Sabtu, 11 Juni 2016

SERUNYA PENGALAMAN MENGAMBIL RAPOT





Bagi ibu lain, perihal menghadiri undangan wali murid dan mengambil rapot anak mungkin adalah sesuatu yang biasa. Tapi bagiku, ibu yang sudah puluhan tahun terpisah dari anak dan sangat jarang bisa berkesempatan mengambil rapot ke sekolah, adalah hal yang luar biasa. Bahkan sejak malam sebelumnya aku sudah memikirkan baju apa yang sekiranya pantas untuk aku kenakan.

Pagi tadi, adalah saat yang cukup membuat aku deg-degkan. Antara senang, bahagia dan khawatir akan teradi sesuatu. Misal: kalau aku akan menghadapi kenyataan pahit tentang anakku tak naik kelas atau, kalau anakku tercatat sebagai murid yang nakal sehingga mendapatkan catatan merah dari gurunya di sekolah. Semua itu cukup membuat aku sedikit grogi.

Sebelum acara  pengambilan rapot dimulai, kami berkumpul di aula sekolah guna mendengarkan sedikit wejangan atau pengumuman yang akan disampaikan oleh kepala sekolah dan jajaranya. Di sana, mereka menyampaikan tentang kriteria kenaikan kelas juga sedikit gambaran mengenai pembekalan tambahan yang akan dilakukan anak-anak kami di kelas tiga nanti. Aku mendengarkan dengan seksama bahkan mencatat beberapa perihal penting yang kukira harus kuketahui. Seperti program bidik misi atau beasiswa untuk siswa tertentu, karena jujur saja, aku pingin anakku mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dengan jalur beasiswa dan sebagainya.

Selesai memberikan berbagai pengarahan dan informasi, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada dewan guru. Pada kesempatan itu aku meminta jadwal pendalaman dan juga segala informasi mengenai program bidik misi dan beasiswa agar disampaikan langsung ke orangtua melalui email. Bukan tak percaya pada anak-anak tapi aku takut, anakku lupa atau bakal ketinggalan informasi terkini soal menyoal hal ini. Hehe.. barangkali ini efek dari terlalu nervousnya menjadi seorang ibu yang akan mengantarkan anaknya menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Kamudian, kami diarahkan menuju ruang kelas masing-masing. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya nama anakku dipanggil. Aku menerima rapot dan tanda tangan sebagai tanda bahwa aku sudah menerima rapotnya. Tapi, deg! Pak Guru menyuruhku untuk ke ruang BK (Bimbingan Konseling) seketika itu pula seribu pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Ada apa gerangan? Apakah anakku terkena kasus sehingga aku harus menemui guru BK? Dan saat aku berjalan menuju ruang BK, nyatanya aku senyum-senyum sendiri. Ingat saat aku SMA dulu, juga sering berurusan dengan guru BK. Ada saja kasusku saat itu. Yang terlambat, lah. Yang gak pakai sepatu lah. Yang hilang kartu tanda pelajar dan lain-lain. 

Sempat terpikir untuk menegur bahkan memarahi anakku bila ternyata dia ketahuan nakal di sekolah. Namun aku juga sadar, dulu mungkin aku jauh lebih bandel dari dia. Memang sih, orangtua perlu untuk menegur putranya bila melakukan kesalahan. Tapi melihat anak lelakiku sedikit nakal, atau sebenarnya aku lebih suka menyebutnya  aktif, kukira hal ini seru. Maka aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan memarahinya. Barangkali aku hanya akan tertawa bersamanya, bertukar kisah nakal kami. Juga mengenang kembali kenakalanku saat sekolah dulu. Yah, kurasa itu lebih efektif untuk memberinya pelajaran. Toh memang diusianya yang masih 16 tahun ini, dia masih dalam proses pencarian jati  diri. Jadi, nakal sedikit tak apalah. Untuk uji nyali.

Ternyata oh ternyata, ketika aku berada di ruang tamu sekolah bersama wali murid lain yang mempunyai kasus serupa, masalah kenapa aku dipanggil ke ruang itu adalah karena HP. Memang sih bebera bulan lalu ada razia kepemilikan HP di sekolah. Dan HP yang di sita salah satunya adalah milik anakku. 

Razia HP dilakukan beberapa bulan sekali untuk memantau pergaulan anak-anak. Karena banyak ditemukan, HP mereka diisi dengan vidio porno juga banyak yang sudah pacaran hingga SMS tak senonoh. Benar bahwa waktu itu HP anakku langsung dikembalikan oleh pihak guru karena tidak ditemukan hal aneh-aneh. Dan inilah yang aku pertanyakan. Kenapa aku masih harus dipanggil ke ruang ini? Kenapa aku masih harus tanda tangan bahwa kami siap menerima punisment yang akan diberikan pihak sekolah apabila kedapatan melanggar peraturan? Wong anakku tidak bersalah alias HP-nya bersih dari hal aneh-aneh. 

Aku beratanya apakah ini hukuman buat kami? Tentu saja ini bukan masalah tanda tangan tapi ketika aku tanda tangan itu berarti aku menerima tuduhan bahwa anakku bersalah. Dan lebel orang bersalah yang melekat pada anakku inilah yang aku takutkan. Haha.. bila ingat pagi tadi, sungguh aku merasa menjadi ibu paling militan dalam membela anak lelakiku. 

Tapi setelah membaca dengan teliti isi surat perjanjian itu, akhirnya kutanda tangani juga kertas yang terpampang di hadapanku. Gak perlu takut kena hukuman kalau memang kita tak bersalah kan, Nak? Akhirnya, pengamalam mengambil rapot kenaikan kelas pun kelar dengan segala perasaan haru, bahagia dan deg-degkan yang masih tersisa. Ternyata, anak lelakiku sudah dewasa. Dan sebentar lagi dia akan menjadi mahasiswa, dalam melanjutkan pendidikannya. Semoga, kelak ilmunya berguna bagi nusa, bangsa dan agamanya. Amin.

2 komentar: