Dengan biduk kecil ini
Dulu ku ajak kau
Mengarungi samudra tanpa batas
Hanya bait-bait puisi
Menjadi mantra
Menjawab keraguan di matamu
Menjawab keraguan di hati orangtua
Melepas kita pergi di tepian pantai
Hingga hilang ditelan cakrawala
Hanya kekuatan cintamu
Yang mengobarkan api keberanian
Seteguh hati nelayan
Menentang ombak
Dan bencana yang siap menerkam
Kalau pagi ini, waktu mengantarku
Menjadi nahkoda perahu
Ijinkan aku bersamamu
Menyebarkan keabadian cinta
Sebuah puisi manis, dari hati yang juga manis. Menyembul pada
bibir yang tersenyum menebarkan aroma madu. Membuat sesiapa pun yang hadir
malam kemarin, menjadi bahagia. Bahagia. Bahagia. Seolah turut merasakan
taburan berkah dari yang Maha Cinta untuk umatnya yang selalu jatuh cinta.
Adalah dia, Bapak Bagus Putuparto dan Ibu Endang Kalimasada.
Menjadi sebuah keberuntungan bagiku untuk dapat menyaksikan
semua. Setidaknya acara semalam menjadikan ajang perjumpaan bagi para penggiat
seni, budaya dan sastrawan. Dan yang lebih jauh dari silaturahmi itu, aku
belajar tentang cinta yang cinta pada mereka.
Seperti apa yang dikatakan Ibu Endang: Alhamdulillah sudah 20 tahun kami bersama dan tak ada yang selingkuh
dan tak akan pernah selingkuh selamanya! Hatiku bergetar membaca selarik
kalimat ini. Sepertinya aku turut merasakann aura bahagia seorang ibu dua putra
yang tak henti melukis senyum di bibirnya. Apa dan kenapa ada perselingkuhan
itu pasti ada alasan. Dan segala alasan itu telah berhasil di tepis oleh
pasangan ini. Dan seperti apa yang kami saksikan semalam, saat mereka berada di
atas panggung memberi sambutan, lalu potong tumpeng bersama seluruh keluarga,
aku melihat bintang-bintang jatuh dari angkasa menerpa rumah mereka. Dan aku
yakin, para Malaikat yang sedang menunggu, mencatat segala perbuatan kami,
turut tersenyum karenanya. Mereka adalah simnol kebahagiaan dan aku, kami
seluruh hadirin, ikut berbahagia karenanya.
Selamat ulang tahun, Cintaku. Dan sebagai tanda selamat ulang
tahun, aku tandai dengan meluncurkan sebuah buku dengan judul JALANAN SUNYI
DOKTORANDUS KARTOMARMO. Sebuah buku yang memuat tentang perjalanan sunyi
kesenian di Blitar mulai dari grebek Pancasila, seniman muda Blitar hingga
pemberontakan PETA.
Kado yang unik, kukira. Di hari ulang tahun perkawinan, kadonya
sebuah buku dengan muatan perjalanan kesenian. Yah, karena yang berulang tahun
juga sebagai pelaku seni, penggiat budaya dan sastra. Yang aku tahu, bahwa seni
itu sendiri adalah keindahan. Dan keindahan itulah yang dihadiahkan untuk
kekasih hidupnya. Seberapapun berat sebuah perjuangan, nikmatilah dari sudut
pandang keindahan. Bahwasanya hidup adalah seni dari yang Maha Seni. Jadi,
jadikanlah hidup dengan penuh cinta agar tercipta kebahagiaan dan bahagia akan
berbuah keindahan. Bila sudah kau dapatkan keindahan itu, bagilah untuk
teman-temanmu, saudaramu, kerabatmu.
Maka malam kemarin kami bersua dalam suasana indah dan
bahagia. Semua kalangan berkumpul dari Walikota, Bupati, hingga pelaku seni dan
sastrawan dari luar kota. Semuanya indah. Penuh berkah dan pahala bertaburan dalam
setiap sudut langit. Tuhan menyaksikan dengan tersenyum setiapumatnya yang
menggelak tawa dan canda. Sampai tiba waktu pulang, aku masih membawa bahagia
itu dalam dada. Doa-doa melesat menembus langit kelam, jagalah cinta mereka,
Tuhan. Agar keindahan itu senantiasa ada. Selalu ada. Selamanya. Amin.
Siip, aku wis teka. Sing duwe omah endi?
BalasHapusHadirrr Pak Widi.. Matur nuwun sudah rawuh.. Monggo ngopi hhee
HapusAyo nda. . beh kapan bisa ketemu lagi ya??
BalasHapusSelamat buat Bapak Bagus dan Ibu Endang ^_^
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung, say..
BalasHapus