Bagi ibu lain, perihal menghadiri
undangan wali murid dan mengambil rapot anak mungkin adalah sesuatu yang biasa.
Tapi bagiku, ibu yang sudah puluhan tahun terpisah dari anak dan sangat jarang
bisa berkesempatan mengambil rapot ke sekolah, adalah hal yang luar biasa. Bahkan
sejak malam sebelumnya aku sudah memikirkan baju apa yang sekiranya pantas
untuk aku kenakan.
Pagi tadi, adalah saat yang cukup
membuat aku deg-degkan. Antara senang, bahagia dan khawatir akan teradi
sesuatu. Misal: kalau aku akan menghadapi kenyataan pahit tentang anakku tak
naik kelas atau, kalau anakku tercatat sebagai murid yang nakal sehingga
mendapatkan catatan merah dari gurunya di sekolah. Semua itu cukup membuat aku
sedikit grogi.
Sebelum acara pengambilan rapot dimulai, kami berkumpul di
aula sekolah guna mendengarkan sedikit wejangan atau pengumuman yang akan
disampaikan oleh kepala sekolah dan jajaranya. Di sana, mereka menyampaikan
tentang kriteria kenaikan kelas juga sedikit gambaran mengenai pembekalan
tambahan yang akan dilakukan anak-anak kami di kelas tiga nanti. Aku mendengarkan
dengan seksama bahkan mencatat beberapa perihal penting yang kukira harus
kuketahui. Seperti program bidik misi atau beasiswa untuk siswa tertentu,
karena jujur saja, aku pingin anakku mengenyam pendidikan di perguruan tinggi
dengan jalur beasiswa dan sebagainya.
Selesai memberikan berbagai
pengarahan dan informasi, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada dewan
guru. Pada kesempatan itu aku meminta jadwal pendalaman dan juga segala
informasi mengenai program bidik misi dan beasiswa agar disampaikan langsung ke
orangtua melalui email. Bukan tak percaya pada anak-anak tapi aku takut, anakku
lupa atau bakal ketinggalan informasi terkini soal menyoal hal ini. Hehe.. barangkali
ini efek dari terlalu nervousnya menjadi seorang ibu yang akan mengantarkan
anaknya menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kamudian, kami diarahkan menuju
ruang kelas masing-masing. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya nama anakku
dipanggil. Aku menerima rapot dan tanda tangan sebagai tanda bahwa aku sudah
menerima rapotnya. Tapi, deg! Pak Guru menyuruhku untuk ke ruang BK (Bimbingan
Konseling) seketika itu pula seribu pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Ada apa
gerangan? Apakah anakku terkena kasus sehingga aku harus menemui guru BK? Dan saat
aku berjalan menuju ruang BK, nyatanya aku senyum-senyum sendiri. Ingat saat
aku SMA dulu, juga sering berurusan dengan guru BK. Ada saja kasusku saat itu. Yang
terlambat, lah. Yang gak pakai sepatu lah. Yang hilang kartu tanda pelajar dan
lain-lain.
Sempat terpikir untuk menegur
bahkan memarahi anakku bila ternyata dia ketahuan nakal di sekolah. Namun aku
juga sadar, dulu mungkin aku jauh lebih bandel dari dia. Memang sih, orangtua
perlu untuk menegur putranya bila melakukan kesalahan. Tapi melihat anak
lelakiku sedikit nakal, atau sebenarnya aku lebih suka menyebutnya aktif, kukira hal ini seru. Maka aku berjanji
pada diriku sendiri tidak akan memarahinya. Barangkali aku hanya akan tertawa
bersamanya, bertukar kisah nakal kami. Juga mengenang kembali kenakalanku saat
sekolah dulu. Yah, kurasa itu lebih efektif untuk memberinya pelajaran. Toh memang
diusianya yang masih 16 tahun ini, dia masih dalam proses pencarian jati diri. Jadi, nakal sedikit tak apalah. Untuk uji
nyali.
Ternyata oh ternyata, ketika aku
berada di ruang tamu sekolah bersama wali murid lain yang mempunyai kasus
serupa, masalah kenapa aku dipanggil ke ruang itu adalah karena HP. Memang sih
bebera bulan lalu ada razia kepemilikan HP di sekolah. Dan HP yang di sita
salah satunya adalah milik anakku.
Razia HP dilakukan beberapa bulan
sekali untuk memantau pergaulan anak-anak. Karena banyak ditemukan, HP mereka
diisi dengan vidio porno juga banyak yang sudah pacaran hingga SMS tak senonoh.
Benar bahwa waktu itu HP anakku langsung dikembalikan oleh pihak guru karena
tidak ditemukan hal aneh-aneh. Dan inilah yang aku pertanyakan. Kenapa aku
masih harus dipanggil ke ruang ini? Kenapa aku masih harus tanda tangan bahwa
kami siap menerima punisment yang
akan diberikan pihak sekolah apabila kedapatan melanggar peraturan? Wong anakku
tidak bersalah alias HP-nya bersih dari hal aneh-aneh.
Aku beratanya apakah ini hukuman
buat kami? Tentu saja ini bukan masalah tanda tangan tapi ketika aku tanda
tangan itu berarti aku menerima tuduhan bahwa anakku bersalah. Dan lebel orang
bersalah yang melekat pada anakku inilah yang aku takutkan. Haha.. bila ingat
pagi tadi, sungguh aku merasa menjadi ibu paling militan dalam membela anak lelakiku.
Tapi setelah membaca dengan
teliti isi surat perjanjian itu, akhirnya kutanda tangani juga kertas yang
terpampang di hadapanku. Gak perlu takut kena hukuman kalau memang kita tak
bersalah kan, Nak? Akhirnya, pengamalam mengambil rapot kenaikan kelas pun
kelar dengan segala perasaan haru, bahagia dan deg-degkan yang masih tersisa. Ternyata,
anak lelakiku sudah dewasa. Dan sebentar lagi dia akan menjadi mahasiswa, dalam
melanjutkan pendidikannya. Semoga, kelak ilmunya berguna bagi nusa, bangsa dan
agamanya. Amin.
Hihihi keren keren aku sampai ngiler bacanya. �� 😀
BalasHapusHihi.. Sodorin tissu
Hapus