AKU
DAN SI BUNGA KAMBODJA
By.
Laras Wati
Lima tahun
lalu, tepatnya saat aku bekerja di pulau Dewata. Aku selalu melihatnya merekah
indah pada halaman villa tempatku bekerja. Dia seperti tak mengenal musim. Terus
ada dan ada. Sebagian warnanya ada yang putih, sebagian lagi ada yang merah
muda. Indah.
Pada
suatu pagi, angin yang berhembus pelan menegur dan menggugurkannya ke pinggiran
kolam. Dengan kesegaran dan bekas embun yang masih lekat pada lembaran bunganya,
dia tergeletak manja di atas lantai pualam di pinggir kolam. Anak majikan
memungutnya, lalu menyuntingnya pada lipatan telinga. Membuatnya semakin ayu
dengan bunga kambodja tersenyum menyamai wajah manisnya. Aku terpesona.
Hingga
kini, aku masih selalu mengaguminya. Bunga kambodja, dengan keharuman yang
khas, bagiku selalu mempunyai daya pikat luar biasa. Kalaupun ada yang menyamai
kecantikannya, itu hanyalah bunga melati. Putihnya suci. Harumnya damaikan
hati. Kecantikan yang tak pongah. Jauh dari kesan angguh, mahal dan tak
tersentuh. Tak jua membingkai dirinya dengan duri-duri tajam yang dapat
menyakiti pengagumnya yang hendak menyentuh, nikmati pesona yang ia miliki. Seperti
menginspirasi diri ini agar selalu menebar wangi dengan segala kerendahan hati.
Ah, sungguh indah menikmati karunia Illahi di awal hari. Sambil belajar dari
maha guru kehidupan, alam beserta seluruh penghuninya.
Lima
tahun berlalu semenjak aku benar-benar mengenalnya di pulau Dewata. Sampai saat
ini, aku yang telah melanglang buana, pergi mengembara pencari potongan ilmu di
berbagai belahan nusantara, kini aku kembali. Pada rumah asalku. Kampung halaman
tempat pertama kali aku lahir ke dunia. Aku menginjakkan kaki dengan sepenuh keyakinan bahwa aku akan bisa berada
di sini, ikut membangun bangsa dan Negara tercinta dengan segenap kemampuan
yang aku miliki. Namun kali ini,
kepulanganku di sambut oleh tangis sanak saudara yang baru saja melepas
kepergian Ibunda keharibaan yang Maha Kuasa. Ibunda pergi, setelah melepas
sesungging senyum sebagai tanda serah terima tanggung jawab atas putraku yang
semenjak aku merantau, beliaulah yang mengurus anakku hingga dewasa.
Mengahantar
kepulangannya, aku ingin sekali meneteskan air mata. Sudah kucoba berulang kali
untuk mengingat satu dua hal yang paling menyedihkan dalam hidupku agar aku
bisa menangis. Namun tak jua aku dapat melakukannya. Aku bahkan tersenyum,
ketika kulihat pohon bunga kambodja ada di area pemakaman.
Aku
tahu, banyak orang memandangku dengan perasaan aneh. Mungkin juga dalam hati
mereka berkata, bahwa aku adalah anak yang tak berbakti. Bahkan ketika Ibunda
pergi, aku tak menangis barang setetes pun. Tapi bagaimana aku harus memaksa
diriku untuk menagis? Kenapa pula aku harus menangis? Ibu berpulang bukan
karena kecelakaan atau sesuatu yang mengejutkan. Namun beliau berpulang dengan
tenang. Ketika tugasnya dalam mengantar putra putrinya menuju dewasa telah
terlaksana dengan sempurna. Aku mencintai Ibunda, tapi tak harus menangisinya
ketika dia tiada, bukan? Ah, suka-suka merekalah mau berprasangka apa. Yang jelas,
bakti dan pengabdianku sebagai seorang anak kepada orang tua tak harus aku
tinjukkan dengan derai air mata.
Di
area pemakaman yang sepi. Ketika orang-orang pelayat satu persatu mulai pergi. Meninggalkan
aku sendiri dalam kesunyian berteman gundukan tanah merah yang basah. Aku menikmati
kesendirianku bersama ibuku. Kini, beliau telah beristirahat dengan tenang di
tempatnya. Tak lagi rebut memikirkan harga beras, gula, telur, tahu tempe yang
kian hari kian melambung tinggi. Kini beliau telah rebah dalam haribaan ibu
pertiwi. Mendaki jalan ke surga dengan amalan baik yang ia miliki. Dan saat
seprti ini, tanpa diketahui oleh seorangpun, aku menangis.
Betapa
dulu aku sering bercengkrama dengan ibuku tentang banyak hal. Betapa dulu kami
sering melempar tawa tentang hal yang remeh temeh. Menjadikan sesuatu yang terjadi
dalam keseharian, menjadi guliran cerita yang akan kami bahas hingga malam di
atas pembaringan. Tiba-tiba, sekuntum bunga jatuh di atas pusaranya. Putih bersih.
Memberi senyuman padaku, sama persis seperti senyum ibuku yang selalu
meneduhkan. Aku memungutnya, dan menyuntingnya pada lipatan tilinga.
Kuhapus
leleh air mataku. Dan kutanyakan sesuatu, “ibu, apa kau melihatku?” Tak ada jawaban.
Mengukuhkan bahwa kini, aku memang tengah sendirian. Namun aku merasakan desir
menyentuh kulitku. Belai lembut angin yang berhembus pelan. Berisik daun kering yang berserakan. Membawaku
pulang pada sebuah kenyataan. Aku masih ada dan hidup. Aku masih punya setumpuk
tugas untuk kuselesaikan sebelum maut menjemput. Aku masih ingin berkelana lagi
ke beberapa tempat dimana aku akan dapat merasakan keberadaan Tuhan. Entah di
gunung. Di laut. Di belahan dunia lain. Atau bahkan di ruang sunyi kamarku pada
sepertiga malam. Aku masih punya cita-cita ingin menjadi wanita penebar pesona.
Selayaknya kambodja. Yang anggun dengtan segala warnanya. Diam, damai
menguarkan aroma harumnya. Sebelum akhirnya nanti, angin akan menjemput, mengantarku pulang
kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Yah, aku memang tak harus menangisi sesuatu
yang memang seharusnya pergi. Namun menjadi keharusan bagiku, untuk menatap masa
depan dengan optimis dan pasti. Aku ada hari ini untuk berbakti dengan cinta
yang aku miliki.
Perlahan
aku bangkit. Meraih dahan kambojda yang menaungi area pemakaman. Ku potong
dahannya sedepa. Dan kutancapkan, persis diatas batu nisan ibuku. Kuharap dia
akan tumbuh dan berkembang disana. Berbunga indah, memberi teduh diantara terik
mentari yang terus membakar semangat untuk terus berjuang dalam arena
pertarungan kehidupan.
Keranda
tinggal keranda. Kosong. Diam di tempatnya menunggu jenazah selanjutnya. Masa lalu
adalah tonggak sejarah yang memberi begitu banyak pelajaran berharga. Dan aku
pergi meninggalkan mereka, dengan segenggam cita-cita. Sebelum aku kembali
kesini, sebagai salah satu
penghuninya.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar