Minggu, 21 Februari 2016

MENGOLAH BLIMBING TANPA LIMBAH DI GOGODESO


Sebelum saya memulai tulisan ini, ijinkan saya mengucap beribu terima kasih dan rasa hormat kepada Pak Lurah yang menurut saya, sangat budiman, sederhana, kreatif dan sangat mencintai warganya melebihi dirinya sendiri (terbukti dari tidak sempatnya beliau cuckur rambut).


Pak Lurah Choirul, begitu kami memanggil beliau. Kemudian dia pasti akan tersenyum lebar dan menyalami kami dengan ramah. Seperti dalam acara pagi itu, dimana beliau mengumpulkan ibu-ibu PKK, jamaah pengajian, warga umum dan siapa saja yang mau ikut dalam acara pelatihan mengolah blimbing tanpa limbah. Semua dilakukan sebagai upaya untuk memajjukan ekonomi masyarakat desa dalam bersaing dalam MEA, Masyarakat Ekonomi Asean. Semoga beliau, Bapak Lurah dan seluruh sahabatnya, mendapatkan pahala yang melimpah ruah dari Allah SWT. Amiinn.

 Siapa yang tak kenal buah ini? Bentuknya unik, warna menarik dan kandungan vitamin C-nya yang tinggi, berguna sebagai antioksidan, anti inflamasi, analgesic dan diuretic. Selain itu, kandungan vitamin C juga bagus untuk penderita kanker. Belimbing atau yang disebut juga sebagai Averrhoa Carambola memiliki khasiaat sebagai antipiretik dan ekspektoran, sehingga secara tradisional dapat digunakan sebagai obat batuk anak-anak.

Secara umum, belimbing juga menjadi raja buah tropis karena kandungan airnya yang banyak. Belimbing sangat nikmat bila dimakan saat siang, dan juga bisa dijadikan rujak buah. Nah, sekarang di desa gogodeso ini, sebagai desa penghasil buah belimbing di kabupaten Blitar, mengadakan pelatihan cara mengolah belimbing tanpa limbah!

Acara yang di gagas oleh Pak Lurah Choirul juga Bapak Johaness Djuharlan, berpendapat bahwa belimbing yang tak tahan lama ini, akan bisa diolah sebagai sebuah produk unggulan desa Gogodeso. Hasil kenbun yang melimpah, yang dulunya hanya bergantung pada harga pasar yang naik turun, sering mengakibatkan kerugian pada petani. Untuk itu diperlukan sebuah ide kreatif untuk meningkatkan nilai jual buah belimbing. Dari keinginan itulah, mereka mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga dan anggota PKK untuk belajar membuat sari buah belimbing, sirup belimbing dan permen jelly yang berbahan dasar ampas buah belimbing.

Ibu Saptini Mukti Rahajeng, SSi, MSi sebagai pembicara dalam acara tersebut menuturkan tujuan  pembelajaran pengolahan limbah agar peserta mampu mengaplikasikan proses pengolahan buah Belimbing tanpa limbah dengan baik dan benar. Seperti diketahui bahwa buah belimbing memiliki komponen yang lengkap sehingga mendatangkan banyak manfaat. Dari hasil yang melimpah hingga diolah menjadi produk pangan modifikasi, diharapkan akan meninhgkatkan ekonomi masyarakat desa.

Buah belimbing dapat diolah menjadi sari buah yang bisa bertahan hingga jangka waktu 3 minggu bila dioalh dengan cara higienis. Bila dalam waktu 3 minggu sari buah belimbing tidak habis, maka sariu buah tersebut dapat di olah menjadi sirup belimbing yang masa pakainya bisa mencapai 6 bulan. Selain itu, ampas atai sisa perasan buah belimbing bisa diolah menjadi permen jelly yang aman untuk di konsumsi anak-anak karena dibuat tanpa bahan pengawet, hula alami dan juga menggunakan tambahan karagen ( produk turunan rumput laut ) yang berserat tinggi, sehingga baik untuk pencernaan. Dengan kemasan menarik dan jaminan rasa yang enak, bahkan limbah buah belimbing juga memilliki nilai jual yang tinggi.

Pelatihan yang diadakan selama dua hari ini, diikuti dengan sangat antusias oleh para peserta. Acara ini diharapkan bukan hanya menjadi pemicu semangat para ibu-ibu untuk turut serta menggerakkan ekoniomi keluarga, tapi juga gadang-gadang akan menjadi gerakan ekonomi masyarakat desa Gogodeso agar ke depannya, dapat menjadi desa industry dan juga desa wisata dengan produk olahan belimbingnya. Semangat terus ya, Pak Lurah… Bravo untuk GODES-nya!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar