau bahkan di ruang sunyi kamarku pada sepertiga malam. Aku masih punya cita-cita ingin menjadi wanita penebar pesona. Selayaknya kambodja. Yang anggun dengtan segala warnanya. Diam, damai menguarkan aroma harumnya. Sebelum akhirnya nanti,  angin akan menjemput, mengantarku pulang kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Yah, aku memang tak harus menangisi sesuatu yang memang seharusnya pergi. Namun menjadi keharusan bagiku, untuk menatap masa depan dengan optimis dan pasti. Aku ada hari ini untuk berbakti dengan cinta yang aku miliki.
Perlahan aku bangkit. Meraih dahan kambojda yang menaungi area pemakaman. Ku potong dahannya sedepa. Dan kutancapkan, persis diatas batu nisan ibuku. Kuharap dia akan tumbuh dan berkembang disana. Berbunga indah, memberi teduh diantara terik mentari yang terus membakar semangat untuk terus berjuang dalam arena pertarungan kehidupan.
Keranda tinggal keranda. Kosong. Diam di tempatnya menunggu jenazah selanjutnya. Masa lalu adalah tonggak sejarah yang memberi begitu banyak pelajaran berharga. Dan aku pergi meninggalkan mereka, dengan segenggam cita-cita. Sebelum aku kembali kesini, sebagai salah satu  penghuninya.(*)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar