Sabtu malam Minggu kemarin, salah satu personil grup
keroncong OK_Ojo Dumeh mengabarkan bahwa besok pukul 12.00 kami diharapkan bisa
pentas di kebun kopi The Karanganyar. Saya sempat kaget karena merasa tersanjung
sekaligus senang bahwa pada akhirnya, kami bisa tampil di The Karanganyar.
Sebuah tempat penuh sejarah yang menjadi saksi perjuangan sekaligus museum yang
baru soft luonching beberapa bulan
lalu.
Jujur saja saya memang belum pernah ke sana walau keinginan
itu ada. Maka, ketika sahabat saya mengabarkan bahwa kami akan hadir untuk
memberikan hiburan keroncong kepada para pengunjung tempat itu, rasanya
semangat sekali. Hingga esoknya, saya mengajak salah satu sahabat perempuan
untuk join dalam kunjungan ke kebun kopi The Karanganyar. Selain sebagai
penunjuk jalan, saya kira kami bisa keroncongan bareng dengan iringan musik
keroncong Ok_Ojo Dumeh. Kebayang deh bagaimana serunya!
Benarlah. Perjalanan panjang dari kota Blitar menuju The
Karanganyar, memakan waktu kurang lebih 30 menit. Selama itu, kami disuguhi pemandangan
ala kampung yang asri. Persawahan nampak di kanan kiri jalan desa. Dalam hati
saya berkata, kebun kopi The Karanganyar pastilah akan menjadi tempat
menyenangkan bagi para wisatawan yang datang jauh dari kota besar, misal
Surabaya atau Jakarta. Tempat yang sejuk membuat pikiran yang kusut jadi segar
kembali. Apalagi, sebelum memasuki area kebun kopi, kami melewati Kampung Melon
yang juga merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Blitar yang tengah
dikembangkan. Bisa mampir ke Kampung Melon lalu lanjut ke kebun kopi pastilah
menyenangkan.
Memasuki gerbang The Karanganyar dan segera menuju tempat di
mana kami akan melakukan pertunjukan. Di sana, berdiri beberapa bangunan
seperti rumah-rumah dinas yang kukira sebagai tempat tinggal para pekerja kebun
kopi. Di bangunan lain, ada sebuah caffe yang tampak ramai oleh pengunjung.
Beberapa duduk di kursi luar dan beberapa duduk di dalam. Memasuki area kebun
kopi The Karanganyar, kami seperti ditarik mundur ke masa lalu dan mengingat
kembali perjalanan bangsa ini yang pernah di jajah oleh Belanda selama ratusan
tahun.
Memang bangunan yang ada di sana adalah peninggalan Belanda.
Meski sudah direnovasi pada beberapa bagian, namun kesan bangunan kuno dengan
dinding-dinding tinggi dan jendela kayu dalam ukuran besar khas bangunan
Belanda masih tak berubah. Di sinilah uniknya The karanganyar yang mulai
beberapa bulan lalu, telah dibuka sebagai salah satu destinasi wisata unggulan
di kabupaten Blitar. Bagaimana tidak? Beberapa bangunan yang kuno, dipadukan
dengan asesoris dan perabot caffe yang unik juga bar dengan nuansa Eropa, menjadikan tempat jauh lebih romantis. Nuansa
budaya juga diusung dalam konsep wisata yang tentu saja menjadikan The
Karanganyar ini lebih komplit sebagai tempat melepas lelah dan stress. Itulah kenapa,
The Karanganyar menjanjikan sesuatu yang beda dari yang lain. Kami melihat ada
wahana bermain anak-anak juga, yang praktis menjadi ajang selfie dan foto-foto
para pengunjung di sana. Tapi, harapannya adalah, “jangan di rusak ya...”
Kami mulai perform pada pukul 14.00 WIB. memang terlambat
dari jadwal sebelumnya. Namun setelah satu lagu selesai, kami melihat para pengunjung
mulai menikmati alunan musik yang kami persembahkan. Bahkan Bapak Hery Nugroho
dan Ibu, berkenan menyanyikan lagu dengan iringan musik keroncong. Jaaann... gayeng tenan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar