Jumat, 06 Mei 2016

MEREKA YANG SELALU INDAH DALAM CINTA



Dengan biduk kecil ini
Dulu ku ajak kau
Mengarungi samudra tanpa batas
Hanya bait-bait puisi
Menjadi mantra
Menjawab keraguan di matamu
Menjawab keraguan di hati orangtua
Melepas kita pergi di tepian pantai
Hingga hilang ditelan cakrawala
Hanya kekuatan cintamu
Yang mengobarkan api keberanian
Seteguh hati nelayan
Menentang ombak
Dan bencana yang siap menerkam
Kalau pagi ini, waktu mengantarku
Menjadi nahkoda perahu
Ijinkan aku bersamamu
Menyebarkan keabadian cinta

Sebuah puisi manis, dari hati yang juga manis. Menyembul pada bibir yang tersenyum menebarkan aroma madu. Membuat sesiapa pun yang hadir malam kemarin, menjadi bahagia. Bahagia. Bahagia. Seolah turut merasakan taburan berkah dari yang Maha Cinta untuk umatnya yang selalu jatuh cinta. Adalah dia, Bapak Bagus Putuparto dan Ibu Endang Kalimasada.
Menjadi sebuah keberuntungan bagiku untuk dapat menyaksikan semua. Setidaknya acara semalam menjadikan ajang perjumpaan bagi para penggiat seni, budaya dan sastrawan. Dan yang lebih jauh dari silaturahmi itu, aku belajar tentang cinta yang cinta pada mereka.


Seperti apa yang dikatakan Ibu Endang: Alhamdulillah sudah 20 tahun kami bersama dan tak ada yang selingkuh dan tak akan pernah selingkuh selamanya! Hatiku bergetar membaca selarik kalimat ini. Sepertinya aku turut merasakann aura bahagia seorang ibu dua putra yang tak henti melukis senyum di bibirnya. Apa dan kenapa ada perselingkuhan itu pasti ada alasan. Dan segala alasan itu telah berhasil di tepis oleh pasangan ini. Dan seperti apa yang kami saksikan semalam, saat mereka berada di atas panggung memberi sambutan, lalu potong tumpeng bersama seluruh keluarga, aku melihat bintang-bintang jatuh dari angkasa menerpa rumah mereka. Dan aku yakin, para Malaikat yang sedang menunggu, mencatat segala perbuatan kami, turut tersenyum karenanya. Mereka adalah simnol kebahagiaan dan aku, kami seluruh hadirin, ikut berbahagia karenanya. 



Selamat ulang tahun, Cintaku. Dan sebagai tanda selamat ulang tahun, aku tandai dengan meluncurkan sebuah buku dengan judul JALANAN SUNYI DOKTORANDUS KARTOMARMO. Sebuah buku yang memuat tentang perjalanan sunyi kesenian di Blitar mulai dari grebek Pancasila, seniman muda Blitar hingga pemberontakan PETA. 


Kado yang unik, kukira. Di hari ulang tahun perkawinan, kadonya sebuah buku dengan muatan perjalanan kesenian. Yah, karena yang berulang tahun juga sebagai pelaku seni, penggiat budaya dan sastra. Yang aku tahu, bahwa seni itu sendiri adalah keindahan. Dan keindahan itulah yang dihadiahkan untuk kekasih hidupnya. Seberapapun berat sebuah perjuangan, nikmatilah dari sudut pandang keindahan. Bahwasanya hidup adalah seni dari yang Maha Seni. Jadi, jadikanlah hidup dengan penuh cinta agar tercipta kebahagiaan dan bahagia akan berbuah keindahan. Bila sudah kau dapatkan keindahan itu, bagilah untuk teman-temanmu, saudaramu, kerabatmu.

Maka malam kemarin kami bersua dalam suasana indah dan bahagia. Semua kalangan berkumpul dari Walikota, Bupati, hingga pelaku seni dan sastrawan dari luar kota. Semuanya indah. Penuh berkah dan pahala bertaburan dalam setiap sudut langit. Tuhan menyaksikan dengan tersenyum setiapumatnya yang menggelak tawa dan canda. Sampai tiba waktu pulang, aku masih membawa bahagia itu dalam dada. Doa-doa melesat menembus langit kelam, jagalah cinta mereka, Tuhan. Agar keindahan itu senantiasa ada. Selalu ada. Selamanya. Amin.

5 komentar:

  1. Siip, aku wis teka. Sing duwe omah endi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hadirrr Pak Widi.. Matur nuwun sudah rawuh.. Monggo ngopi hhee

      Hapus
  2. Ayo nda. . beh kapan bisa ketemu lagi ya??

    BalasHapus
  3. Selamat buat Bapak Bagus dan Ibu Endang ^_^

    BalasHapus
  4. Terima kasih sudah berkunjung, say..

    BalasHapus