Senin, 05 September 2016

GAYENG DI KEBUN KOPI BARENG OK_OJO DUMEH





Sabtu malam Minggu kemarin, salah satu personil grup keroncong OK_Ojo Dumeh mengabarkan bahwa besok pukul 12.00 kami diharapkan bisa pentas di kebun kopi The Karanganyar. Saya sempat kaget karena merasa tersanjung sekaligus senang bahwa pada akhirnya, kami bisa tampil di The Karanganyar. Sebuah tempat penuh sejarah yang menjadi saksi perjuangan sekaligus museum yang baru soft luonching beberapa bulan lalu.



Jujur saja saya memang belum pernah ke sana walau keinginan itu ada. Maka, ketika sahabat saya mengabarkan bahwa kami akan hadir untuk memberikan hiburan keroncong kepada para pengunjung tempat itu, rasanya semangat sekali. Hingga esoknya, saya mengajak salah satu sahabat perempuan untuk join dalam kunjungan ke kebun kopi The Karanganyar. Selain sebagai penunjuk jalan, saya kira kami bisa keroncongan bareng dengan iringan musik keroncong Ok_Ojo Dumeh. Kebayang deh bagaimana serunya! 



Benarlah. Perjalanan panjang dari kota Blitar menuju The Karanganyar, memakan waktu kurang lebih 30 menit. Selama itu, kami disuguhi pemandangan ala kampung yang asri. Persawahan nampak di kanan kiri jalan desa. Dalam hati saya berkata, kebun kopi The Karanganyar pastilah akan menjadi tempat menyenangkan bagi para wisatawan yang datang jauh dari kota besar, misal Surabaya atau Jakarta. Tempat yang sejuk membuat pikiran yang kusut jadi segar kembali. Apalagi, sebelum memasuki area kebun kopi, kami melewati Kampung Melon yang juga merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Blitar yang tengah dikembangkan. Bisa mampir ke Kampung Melon lalu lanjut ke kebun kopi pastilah menyenangkan. 

Memasuki gerbang The Karanganyar dan segera menuju tempat di mana kami akan melakukan pertunjukan. Di sana, berdiri beberapa bangunan seperti rumah-rumah dinas yang kukira sebagai tempat tinggal para pekerja kebun kopi. Di bangunan lain, ada sebuah caffe yang tampak ramai oleh pengunjung. Beberapa duduk di kursi luar dan beberapa duduk di dalam. Memasuki area kebun kopi The Karanganyar, kami seperti ditarik mundur ke masa lalu dan mengingat kembali perjalanan bangsa ini yang pernah di jajah oleh Belanda selama ratusan tahun.



Memang bangunan yang ada di sana adalah peninggalan Belanda. Meski sudah direnovasi pada beberapa bagian, namun kesan bangunan kuno dengan dinding-dinding tinggi dan jendela kayu dalam ukuran besar khas bangunan Belanda masih tak berubah. Di sinilah uniknya The karanganyar yang mulai beberapa bulan lalu, telah dibuka sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di kabupaten Blitar. Bagaimana tidak? Beberapa bangunan yang kuno, dipadukan dengan asesoris dan perabot caffe yang unik juga bar dengan nuansa Eropa, menjadikan tempat jauh lebih romantis. Nuansa budaya juga diusung dalam konsep wisata yang tentu saja menjadikan The Karanganyar ini lebih komplit sebagai tempat melepas lelah dan stress. Itulah kenapa, The Karanganyar menjanjikan sesuatu yang beda dari yang lain. Kami melihat ada wahana bermain anak-anak juga, yang praktis menjadi ajang selfie dan foto-foto para pengunjung di sana. Tapi, harapannya adalah, “jangan di rusak ya...”

Kami mulai perform pada pukul 14.00 WIB. memang terlambat dari jadwal sebelumnya. Namun setelah satu lagu selesai, kami melihat para pengunjung mulai menikmati alunan musik yang kami persembahkan. Bahkan Bapak Hery Nugroho dan Ibu, berkenan menyanyikan lagu dengan iringan musik keroncong. Jaaann... gayeng tenan!


Sebelum pulang, setelah selesai meliput bangunan utama ( akan saya tuliskan dalam artikel selanjutnya) saya sempat nembang campur sari diiringi Bapak-Bapak penduduk setempat yang tergabung dalam kelompok karawitan. Beberapa pengunjung tampak berjoget dan tertawa mengikuti irama gendang. Saya tahu bahwa setiap manusia memiliki masalah kehidupan yang terkadang pelik untuk dipecahkan. Namun di tempat ini, setidaknya kami menyatukan rasa syukur dan bahagia, karena memang hidup adalah medan perjuangan yang pada saat tertentu, kita harus meletakkannya sejenak, agar bisa menikmati irama kehidupan yang naik turun. Harapan saya, semoga kedepannya kebun kopi The Karanganyar menjadi pusat penelitian atau pun rujukan tentang ilmu budaya dan kearifan lokal. Selain juga menjadi tempat ngopi terbaik sepanjang zaman. Amin.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar