INSPIRASI
DARI COKELAT DI KAMPUNG COKLAT
Apa yang kita bayangkan
ketika kita mendengar satu kata bernama coklat? Pasti yang terlintas adalah
sesuatu yang manis, berwarna coklat, harganya mahal dan sesuatu yang dapat kita
gunakan sebagai kado atau tanda cinta di hari valentine. Saya sendiri, sangat
menyukai coklat. Terlebih lagi, saat ini banyak macam olahan makanan yang terbuat
dari benda satu ini. Ada pop corn coklat, jus coklat, pisang coklat, kue
coklat, es cream coklat, selai coklat dan lain-lain. Ternyata banyak sekali
kegunaan dan manfaat dari coklat, ya? Seperti apa yang di ulas oleh Bapak Abdul
Azis dalam sebuah acara di Kampung Coklat,
dengan alamat, Banteng – Blorok No.18. Rt. 01/ 06. Desa Plosorejo. Kademangan,
Blitar.
Dalam kesempatan temu wicara
bersama warga Desa Ngepoh, Kecamatan Tulungagung, yang diprakarsai oleh IAIN
Tulungagung dalam acara Visit Site Kelompok Tanai, beliau membahas tentang
budidaya, pengolahan dan potensi apa saja yang bisa di kembangkan dari tanaman
coklat ini. Sang pembicara, Pak Azis -begitu beliau biasa di sapa- membuka
wawasan kepada para hadirin untuk lebih
mengenal coklat agar dapat di manfaatkan dengan maksimal. Misal: memanfaatkan
kulit buah kakao sebagai bahan dasar
sabun.
Melihat bermacam barang
yang di jual di Kampung Coklat, Pak Azis memberikan pandangan produk baru
dengan memanfaatkan limbah kulit buah kakao atau coklat yang biasanya hanya
berguna sebagai pakan ternak. Kini kulit coklat juga bisa di proses dan di olah
menjadi sabun coklat yang sangat bermanfaat untuk kecantikan. Bila menginginkan
variasi aroma sabun yang lebih beragam, bisa ditambahkan dengan susu atau madu.
Nah, dari bahan itu, kita dapat memproduksi sebuah sabun susu coklat atau sabun
madu coklat yang pemasarannya, bisa di jual di Wisata Edukasi Kampung Coklat yang setiap minggunya, ramai dipadati
oleh para pengunjung.
Para peserta yang
umumnya adalah petani kakao, tampak antusias dalam mengikuti acara. Hal ini disampaikan
oleh Ibu Chusnul Chotimah, sekertaris LP2M IAIN Tulungagung. Beliau mengatakan
bahwa dengan adanya acara ini, para petani menjadi bertambah wawasan dan kelak,
bisa memproduksi barang yang akan di pasarkan langsung di Kampung Coklat.
Sebelum ini, Desa
Ngepoh adalah pusat tanaman kakao. Namun, karena harganya rendah da nada
tanaman lain yang lebih prospektif, maka para petani beralih ke tanaman
cengkeh. Mereka tidak mengerti jaringan sehingga harga kakao bisa dipermainakan
para tengkulak.
Sebagai informasi,
bahwa IAIN Tulungagung memiliki Tri Darma perguruan tinggi yaitu: pendidikan,
penelitian dan pengabdian masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, setiap Dosen
harus melakukan Tri Dharma tersebut. Dalam pendidikan, Dosen memberi pelajaran
atau kuliah. Demikian juga Dosen wajib mengadakan penelitian dalam tiap tahunnya.
Hal ini untuk menjembatani supaya perguruan tinggi bukan seperti menara gading
yang berdiri kokoh namun terpisah dari masyarakat. IAIN adalah milik masyarakat karena para Dosen dan lulusannya,
mengaplikasikan ilmunya di masyarakat.
Dalam acara itu juga, Pak
Azis mengajak para peserta untuk lebih kreatif dalam mencari peluang usaha.
Kita tidak harus mencontoh kesuksesan Pak Khalik, sang pendiri Kampung Coklat. Namun, beliau menginginkan
agar kita dapat menggali potensi diri dan melihat segala peluang usaha di
sekitar kita dengan memanfaatkan bahan-bahan murah meriah yang ada. Seperti apa
yang barusaja dilakukan oleh tim beliau dalam mengolah dan memproduksi teh
RAJA. Penasaran dengan apa itu teh RAJA?
Teh RAJA adalah teh
Rambut Jagung. Sesuai dengan namanya, teh RAJA memang berbahan dasar rambut
jagung yang ternyata, banyak sekali manfaatnya antara lain: baik untuk
penderita diabetes, menurunkan tekanan darah tinggi, meluruhkan batu ginjal,
mencegah resiko infeksi saluran kantung kemih dan banyak lagi. Tentunya,
produksi teh RAJA atau Rambut Jagung ini adalah terobosan baru untuk dijadikan
lahan usaha bagi para pengusaha. Luar biasa, bukan?
Dalam ceramahnya, Pak
Azis mewanti-wanti agar kita, penduduk Indonesia yang hidup di atas tanah
dengan keindahan alam, subur, dan iklim yang memadai untuk terus melakukan
inovasi dan pengembangan usaha di segala bidang. Beliau mendorong kita untuk
aktif kreatif dalam mencari mata usaha agar kedepannya, tidak ada tenaga kerja
kita yang merantau ke luar negeri. Karena, bila banyak pekerja kita yang
sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang meninggalkan anak dan suaminya
untuk merantau, maka hubungan keluarga yang sudah terjalin dengan baik akan
rentan masalah bahkan berakibat pada perceraian. Bila keluarga Indonesia banyak yang tercerai
berai, maka keutuhan NKRI juga akan terancam. Sebab, keutuhan sebuah Negara
dimulai dari keutuhan rumah tangga. Hmm.. sungguh nasehat yang mengharukan
sekali!
Pak Azis berharap, bila
kita dapat meningkatkan dan menciptakan lapangan kerja yang cukup di negeri
sendiri, maka jumlah TKI Indonesia akan semakin mengecil. Melalui kesempatan
ini, Pak Azis juga menyalurkan semangat wirausaha. Agar setiap warga Negara Indonesia
memiliki mental Big Boss dan bukan mental babu. Karenanya kita harus saling
bantu dan bahu membahu dalam membangun Negara kita yang penuh dengan sumber
daya alam maupun manusianya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar