2016
adalah
tahun ke 2, dari semenjak aku pulang ke Indonesia. Setahun lalu, aku pulang
tepat pada hari ke 3 bulan Ramadhan, dan bisa berlebaran bersama keluarga
tercinta. Namun ada yang beda di ramadhan ke 2 setelah kepulangan. Hal yang
paling nyata adalah bertambahnya teman, yang datang ke rumah pun yang aku
kunjungi.
Ramadhan dan hari
lebaran boleh jadi adalah hari paling langka aku nikmati semenjak 14 tahun
silam. Sejak tahun 2001, aku lebih banyak merantau ke beberapa negara dan
propinsi seperti: Taiwan, Hongkong dan Bali. Tak usah kuceritakan kenapa aku
merantau selama itu, ya? Anggap saja itu adalah kawah candradimuka bagiku,
untuk menuju proses pendewasaan, hehe..
Tahun 2015, aku
memutuskan untuk berani pulang dan bertekat bahwa aku harus bisa hidup di
Indonesia, Blitar khususnya. Aku akan meninggalkan zona nyaman dan memulai
sesuatu yang benar-benar baru di kotaku. Bayangkan saja, 14 tahun merantau, aku
bahkan banyak yang lupa nama tetangga. Anak-anak yang dulu masih kecil saat
kutinggal, kini sudah tumbuh dewasa dengan wajah yang berubah. Lalu bagaimana
aku akan memulai sebuah usaha bila nyatanya aku ini buta, alias tak tau medan?
Istilahnya aku benar-benar mulai dari titik nol. Beradaptasi dan pengenalan
kembali terhadap lingkungan. Pelan-pelan aku mulai memiliki jaringan komunitas
juga organisasi yang secara kebetulan, dipertemukan Tuhan untukku.
Di tahun 2016 ini, aku
sudah masuk dalam beberapa komunitas antara lain: FLP Blitar, gabung dalam grup
keroncong Ojo Dumeh, menjadi kontributor media BlitarTourism, dan membuka
bisnis kecil-kecilan meski masih jatuh bangun seperti: jualan mie ayam MAMA dan
lain sebagainya. Namun menjelang lebaran, aku mendapatkan jalan rejeki yang tak
terduga yaitu jualan kue kering lebaran, stik keju, kaos dan sepatu meski belum
banyak, tapi hal itu wajib aku syukuri sebagai langkah awal yang baik.
Dari hasil berjualan
itu, pada ramadhan tahun ini aku bisa membelikan beberapa potong pakaian untuk
anakku (meski pakaian baru bukan hal wajib di hari lebaran) dan menyajikan
kue-kue lebaran dari hasil tanganku sendiri. Ada kue nastar, putri salju, kue
kacang, kastangel, stik bawang dan stik keju. Lumayan capek juga ternyata bikin
kue. Butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra. Untungnya anak lelakiku Avic, yang
sudah berumur 16 tahun, mau turun tangan membantu. Di situlah hikmah paling
besar yang aku rasakan. Dari media kue lebaran, aku juga mengajarkan kepadanya
tentang arti bekerja, sabar dan telaten demi tujuan yang kita inginkan.
Selebihnya adalah, komunikasi diantara kami jadi lebih intens. Di sela bekerja,
aku sering menanyakan (sambil menyelidiki) apakah dia sudah punya pacar,
bagaimana sekolahnya, siapa guru favoritnya, siapa teman akrabnya, menanyakan
nama teman perempuannya dan nama teman yang sering datang ke rumah. Dengan
bahasa yang lebih menyerupai sahabat, aku ingin mengontrol sejauh mana
pergaulan anakku yang sudah mulai beranjak dewasa.
Takbir! Adalah hal yang
paling dirindukan setiap perantau. Aku pernah merasakannya sendiri. Saat malam
takbir dan saat itu aku masih berada jauh diperantauan, apa yang bisa
kukerjakan hanya menangis sambil bertakbir sendiri dalam hati. Saat itu aku
merindukan anak-anak dan ibuku. Namun apa daya, saat itu aku harus bekerja dan
hanya dapat mengirim biaya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi kali
ini, aku berkesempatan untuk mengikuti dan meliput langsung kegiatan takbir
akbar bahkan parade drum yang diadakan di kota Blitar. Alhamdulillah, Allah SWT
sudah menjawab semua inginku. Berkarya di negeri sendiri dan ikut andil dalam
memajukan pariwisata kota Blitar adalah impianku.
Oh iya, hal lain yang
sangat menarik adalah saat aku mulai nyelengi
atau menabung dalam gentong plastik selama setahun penuh. Aku menabung uang
recehan dua ribu dan lima ribuan. Setiap kali ada rejeki, aku sisihkan sebagian
uang itu untuk persiapan lebaran tahun depan. Kali ini jumlahnya ternyata
lumayan, loh! Dan malam sebelum lebaran, aku memasukkan uang recehan itu ke
dalam amplop yang kusediakan untuk anak-anak kecil. Sebuah ritual yang paling
aku sukai setiap berkesempatan lebaran di rumah.
Lebaran ini, tamu-tamu
yang datang ke rumah juga lebih beragam. Selain saudara dan para tetangga,
teman-teman dari komunitas juga hadir untuk berlebaran. Kami berbincang banyak
hal mulai dari budaya, berbagi informasi dan semangat agar terus getol untuk
berkarya dengan hati. Berkarya atas dasar cinta. Bukan hanya materi semata.
Karena bila kita sudah mendahulukan cinta dalam berkarya, InsyaAllah akan dapat
menciptakan sebuah karya yang jujur dan sampai ke hati penikmatnya. Amin.
Demikian sekelumit
kisahku di ramadhan dan lebaran tahun
2016 ini. Sebenarnya masih ada banyak kisah lagi yang ingin kuceritakan
namun kiranya tulisan ini terlalu panjang, akan membuat teman-teman semakin bosan,
hahaha... Jadi, bagaimana bila setelah ini kita agendakan untuk bertemu, ngopi
dan ngobrol tentang banyak hal seputar sastra, seni tulis, kisah hidup,
cita-cita dan lain sebagainya. Ok, ya?!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar