Rabu, 25 November 2015

KEMBALI BERLATIH

KEMBALI BERLATIH

Pernahkan anda mendengar bahwa di dalam tubuh manusia, berdiam dua ekor serigala. Serigala itu adalah serigala baik dan buruk. Kedua serigala itu teruussss bertarung di dalam tubuh manusia. Nah,siapakah serigala yang menang? Adalah serigala yang sering kita kasih makan.
Sahabat, sering kali kita menemui, menghadapi, merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dalam kejadian segari-hari. Dan kejadian itu sungguh menguras emosi kita hingga menyeret kita dalam ambang batas kesabaran.

Kisah hidup manusia memang tidak bisa di samaratakan setiap hari. Akan selalu ada gejolak dan riak-riak kecil menghalangi. Sesuatu yang buruk terkadang sering membuat kita nekat dan tidak terkendali. Namun semua masih bisa diatasi selama kita mau mendengarkan hati nurani.

Yah, hati nurani adalah rem yang di pasang oleh Tuhan agar langkah kita terkendali.  Tidak ngawur dan memikirkan diri sendiri. Namun, ternyata di kehidupan modern ini, banyak sekali hati nurani yang tidak berfungsi. Menakala pikir sudah jauh lebih tinggi daripada hati, maka segala perbuatan sudah tidak akan terkendali. Baginya semua halal itu boleh dan sah. Hingga berbuat salah pun, kita enggan mengakui bahkan tetap merasa benar sendiri. Bila sudah demikian, serigala buruk dalam dirinyalah  yang menang. Dia gemuk, buas menguasai diri manusia dengan begitu liarnya. Kenapa bisa begitu? Kembali pada paragraph di pertama, karena dia sering kita kasih makan!

Seperti halnya kebaikan,keburukan pun butuh latihan. Seseorang yang tidak biasa melakukan kejahatan tidak akan mampu melakukannya kepada siapa pun. Jangankan menipu dalam skala besar, berbuat sedikit kesalahan saja,hati nuraninya sudah berkedip-kedip memberi alarm. Dan bila alarm itu kita abaikan,sekali, dua kali, maka lama kelamaan dia akan mati. Maka potensi bagi serigala buruk itu untuk menggeliat. Bangkit dan tumbuh semakin kuat. Yah, apa yang terjadi pada kita sekarang, adalah akibat dari seringnya kita abai kepada bisikan hati nurani.

Kehidupan yang keras dan sulit di era modern ini. Di tunjang oleh sesuatu yang serba instan. Mudah, gemerlap, membuat manusia berlomba-lomba untuk mendapatkan segala kemudahan itu dengan tanpa berfikir ulang. Semua akan menjadi sebuah penyesalan ketika kita telah jauh terjerumus, masuk ke dalam lubang amarah dan dendam. Dimana hati kian kebas akan hal-hal baik di sekitar kita. Dimana mata sudah taklagi melihat pancaran cinta dari mata dan senyum orang-orang di sekitar. Diakui atau tidak, ini sudah menjadi fenomena zaman edan. Saat ini kita hidup dan terperangkap dalam dunia yang carut marut, sibuk oleh ambisi pribadi yang membabi buta tak kenal kompromi. Kita menjadikan diri kita sendiri sebagai budak untuk meraih semua mimpi.

Sahabatku terkasih, dengan semakin berkembangnya tehnologi yang membuat manusia yang tersebar di belahan bumi ini bisa saling berkomunikasi dan interaksi dengan begitu mudahnya hanya dari layar HP, Ipad, laptop dan lain-lain. Dimana kita kini lebih senang mengurung diri, diam dan bermain dalam dunia fantasi. Menjadikan kita berdekatan di dunia maya namun jauh di dunia nyata dengan orang-orang sekitar. Menjadikan hidup jadi tidak hidup. Kita tertawa sebentar namun murung untuk beberapa saat. Sungguh sesuatu yang kita biasakan menjadi begitu dominan dalam hidup kita sekarang, bukan?

Sesungguhnya tulisan ini saya jadikan terapi untuk diri saya sendiri. Saya ingin kembali menjadi manusia yang benar-benar manusia setelah beberapa hari di hantam masalah bertubi-tubi yang membuat saya stress dan melakukan reaksi yang sangat keras. Sungguh saya juga tidak ingin hati saya menjadi keras. Saya tetap ingin menjadi saya yang apa adanya, tertawa mentertawakan hal remeh temeh dengan begitu mudahnya. Tidak ribut dan heboh dengan sesuatu yang rumit dan terlalu wah. Saya ingin kembali LATIHAN sesuatu yang membuat hati saya damai, salah satunya adalah menyalurkan hobby saya menulis.

Saya ingin kembali menuliskan tentang kisah kasih sayang yang tulus, bukan hanya untuk pencitraan. Saya ingin keluar rumah dan menyambut matahari lalu menanam bunga-bunga dan aneka sayur. Saya ingin menjadi saya yang sibuk mengurus dua putra. Saya ingin menjadi diri saya dengan kebiasaan lama yaitu menyanyi dan membaca puisi. Sesuatu yang memang dunia saya. Yang saya hadapi dan lakukan dengan penuh suka cita. Saya sungguh merindukan sebuah perjumpaan dalam situasi penuh cinta dan kasih sayang. Agar serigala baik itu tumbuh sehat dalam diri saya. sehingga energy yang di hasilkan baik juga adanya.

Dalam geliat kehidupan yang serba keblablasan ini, setidaknya saya masih ingin menjadi sebuah sumber kasih sayang, untuk orang-orang sekitar dan dia yang mencintai saya dengan apa adanya. Dan akhirnya, mari kita belajar untuk menerima dan melepaskan segala apa yang kita hadapi setiap hari dengan lapang dada. Karena sesungguhnya, kita adalah NOL, yang tak memiliki apa-apa kecuali cinta dari Tuhan dan sesama makluk di dunia ini.

Salam sayang J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar