Tanggal 21 Agustus 2016 akan menjadi hari yang bahagia
bagiku. Kenapa pasal? Karena pada tanggal itu aku bertemu dengan idola sejak
kecil. Dulu aku sering melihatnya tampil di layar kaca dengan tarian fenomenal.
Berbagai tarian dengan menggunakan topeng dan posisi tangan terbalik di
punggung, luwes dan gemulai, sudah benar-benar bisa menghipnotis mata kecilku
yang lekat memandang layar kaca.
Saat itu, aku melihat sebuah pengumuman bahwa Mas Didik Nini
Thowok akan hadir di kota Malang untuk mendukung pagelaran seni ludruk yang
nyaris punah. Karena kepedulian para seniman dari kota Malang, dan disambut
baik oleh dinas kebudayaan setempat, mereka berhasil menampilkan pagelaran
ludruk di gedung kesenian Gajayana yang didukung penuh oleh mas Didik Nini
Thowok.
Acara dimulai pada pukul 19.00, diawali dengan pagelaran
uyon-uyon oleh para pesinden muda. Kemudian lanjut dengan tetarian yang
dibawakan oleh para penggiat budaya kota malang antara lain tari Kepontal-pontal
dan ngidung oleh para tandak dengan pakaian tradisional kebaya. Lalu, Pak
Yongki Kurniawan selaku koordinator acara, melelang sampur mas Didik Nini
Thowok seharga 5.000.000 sebagai biaya operasional acara yang mencapai angka
12.500.000.
Betapa aku salut kepada sahabat sekaligus inspirator yang
satu ini. Beliau adalah pembuat topeng, penari dan penggiat seni budaya yang
tak pernah pupus semangat untuk menyuarakan kembali betapa kita bangsa
Indonesia memiliki budaya yang adilihung. Bahwasanya kita harus mencintai dan
membelanya dari gempuran budaya asing yang masuk dengan gampangnya ke
Indonesia. Dengan acara yang diprakarsai oleh beliau ini, seolah beliau menyerukan
bahwa jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan
keragaman budaya.
Setelah melewati serangkaian acara, tiba saat pertunjukan
utama yaitu pagelaran ludruk oleh Lerok Anyar yang membawakan lakon
Sawunggaling. Kisah perjuangan seorang pemuda desa yang larut dalam upaya mengusir
penjajah Belanda dengan dibumbui kisah asmara romantis dua insan muda. Sebuah
karya yang apik, yang digarap dan dipersiapkan dengan sangat singkat oleh sang
sutradara, dalam waktu dua minggu.
Di tengah acara, Mas Didik yang barlaku sebagai dayang sang
putri, menampilkan tetembangan dan tarian yang sungguh sangat membuat aku
terpukau! Gayanya yang gemulai, senyum dan tutur bahasanya yang sopan dan
lembut, membuat aku semakin kagum atas sosok seorang Didik Nini Thowok. Bagiku
dialah seniman sejati. Yang mampu menyerap saripati keindahan dunia menjadi
seni yang enak dinikmati. Tak peduli betapa banyak hujatan yang ditimpakan oleh
beliau, bagiku Mas Didik Nini Thowok adalah aset bangsa yang harus diakui oleh
negara dan ditularkan ilmunya kepada generasi penerus kita.
Mengingat sedikit sekali pemuda pemudi pada zaman sekarang
ini yang tak lagi peduli kepada kebudayaan bangsa, dan saat melihat Mas Didik
Nini Thowok melenggak lenggok di atas panggung, sejujurnya aku merasa haru.
Dalam era kemajuan zaman dimana segala sarana dan fasilitas untuk belajar ini
begitu mudah, namun kita seperti kehilangan gairah untuk mengenal bahkan
menjadi pelaku dan bagian dari serangkaian adat itu sendiri. Lalu pertanyaanya
adalah: apa benar kita sudah kehilangan jati diri?
Melihat Pak Yongki dan Mas Didik yang masih mengobarkan
semangat dan berharap dapat mempengaruhi minat orang lain untuk lebih mencintai
budaya sendiri, aku jadi ikut semangat. Setidaknya aku masih bisa memberikan
sedikit kemampuan dan kecintaanku dalam dunia seni budaya kepada anak-anakku.
Dari sana, kuiharap mereka lebih mengenal budaya sendiri dan menjadikannya
pondasi dalam menghadapi gempuran budaya asing.
Oh iya, sedikit pengetahuan yang kudapat saat wawancara
bersama sang sutradara, bahwasanya kenapa sebagian pemain ludruk itu waria.
Dengan gayanya yang santun, beliau menjelaskan bahwasanya dulu, aslinya pemain
ludruk adalah memang laki-laki tapi
tidak banci. Mula-mula dia adalah pengamen dan ketika semakin banyak orang
menyukai caranya bernyanyi, maka dia mengumpulkan beberapa teman untuk bermain
bersama dan untuk menarik perhatian para penonton, maka dia berakting
menggunakan pakaian wanita sebagai tuntutan profesi. Jadi, apabila ada anggapan
bahwa pertunjukan ludruk itu tidak layak tayang karena seluruh pemainya banci
adalah tidak benar!
Jadi, ini merupakan PR bagi kita bersama untuk mengenalkan
kembali, juga mendukung setiap kegiatan budaya yang diadakan dengan tanpa
pamrih oleh para pelaku seni. Tidak ada hal paling membanggakan kecuali melihat
mereka bisa terus exis dengan keragaman petuah dan pitutur agung yang dikemas
dalam sebuah cerita yang apik. Salam budaya. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar