Pernahkan anda mendengar bahwa di dalam tubuh manusia,
berdiam dua ekor serigala. Serigala itu adalah serigala baik dan buruk. Kedua serigala
itu teruussss bertarung di dalam tubuh manusia. Nah,siapakah serigala yang
menang? Adalah serigala yang sering kita kasih makan.
Sahabat, sering kali kita menemui, menghadapi, merasakan
sesuatu yang tidak mengenakkan dalam kejadian segari-hari. Dan kejadian itu
sungguh menguras emosi kita hingga menyeret kita dalam ambang batas kesabaran.
Kisah hidup manusia memang tidak bisa di samaratakan setiap
hari. Akan selalu ada gejolak dan riak-riak kecil menghalangi. Sesuatu yang
buruk terkadang sering membuat kita nekat dan tidak terkendali. Namun semua
masih bisa diatasi selama kita mau mendengarkan hati nurani.
Yah, hati nurani adalah rem yang di pasang oleh Tuhan agar
langkah kita terkendali. Tidak ngawur
dan memikirkan diri sendiri. Namun, ternyata di kehidupan modern ini, banyak
sekali hati nurani yang tidak berfungsi. Menakala pikir sudah jauh lebih tinggi
daripada hati, maka segala perbuatan sudah tidak akan terkendali. Baginya semua
halal itu boleh dan sah. Hingga berbuat salah pun, kita enggan mengakui bahkan
tetap merasa benar sendiri. Bila sudah demikian, serigala buruk dalam
dirinyalah yang menang. Dia gemuk, buas
menguasai diri manusia dengan begitu liarnya. Kenapa bisa begitu? Kembali pada paragraph
di pertama, karena dia sering kita kasih makan!
Seperti halnya kebaikan,keburukan pun butuh latihan. Seseorang
yang tidak biasa melakukan kejahatan tidak akan mampu melakukannya kepada siapa
pun. Jangankan menipu dalam skala besar, berbuat sedikit kesalahan saja,hati
nuraninya sudah berkedip-kedip memberi alarm. Dan bila alarm itu kita
abaikan,sekali, dua kali, maka lama kelamaan dia akan mati. Maka potensi bagi
serigala buruk itu untuk menggeliat. Bangkit dan tumbuh semakin kuat. Yah, apa
yang terjadi pada kita sekarang, adalah akibat dari seringnya kita abai kepada
bisikan hati nurani.
Kehidupan yang keras dan sulit di era modern ini. Di tunjang
oleh sesuatu yang serba instan. Mudah, gemerlap, membuat manusia berlomba-lomba
untuk mendapatkan segala kemudahan itu dengan tanpa berfikir ulang. Semua akan
menjadi sebuah penyesalan ketika kita telah jauh terjerumus, masuk ke dalam
lubang amarah dan dendam. Dimana hati kian kebas akan hal-hal baik di sekitar
kita. Dimana mata sudah taklagi melihat pancaran cinta dari mata dan senyum
orang-orang di sekitar. Diakui atau tidak, ini sudah menjadi fenomena zaman
edan. Saat ini kita hidup dan terperangkap dalam dunia yang carut marut, sibuk
oleh ambisi pribadi yang membabi buta tak kenal kompromi. Kita menjadikan diri
kita sendiri sebagai budak untuk meraih semua mimpi.
Sahabatku terkasih, dengan semakin berkembangnya tehnologi yang
membuat manusia yang tersebar di belahan bumi ini bisa saling berkomunikasi dan
interaksi dengan begitu mudahnya hanya dari layar HP, Ipad, laptop dan
lain-lain. Dimana kita kini lebih senang mengurung diri, diam dan bermain dalam
dunia fantasi. Menjadikan kita berdekatan di dunia maya namun jauh di dunia
nyata dengan orang-orang sekitar. Menjadikan hidup jadi tidak hidup. Kita tertawa
sebentar namun murung untuk beberapa saat. Sungguh sesuatu yang kita biasakan
menjadi begitu dominan dalam hidup kita sekarang, bukan?
Sesungguhnya tulisan ini saya jadikan terapi untuk diri saya
sendiri. Saya ingin kembali menjadi manusia yang benar-benar manusia setelah
beberapa hari di hantam masalah bertubi-tubi yang membuat saya stress dan
melakukan reaksi yang sangat keras. Sungguh saya juga tidak ingin hati saya
menjadi keras. Saya tetap ingin menjadi saya yang apa adanya, tertawa
mentertawakan hal remeh temeh dengan begitu mudahnya. Tidak ribut dan heboh
dengan sesuatu yang rumit dan terlalu wah. Saya ingin kembali LATIHAN sesuatu
yang membuat hati saya damai, salah satunya adalah menyalurkan hobby saya
menulis.
Saya ingin kembali menuliskan tentang kisah kasih sayang yang
tulus, bukan hanya untuk pencitraan. Saya ingin keluar rumah dan menyambut
matahari lalu menanam bunga-bunga dan aneka sayur. Saya ingin menjadi saya yang
sibuk mengurus dua putra. Saya ingin menjadi diri saya dengan kebiasaan lama
yaitu menyanyi dan membaca puisi. Sesuatu yang memang dunia saya. Yang saya
hadapi dan lakukan dengan penuh suka cita. Saya sungguh merindukan sebuah
perjumpaan dalam situasi penuh cinta dan kasih sayang. Agar serigala baik itu
tumbuh sehat dalam diri saya. sehingga energy yang di hasilkan baik juga
adanya.
Dalam geliat kehidupan yang serba keblablasan ini,
setidaknya saya masih ingin menjadi sebuah sumber kasih sayang, untuk
orang-orang sekitar dan dia yang mencintai saya dengan apa adanya. Dan akhirnya,
mari kita belajar untuk menerima dan melepaskan segala apa yang kita hadapi
setiap hari dengan lapang dada. Karena sesungguhnya, kita adalah NOL, yang tak
memiliki apa-apa kecuali cinta dari Tuhan dan sesama makluk di dunia ini.
Salam sayang J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar