Sabtu, 16 Juli 2016

HIKMAH RAMADHAN DAN LEBARAN 2016



2016 adalah tahun ke 2, dari semenjak aku pulang ke Indonesia. Setahun lalu, aku pulang tepat pada hari ke 3 bulan Ramadhan, dan bisa berlebaran bersama keluarga tercinta. Namun ada yang beda di ramadhan ke 2 setelah kepulangan. Hal yang paling nyata adalah bertambahnya teman, yang datang ke rumah pun yang aku kunjungi.

Ramadhan dan hari lebaran boleh jadi adalah hari paling langka aku nikmati semenjak 14 tahun silam. Sejak tahun 2001, aku lebih banyak merantau ke beberapa negara dan propinsi seperti: Taiwan, Hongkong dan Bali. Tak usah kuceritakan kenapa aku merantau selama itu, ya? Anggap saja itu adalah kawah candradimuka bagiku, untuk menuju proses pendewasaan, hehe..

Tahun 2015, aku memutuskan untuk berani pulang dan bertekat bahwa aku harus bisa hidup di Indonesia, Blitar khususnya. Aku akan meninggalkan zona nyaman dan memulai sesuatu yang benar-benar baru di kotaku. Bayangkan saja, 14 tahun merantau, aku bahkan banyak yang lupa nama tetangga. Anak-anak yang dulu masih kecil saat kutinggal, kini sudah tumbuh dewasa dengan wajah yang berubah. Lalu bagaimana aku akan memulai sebuah usaha bila nyatanya aku ini buta, alias tak tau medan? Istilahnya aku benar-benar mulai dari titik nol. Beradaptasi dan pengenalan kembali terhadap lingkungan. Pelan-pelan aku mulai memiliki jaringan komunitas juga organisasi yang secara kebetulan, dipertemukan Tuhan untukku. 

Di tahun 2016 ini, aku sudah masuk dalam beberapa komunitas antara lain: FLP Blitar, gabung dalam grup keroncong Ojo Dumeh, menjadi kontributor media BlitarTourism, dan membuka bisnis kecil-kecilan meski masih jatuh bangun seperti: jualan mie ayam MAMA dan lain sebagainya. Namun menjelang lebaran, aku mendapatkan jalan rejeki yang tak terduga yaitu jualan kue kering lebaran, stik keju, kaos dan sepatu meski belum banyak, tapi hal itu wajib aku syukuri sebagai langkah awal yang baik.

Dari hasil berjualan itu, pada ramadhan tahun ini aku bisa membelikan beberapa potong pakaian untuk anakku (meski pakaian baru bukan hal wajib di hari lebaran) dan menyajikan kue-kue lebaran dari hasil tanganku sendiri. Ada kue nastar, putri salju, kue kacang, kastangel, stik bawang dan stik keju. Lumayan capek juga ternyata bikin kue. Butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra. Untungnya anak lelakiku Avic, yang sudah berumur 16 tahun, mau turun tangan membantu. Di situlah hikmah paling besar yang aku rasakan. Dari media kue lebaran, aku juga mengajarkan kepadanya tentang arti bekerja, sabar dan telaten demi tujuan yang kita inginkan. Selebihnya adalah, komunikasi diantara kami jadi lebih intens. Di sela bekerja, aku sering menanyakan (sambil menyelidiki) apakah dia sudah punya pacar, bagaimana sekolahnya, siapa guru favoritnya, siapa teman akrabnya, menanyakan nama teman perempuannya dan nama teman yang sering datang ke rumah. Dengan bahasa yang lebih menyerupai sahabat, aku ingin mengontrol sejauh mana pergaulan anakku yang sudah mulai beranjak dewasa.

Takbir! Adalah hal yang paling dirindukan setiap perantau. Aku pernah merasakannya sendiri. Saat malam takbir dan saat itu aku masih berada jauh diperantauan, apa yang bisa kukerjakan hanya menangis sambil bertakbir sendiri dalam hati. Saat itu aku merindukan anak-anak dan ibuku. Namun apa daya, saat itu aku harus bekerja dan hanya dapat mengirim biaya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi kali ini, aku berkesempatan untuk mengikuti dan meliput langsung kegiatan takbir akbar bahkan parade drum yang diadakan di kota Blitar. Alhamdulillah, Allah SWT sudah menjawab semua inginku. Berkarya di negeri sendiri dan ikut andil dalam memajukan pariwisata kota Blitar adalah impianku. 

Oh iya, hal lain yang sangat menarik adalah saat aku mulai nyelengi atau menabung dalam gentong plastik selama setahun penuh. Aku menabung uang recehan dua ribu dan lima ribuan. Setiap kali ada rejeki, aku sisihkan sebagian uang itu untuk persiapan lebaran tahun depan. Kali ini jumlahnya ternyata lumayan, loh! Dan malam sebelum lebaran, aku memasukkan uang recehan itu ke dalam amplop yang kusediakan untuk anak-anak kecil. Sebuah ritual yang paling aku sukai setiap berkesempatan lebaran di rumah. 

Lebaran ini, tamu-tamu yang datang ke rumah juga lebih beragam. Selain saudara dan para tetangga, teman-teman dari komunitas juga hadir untuk berlebaran. Kami berbincang banyak hal mulai dari budaya, berbagi informasi dan semangat agar terus getol untuk berkarya dengan hati. Berkarya atas dasar cinta. Bukan hanya materi semata. Karena bila kita sudah mendahulukan cinta dalam berkarya, InsyaAllah akan dapat menciptakan sebuah karya yang jujur dan sampai ke hati penikmatnya. Amin.
Demikian sekelumit kisahku di ramadhan dan lebaran tahun  2016 ini. Sebenarnya masih ada banyak kisah lagi yang ingin kuceritakan namun kiranya tulisan ini terlalu panjang, akan membuat teman-teman semakin bosan, hahaha... Jadi, bagaimana bila setelah ini kita agendakan untuk bertemu, ngopi dan ngobrol tentang banyak hal seputar sastra, seni tulis, kisah hidup, cita-cita dan lain sebagainya.  Ok, ya?!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar