Kamis, 25 Agustus 2016

PAGELARAN LUDRUK dan DIDIK NINI THOWOK






Tanggal 21 Agustus 2016 akan menjadi hari yang bahagia bagiku. Kenapa pasal? Karena pada tanggal itu aku bertemu dengan idola sejak kecil. Dulu aku sering melihatnya tampil di layar kaca dengan tarian fenomenal. Berbagai tarian dengan menggunakan topeng dan posisi tangan terbalik di punggung, luwes dan gemulai, sudah benar-benar bisa menghipnotis mata kecilku yang lekat memandang layar kaca. 

Saat itu, aku melihat sebuah pengumuman bahwa Mas Didik Nini Thowok akan hadir di kota Malang untuk mendukung pagelaran seni ludruk yang nyaris punah. Karena kepedulian para seniman dari kota Malang, dan disambut baik oleh dinas kebudayaan setempat, mereka berhasil menampilkan pagelaran ludruk di gedung kesenian Gajayana yang didukung penuh oleh mas Didik Nini Thowok.
Acara dimulai pada pukul 19.00, diawali dengan pagelaran uyon-uyon oleh para pesinden muda. Kemudian lanjut dengan tetarian yang dibawakan oleh para penggiat budaya kota malang antara lain tari Kepontal-pontal dan ngidung oleh para tandak dengan pakaian tradisional kebaya. Lalu, Pak Yongki Kurniawan selaku koordinator acara, melelang sampur mas Didik Nini Thowok seharga 5.000.000 sebagai biaya operasional acara yang mencapai angka 12.500.000.

Betapa aku salut kepada sahabat sekaligus inspirator yang satu ini. Beliau adalah pembuat topeng, penari dan penggiat seni budaya yang tak pernah pupus semangat untuk menyuarakan kembali betapa kita bangsa Indonesia memiliki budaya yang adilihung. Bahwasanya kita harus mencintai dan membelanya dari gempuran budaya asing yang masuk dengan gampangnya ke Indonesia. Dengan acara yang diprakarsai oleh beliau ini, seolah beliau menyerukan bahwa jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan keragaman budaya.


Setelah melewati serangkaian acara, tiba saat pertunjukan utama yaitu pagelaran ludruk oleh Lerok Anyar yang membawakan lakon Sawunggaling. Kisah perjuangan seorang pemuda desa yang larut dalam upaya mengusir penjajah Belanda dengan dibumbui kisah asmara romantis dua insan muda. Sebuah karya yang apik, yang digarap dan dipersiapkan dengan sangat singkat oleh sang sutradara, dalam waktu dua minggu.

Di tengah acara, Mas Didik yang barlaku sebagai dayang sang putri, menampilkan tetembangan dan tarian yang sungguh sangat membuat aku terpukau! Gayanya yang gemulai, senyum dan tutur bahasanya yang sopan dan lembut, membuat aku semakin kagum atas sosok seorang Didik Nini Thowok. Bagiku dialah seniman sejati. Yang mampu menyerap saripati keindahan dunia menjadi seni yang enak dinikmati. Tak peduli betapa banyak hujatan yang ditimpakan oleh beliau, bagiku Mas Didik Nini Thowok adalah aset bangsa yang harus diakui oleh negara dan ditularkan ilmunya kepada generasi penerus kita.

Mengingat sedikit sekali pemuda pemudi pada zaman sekarang ini yang tak lagi peduli kepada kebudayaan bangsa, dan saat melihat Mas Didik Nini Thowok melenggak lenggok di atas panggung, sejujurnya aku merasa haru. Dalam era kemajuan zaman dimana segala sarana dan fasilitas untuk belajar ini begitu mudah, namun kita seperti kehilangan gairah untuk mengenal bahkan menjadi pelaku dan bagian dari serangkaian adat itu sendiri. Lalu pertanyaanya adalah: apa benar kita sudah kehilangan jati diri?

Melihat Pak Yongki dan Mas Didik yang masih mengobarkan semangat dan berharap dapat mempengaruhi minat orang lain untuk lebih mencintai budaya sendiri, aku jadi ikut semangat. Setidaknya aku masih bisa memberikan sedikit kemampuan dan kecintaanku dalam dunia seni budaya kepada anak-anakku. Dari sana, kuiharap mereka lebih mengenal budaya sendiri dan menjadikannya pondasi dalam menghadapi gempuran budaya asing.

Oh iya, sedikit pengetahuan yang kudapat saat wawancara bersama sang sutradara, bahwasanya kenapa sebagian pemain ludruk itu waria. Dengan gayanya yang santun, beliau menjelaskan bahwasanya dulu, aslinya pemain ludruk adalah memang laki-laki  tapi tidak banci. Mula-mula dia adalah pengamen dan ketika semakin banyak orang menyukai caranya bernyanyi, maka dia mengumpulkan beberapa teman untuk bermain bersama dan untuk menarik perhatian para penonton, maka dia berakting menggunakan pakaian wanita sebagai tuntutan profesi. Jadi, apabila ada anggapan bahwa pertunjukan ludruk itu tidak layak tayang karena seluruh pemainya banci adalah tidak benar!

Jadi, ini merupakan PR bagi kita bersama untuk mengenalkan kembali, juga mendukung setiap kegiatan budaya yang diadakan dengan tanpa pamrih oleh para pelaku seni. Tidak ada hal paling membanggakan kecuali melihat mereka bisa terus exis dengan keragaman petuah dan pitutur agung yang dikemas dalam sebuah cerita yang apik. Salam budaya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar