Sabtu, 11 Juni 2016

PALSU




Aku datang! Dengan keberanian yang kupaksakan. Aku datang karena aku tak ingin mati karena sakit hati dan penasaran. Untuk itu aku ada di sini, menatap mereka yang duduk di pelaminan putih itu. Bunga-bunga menjuntai, bermekaran indah dan wangi. Orang-orang sibuk berlalu-lalang dengan senyum mengembang. Ayah ibunya, berdandan rapi lengkap dengan konde dan blangkonya. Juga sepasang orang tua lain yang berpakaian serupa. Kukira itu pasti mertuanya.

Aku datang sendiri. Setelah menolak tawaran sahabatku Ade untuk menemaniku datang kemari. “Aku bukan pengecut!” kataku padanya. Dan dia hanya menggeleng kepala, lalu berkata, ”Berjanjilah bahwa kau tak akan menangis dan pingsan di sana, Ria!”

Aku tak menjawab dan dengan sepeda motor, aku meluncur ke rumahnya. Janur kuning melengkung di gawang rumah Sunan, mantan tunanganku. Nyaliku ciut. Berkali-kali aku menelan ludah getir. Namun sudah kuputusankan untuk berani menatap mereka, walau hanya sebagai tamu tak diundang.

Berpuluh-puluh pasang mata menatapku. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Tentu saja mereka takut kalau aku akan membuat onar pesta perkawinan mereka. Tidak! Itu tak akan pernah kulakukan. Benar bahwa aku sedang sakit hati karena penghianatan yang mereka lakukan. Namun aku masih cukup punya harga diri untuk mempermalukan diri sendiri. Walau pahit, aku sudah menerimanya dengan lapang dada. Untuk itu aku datang kemari, mencari obat dan penawar rasa sakit dari lukaku ini. 

Banyak teman menyarankan agar tidak datang ke pesta pernikahan mereka. Namun kutepis dengan alasan bahwa melihat mereka bersanding di pelaminan dengan mata kepala sendiri adalah obat dari segala luka. Dengan keberanian melihat mereka, aku akan sadar bahwa semua benar-benar sudah selesai. Bahwa antara aku dan dia memang tak berjodoh. Dan dengan memberikan doa restu kepada mereka, aku akan melepas segala sakit hati ini. Aku akan melawannya dengan keiklasan yang kudapat dari melihat kenyataan bahwa Sunan dan Ida, sekarang sudah resmi menjadi suami istri. 

“Kau akan mati berdiri!” kata Ade lagi, “lupakan saja penghianat itu. Lebih baik malam ini kita pergi karaoke untuk melepas stress!”

“Kita  akan pergi karaoke, tapi setelah aku menjumpai mereka. Aku janji, tak akan menangis apalagi mati berdiri!”

“Dasar keras kepala!” umpatnya. Aku hanya diam.

Namanya Ida. Dia sahabatku sejak kami masih sekolah SMA. Begitu dekat persahabatan kami sehingga kami sering bertukan baju dan kerudung saat kami hendak pergi. Maklumlah pakaian kami terbatas. Agar tampak selalu kekinian, maka kami sepakat untuk saling pinjam pakaian dan kerudung, bahkan juga sandal dan sepatu. Tapi, sama sekali aku tak menyangka bila akhirnya aku dan dia juga bertukan peran dalam menemani sosok lelaki bernama Sunan.

Rahasia itu aku sampaikan padanya. Bahkan sebelum aku memutuskan untuk pergi merantau ke luar negeri demi mencari bekal hidup. Kukatakan pada Ida bahwa cinta kami tak direstui oleh kedua orang tua kami. Karena aku anak sulung, dan Sunan pun sama. Mereka bilang, sesama anak sulung dilarang menikah. Juga karena kondisi ekonomi keluargaku yang tak mampu, yang membuat keluarga Sunan tak begitu merestui.

Namun, Sunan bilang dia mencintaiku. Dia berjanji bahwa dia akan memperjuangkan cinta kami sampai di pelaminan.  Bahkan dia juga yang mendukung aku untuk bekerja dahulu, tak buru-buru menikah sebelum kami sama-sama siap berumah tangga. Kini, lihatlah itu, sebuah pelaminan megah terpampang di hadapanku. Sementara aku hadir hanya sebagai tamu. Bukan sebagai mempelai yang diperjuangkan cintanya oleh lelaki yang kujaga cintanya bertahun-tahun lamanya.

Suatu ketika aku pernah mengeluh pada Ida. Seorang sahabat yang selama ini kupercaya menggenggam semua rahasia hati yang tak terungkap. Padanya kukatakan tentang kerinduanku pada Sunan. Juga kekhawatiran kalau-kalau cinta kami kandas di tengah jalan. Ida, sahabatku yang kuanggap baik itu selalu perhatian dan tekun mendengarkan. Bahkan bila aku berkirim surat kepada Sunan, atau hadiah-hadiah kecil sebagai ucapan selamat ulang tahun atau hadiah kelulusan, ke alamat Idalah aku menujukan semua pesan. Tapi kini...

“Kau jangan khawatir, Ria. Sunan pasti akan menunggumu. Kukira dia sama denganmu, sangat mencintaimu. Sabarlah. Kuatlah. Jangan terlalu lebay terus-terusan memikirkan dia di sana. Toh juga dia belum tentu memikirkanmu, kan? Lebih baik kau fokus kerja. Jangan sampai lalai mengerjakan tugas dari majikan. Bila butuh teman curhat, ada aku di sini. Ok? Baik-baiklah kau di sana. Jangan melamun dan memikirkan Sunan terus. Nanti kamu sakit!”

Oh, Ida! Kalimat manis itu yang selalu dia ucapkan padaku kala itu. Dan aku begitu percaya padanya. Bahkan aku pernah bercerita tentang mimpi indah kami berdua, membangun sebuah rumah kecil setelah menikah. Keyakinan itu kuat bahwa orangtua akan menyetujui bila kami sudah berhasil menjadi manusia yang mandiri. Dan ternyata semua dukungannya itu palsu! Palsu!

Sejujurnya aku sangat sakit hati. Mungkin bila yang menikah dengan Sunan itu bukanlah sahabatku Ida, barangkali tak sesakit ini rasanya. Namun nama Sunan dan Ida yang saling bertaut dalam kartu undangan itu fakta. Betapa pun aku berusaha tak mempercayainya.

Suara musik kebogiro dari kaset bertalu-talu merdu. Para undangan berdiri serempak karena acara temu pengantin akan segera dilaksanakan. Ida dengan senyum mengembang berdiri di pelaminan menunggu Sunan yang diiring datang dengan beberapa seserahan. Aku bersembunyi dibalik tamu-tamu undangan, menahan gemuruh rasa yang entah. Mataku menghangat, namun segera kuingat janjiku pada Ade. Kuambil tissu yang telah kusiapkan dalam saku. Aku harus kuat. Harus tegar.

Sepasang pengantin baru tengah duduk di pelaminan putih. Para penyanyi silih berganti menghibur para hadirin dengan sebelumnya saling mengucap selamat kepada mempelai berdua. Para tamu sudah menuju meja panjang yang penuh dengan aneka hidangan. Beberapa ada yang berfoto bersama mempelai. Sementara aku masih duduk di pojok ruangan, sibuk menenangkan hati dan memahami bahwa ini sudah terjadi. Karenanya aku datang kemari untuk menyaksikan hal paling menyakitkan dalam hidupku. Tubuhku gemetar menahan emosi namun kuyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus kuat. Sangat kuat seperti bangunan beton di negeri rantau.

Aku tahu bahwa cinta tak harus memiliki. Bahwa hidup, mati, jodoh dan rejeki sama sekali bikan hak kita untuk menentukan. Aku kembalikan ini semua kepada Dia yang telah menciptakan aku, hidupku dan segala kisah pilunya. Aku harus menerimanya dengan tangan terbuka dan yakin bahwa aku akan behegia suatu hari kelak. Aku menghela nafas panjang dan aku pun berjalan. Kumantapkan langkah menuju pelaminan putih itu. Di hadapanku, ida tampak gugup dan bungung. Sementara Sultan terduduk kaku di atas singgah sananya. Aku tersenyum.

Tangan kami sama-sama dingin. Tapi aku bisa merasakan keringat dingin merembes di dalam bajuku. Aku nyaris jatuh saat tangan kami bersalaman. Bibir Sultan gemetar dan aku tak bisa menahan gejolak untuk memeluknya sekaligus mengumpatinya sebagai lelaki jahanam. 

Ida, dengan gemetar mengulurkan tangannya menyambut tanganku yang basah. Lirih aku mengucap kata selamat namun sedikit pun aku tak menangis. Aku merasa bangga sudah berani menghadapi kenyataan buruk ini dan sekarang saatnya aku untuk pergi. Melangkah maju menyongsong masa depan dan melupakan segala masa lalu. Aku telah berhasil mengatasirasa takut dan sakit hati karena janji palsu dan sebuah persahabatan yang juga palsu. Tulus aku berdoa agar mereka bahagia, pun doa yang sama kupanjatkan pada diriku sendiri.

Di dalam perjalanan pulang aku seperti burung yang terbang menembus awan gemawan. Aku bebas. Aku lepas. Kupeluk sahabatku Ade yang berlari menyambutku di halaman rumah. “Ria.. kau hebat! Kau luar biasa!” katanya. Aku bertanya-tanya apa iya aku hebat dan luar biasa? Sementara saat ini, di dalam kamar ini, aku sendirian dan menangis sejadi-jadinya. Memeluk bantal dan guling bahkan memukulnya berulang kali lalu melemparnya ke dinding bisu. Aku merasa mereka tak mengerti akan keadaanku yang lara. Sangat lara. Membayangkan kedua pengantin itu sedang berkasih mesra menikmati indahnya malam pertama. Dalam hati aku menjerit, “Kenapa bukan aku? Kenapa?”(*)


3 komentar: