Minggu, 09 Oktober 2016

SUSANTA, PELOPOR ORKES KERONCONG YUDHISTIRA



Bapak Susanta, mengaku menyukai keroncong mulai tahun 1983. Dengan bergabung dengan para sesepuh koroncong di Blitar diantaranya: Bapak Yahuri dan Pak Gio, di mana mereka memiliki grup keroncong bernama Keroncong Remaja. Pada saat itu Bapak Susanta berprofesi sebagai Guru di SMPN Kesamben 1. Beliau bukan pemain keroncong namun hanya penikmat dan selalu mengikuti kegiatan mereka kemana pun mereka tampil dan saat latihan.

Berkiprah dalam belantika musik keroncong merupakan panggilan jiwa dalam menyukai dan mencintai musik satu ini sampai bertekat untuk melestarikannya. Akhirnya, pada tahun 1987, Bapak Susanta mulai mendirikan grup keroncong sendiri dengan personil anak-anak muda di kampung Karanglo. Grup keroncong tanpa nama, hanya sebagai pengisi waktu disaat luang dengan ke tujuh personil yang didukung penuh oleh Pak Gio dan Pak Muim sebagai mentor.

Sejak tahun itu pula, Bapak Susanta mulai menabung alat musik keroncong berupa cuk, cak, cello, bass dan biola. Namun grup keroncong besutannya tidak bertahan lama. Hanya sekitar 3 tahun saja grupitu berdiri. Ini karena banyak personil yang kuliah ke luar kota dan bekerja diberbagai instansi, lalu fakum hingga beberapa tahun. Baru sekitar tahun 2006, muncul kembali keinginan untuk mendirikan grup keroncong. Berangkat dari keprihatinan karena musik keroncong yang pernah jaya di masa lalu, kian kemari semakin surut peminatnya.


Bapak Susanta kembali tergugah untuk nguri-uri budaya lokal dengan kembali mengumpulkan personil lama dari grup keroncong Bina Mitra. Diantaranya adalah Bapak Pendi, Bapak Gio, Pak Yuse, dan kawan-kanan  lalu mulai membeli alat-alat baru untuk menunjang segala aktifitas. Kemudian mereka membentuk grup baru dengan nama Orkes Keroncong Nusantara.
Nama Orkes Keroncong Nusantara dipilih karena musik keroncong yang mereka bangun bertujuan untuk mempopulerkan lagu-lagu nusantara. Namun sayang, setelah grup musik yang mulai naik daun dan sudah sering tampil di mana-mana baik dalam kota pun luar kota (Hotel Tugu Malang dan Blitar) juga acara-acara resepsi dan hajatan, hanya berjalan dua tahun saja.

Bapak Susanta sempat kecewa karena grup keroncong yang beliau besut akhirnya gugur karena masalah intern. Tak lain dan tak bukan hanyalah karena niat awal para personil dalam berkesenian tidak jujur. Bapak Susanta menuturkan bahwa dalam berkesnian itu tidak cukup hanya pandai bermain musik namun kemurnian jiwa harus tetap dijaga. Karena seni adalah nama lain dari keindahan dan keindahan akan tampak bila didasari niat yang jujur, tulus dan iklas hanya karena ingin mengembangkan kesenian lokal, tanpa embel-embel kepentingan pribadi. Bermain musik bukan hanya mampu memetik dawai namun hakikatnya  adalah keselarasan dalam bermusik juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup yang selaras, akan menghasilkan irama yang harmonis. Sama dengan keselarasan dalam bermain musik, bila tidak tercapai keselarasan nada, mustahil akan hadir sebuah irama yang bisa dinikmati.

Jatuh bangun dalam memajukan musik keroncong di kotanya, Bapak Susanta tidak pernah merasa kapok dengan pengalaman pahit masa lalu. Beriring waktu, beliau menemukan anak-anak jalanan (pengamen) . Para musisi jalanan itu datang untuk dibina secara khusus oleh Bapak Susanta dalam hal bermain musik keroncong. Dengan sukarela, Bapak Susanta menerima mereka dan mendatangkan seorang guru pembimbing untuk melatih mereka hingga 6 bulan lamanya. Grup baru mereka lahir dengan nama Orkes Keroncong Ojo Dumeh dengan ketua yang ditunjuk langsung oleh Bapak Susanta bernama Joko Susanto. Namun badai tak pernah bosan datang menggempur. Telah mengalami pasang surut dan bongkar pasang personil, kini Orkes Keroncong yang diketuai langsung oleh beliau, kini bernama Orkes Keroncong Yudhistira yang beralamat di Sanggar Yudhistira, jalan Timor nomer 27 Karanglo. Kecamatan Sananwetan, Blitar.

Bapak Susanta bisa teguh dalam bermusik keroncong tidaklah sendirian. Dalam jatuh bangunnya, beliau didampingi sahabat sejatinya bernama Santoso Yuwono yang selalu ada dalam pengelolaan musik keroncong sejak awal sampai sekarang. Segala kesulitan dalam seluruh kegiatan latihan, merombak tatanan anggota, saat tanggapan dan sebagainya, beliau yang juga dosen Universitas Negeri Merdeka Malang selalu memberikan masukan yang bermakna.

Harapan yang beliau sampaikan kepada para personil baru yang merupakan gabungan dari musisi jalalan, semoga kelak mereka akan menjadi musisi terkenal namun tetap menjaga kemurnian dalam berkesenian. Meski berawal dari jalanan, semoga mereka tidak memiliki mental kacangan. Sukses dan dapat membawa musik keroncong merebut hati penggemarnya dalam bersaing di belantika musik Indonesia. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar