Minggu, 04 September 2016

PEPAYA UNTUK KPK


Siapa yang tak kenal buah ini? Manis, legit, merah, menggoda, menawan, obat haus, obat sembelit dan sumber vitamin. Dia buah yang tak kenal musim. Bisa dimakan saat mentah pun kalau sudah matang. Pohon yang dari akar sampai daunnya mempunyai banyak manfaat. Ehem.. tau kan? Bener! Dia adalah si merah, pepaya.

Secara pribadi saya memang suka benget buah ini. Kebetulan di rumah ada dua pohon pepaya yang tumbuh subur dan turut serta menyumbang nilai gizi pada keluarga. Pun daunnya, yang berasa pahit namun baik untuk kesehatan itu sangat nikmat. Bisa dimasak urap, tumis atau dimakan dengan sambel pecel. Pohon yang mudah tumbuh walau tanpa perawatan ekstra, sangat bermanfaat bagi tubuh dan sekarang, pohon ini dikembangkan dengan sangat pintar oleh kepala desa Gogodeso, Bapak Chairul Anam bersama team yang terdiri dari beberapa relawan, donatur dan seluruh warga Gogodeso.



KPK di sini bukan Komisi Pemberantasan Korupsi namun Komunitas Pecinta Kesejukan. Maka dari itu, Pak Lurah menggandeng sahabatnya yang peduli dengan pengembangan desa wisata. Bapak Muhamad Dardak selaku penyedia bibit pepaya,melakukan penanaman pohon pepaya di sepanjang ruas jalan Desa Gogodeso.

Kenapa pepaya? Karena pepaya memiliki banyak manfaat, itu sudah pasti. Selanjutnya adalah karena pepaya tidak akan mengganggu jalan desa karena batangnya tidak akan tumbuh besar. Selain juga buahnya bisa dimanfaatkan oleh penduduk setempat yang membutuhkan. Nah, bagaimana bila hasil pepaya nanti melimpah? Pihak pengelola sudah menggandeng BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) untuk turut serta mengelola hasil panen. Pepaya bisa dijual dalam bentuk buah segar, bisa juga sebagai bahan saos pepaya, selai pepaya dan manisan. Bahkan terakhir, pepaya dapat dimanfaatkan sebagai puding. Menurut Papi, pengelola Bungdes, sampai saat ini bahkan sudah banyak pihak menghubungi beliau dan ingin memesan buah pepaya.

Pagi ini, sepanjang jalan desa Gogodeso sudah ditanam dengan serempak 700 bibit pohon dan masih akan bertambah sore hari. Program keren ini dinamakan ‘KATESISASI’ oleh para penggiat KPK. Seperti diketahui bahwa para penggerak dan pengelola adalah orang-orang yang mencintai kesejukan. Diharapkan dengan terlaksananya program ini kesejukan itu akan benar-benar didapat setelah sepanjang jalan desa penuh dengan warna hijau daun pepaya. Ada juga mitos yang mengatakan bahwa menanam pohon pepaya di depan rumah dapat menangkal pengaruh jahat yang dikirim oleh orang yang berniat tidak baik. Entah benar entah tidak, namun yang pasti bahwa buah pepaya itu enak! Hahaha



Telah disiapkan bibit pepaya dalam jumlah tak terbatas untuk memenuhi permintaan warga yang ingin menanam pohon pepaya secara gratis. Program ini sama sekali tidak memakai anggaran desa. Murni dilakukan oleh mereka yang peduli dengan kesejahteraan warga dan meningkatkan potensi desa. Diharapkan program ‘KATESISASI’ ini dapat meningkatkan kesejahteraan warga desa Gogodeso dan menambah nilai gizi. Setiap warga dapat menjual hasil panennya kepada BUMDES dengan harga yang baik demi terwujudnya visi misi desa Gogodeso yang damai dengan Tuhan, Menyatu Dengan Alam dan Damai dalam kehidupan.


Ada beberapa jenis bibit pohon pepaya yang di sediakan. Antara lain jenis Tailan dan Carica. Sebagai lumbung bibit pepaya adalah tanah seluas ¾ hektar yang disediakan pemerintah. Di sana akan dilakukan berbagai eksperimen tentang tehnik penanaman pohon pepaya, pengolahan pupuk organik, penyangkokan, pengawinan jenis-jenis pohon pepaya dan sebagainya. Dan yang terpenting dari semua program ‘KATESISASI’ ini adalah untuk memupuk jiwa dan semangat gotong royong antar penduduk. Bahwa bangsa ini lahir dari semangat gotong royong dan mereka ingin agar semangat itu tetap terjaga setiap minggunya dalam wujud kerja bakti, menanam, merawat dan memanen pepaya. Bahagia bersama, sukses berjamaah dan sejuk terasa. Bersama-sama mewujudkan Indonesia yang gemah ripah lohjinawi yang dimulai dari desa. Ah, sungguh mengikuti serangkaian acara pagi ini, saya jadi bangga menjadi bagian dari mereka dan bangga menjadi warga negara Indonesia. (*)


1 komentar: