Sebelum saya memulai tulisan ini,
ijinkan saya mengucap beribu terima kasih dan rasa hormat kepada Pak Lurah yang
menurut saya, sangat budiman, sederhana, kreatif dan sangat mencintai warganya
melebihi dirinya sendiri (terbukti dari tidak sempatnya beliau cuckur rambut).
Pak Lurah Choirul, begitu kami
memanggil beliau. Kemudian dia pasti akan tersenyum lebar dan menyalami kami
dengan ramah. Seperti dalam acara pagi itu, dimana beliau mengumpulkan ibu-ibu
PKK, jamaah pengajian, warga umum dan siapa saja yang mau ikut dalam acara
pelatihan mengolah blimbing tanpa limbah. Semua dilakukan sebagai upaya untuk
memajjukan ekonomi masyarakat desa dalam bersaing dalam MEA, Masyarakat Ekonomi
Asean. Semoga beliau, Bapak Lurah dan seluruh sahabatnya, mendapatkan pahala
yang melimpah ruah dari Allah SWT. Amiinn.
Siapa yang tak kenal buah ini? Bentuknya unik,
warna menarik dan kandungan vitamin C-nya yang tinggi, berguna sebagai
antioksidan, anti inflamasi, analgesic dan diuretic. Selain itu, kandungan
vitamin C juga bagus untuk penderita kanker. Belimbing atau yang disebut juga
sebagai Averrhoa Carambola memiliki khasiaat sebagai antipiretik dan
ekspektoran, sehingga secara tradisional dapat digunakan sebagai obat batuk
anak-anak.
Secara umum, belimbing juga
menjadi raja buah tropis karena kandungan airnya yang banyak. Belimbing sangat
nikmat bila dimakan saat siang, dan juga bisa dijadikan rujak buah. Nah,
sekarang di desa gogodeso ini, sebagai desa penghasil buah belimbing di
kabupaten Blitar, mengadakan pelatihan cara mengolah belimbing tanpa limbah!
Acara yang di gagas oleh Pak
Lurah Choirul juga Bapak Johaness Djuharlan, berpendapat bahwa belimbing yang
tak tahan lama ini, akan bisa diolah sebagai sebuah produk unggulan desa
Gogodeso. Hasil kenbun yang melimpah, yang dulunya hanya bergantung pada harga
pasar yang naik turun, sering mengakibatkan kerugian pada petani. Untuk itu
diperlukan sebuah ide kreatif untuk meningkatkan nilai jual buah belimbing.
Dari keinginan itulah, mereka mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga dan anggota PKK
untuk belajar membuat sari buah belimbing, sirup belimbing dan permen jelly
yang berbahan dasar ampas buah belimbing.
Ibu Saptini Mukti Rahajeng, SSi,
MSi sebagai pembicara dalam acara tersebut menuturkan tujuan pembelajaran pengolahan limbah agar peserta
mampu mengaplikasikan proses pengolahan buah Belimbing tanpa limbah dengan baik
dan benar. Seperti diketahui bahwa buah belimbing memiliki komponen yang
lengkap sehingga mendatangkan banyak manfaat. Dari hasil yang melimpah hingga
diolah menjadi produk pangan modifikasi, diharapkan akan meninhgkatkan ekonomi
masyarakat desa.
Buah belimbing dapat diolah
menjadi sari buah yang bisa bertahan hingga jangka waktu 3 minggu bila dioalh
dengan cara higienis. Bila dalam waktu 3 minggu sari buah belimbing tidak
habis, maka sariu buah tersebut dapat di olah menjadi sirup belimbing yang masa
pakainya bisa mencapai 6 bulan. Selain itu, ampas atai sisa perasan buah
belimbing bisa diolah menjadi permen jelly yang aman untuk di konsumsi
anak-anak karena dibuat tanpa bahan pengawet, hula alami dan juga menggunakan
tambahan karagen ( produk turunan rumput laut ) yang berserat tinggi, sehingga
baik untuk pencernaan. Dengan kemasan menarik dan jaminan rasa yang enak,
bahkan limbah buah belimbing juga memilliki nilai jual yang tinggi.
Pelatihan yang diadakan selama
dua hari ini, diikuti dengan sangat antusias oleh para peserta. Acara ini
diharapkan bukan hanya menjadi pemicu semangat para ibu-ibu untuk turut serta
menggerakkan ekoniomi keluarga, tapi juga gadang-gadang akan menjadi gerakan ekonomi
masyarakat desa Gogodeso agar ke depannya, dapat menjadi desa industry dan juga
desa wisata dengan produk olahan belimbingnya. Semangat terus ya, Pak Lurah…
Bravo untuk GODES-nya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar