Jumat, 10 Januari 2014

RINDU KAKAK KU
By. Laras Wati


Malam tampak rapuh. Tanpa kelip bintang dan terpasung kabut dingin, keindahan malam seolah lenyap tertelan malas. Setidaknya begitulah yang kurasakan. Yang saat ini, hanya dapat bersembunyi dibalik selimut tebal, berwarna kuning tua bermotif bunga-bunga yang sejujurnya, sangat tidak aku suka. Dalam kesendirian yang kian terasa, sungguh aku merindukan hadirnya sebuah tawa. Tawa riang dari canda yang terucap dari aku dan kakakku, Likha.

Entah dimana dia saat ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya, aku tak lagi bersua dengannya. Perjalanan hidup telah memisahkan kami dalam menyusuri deru debu kota, bahkan Negara.

Dulu, aku sering menyebutnya Likha gendut. Karena memang dia lebih gendut dariku. Dan kerena kegendutannya itulah, Likha rela berlapar-lapar karena ingin menjadi kurus sepertiku. Bahkan, dia rela untuk menimba air dari sumur buatku, sewaktu kami mandi barsama, atau saat kami mencuci pakaian pada hari libur sekolah. Lebih dari itu, kakaku Likha, sebenarnya memang sengaja ingin mengalah agar aku mendapatkan jatah lebih banyak dari pembagian makanan yang Ibu hidangkan.

Kami memang hanya dua bersaudara. Namun, dengan keadaan Ayah yang sakit-sakitan, beliau jadi jarang untuk keluar bekerja menarik becak. Sementara Ibu, hanya sebagai perempuan rumahan yang hanya dapat menjadi teladan bagi kami untuk belajar bersabar. Tapi Likha, dia telah menjadi wanita perkasa semenjak aku dapat mengingat masa lalu. Likha kakakku, bekerja sebagai kuli pada sebuah pabrik pembuat yoyo, demi membantu Ayah membiayai sekolahku.

Likha, telah mengorbankan haknya untuk belajar, demi sebuah cita-cita mulia, agar aku bisa menjadi seorang guru. Hingga pada suatu waktu,  Likha memohon izin kepada Ayah dan Ibu. Dia ingin pergi jauh. Jauh sekali. Merantau ke Negara tetangga sebagai seorang TKI.

“Gajiku tak akan pernah dapat mencukupi semua kebutuhan kita, Ayah.” Begitu kayanya. Sembari membelai rambutku yang terurai panjang sebatas bahu.  

Aku tak begitu paham akan arti sebuah perpisahan kala itu. Namun, selepas kepergian kakaku, aku seperti kehilangan sesuatu. Hidupku menjadi sunyi senyap. Tanpa ada seseorang berhidung pendek dan bartangan kasar itu selalu memarahiku untuk belajar. Terlebih lagi saat aku menyibak kelambu kamar dan mengambil air wudhu diwaktu subuh. Tak lagi kudengar suara cerewet yang menyuruhku segera bergegas, untuk segera bangun dan menjalankan kewajiban. Ah, aku benar-benar kesepian. Setiap hari, yang kudengar hanyalah suara Ayah yang terbatuk-batuk, lalu disusul oleh Ibu yang sibuk mengoleskan balsam keseluruh badan. Aku bosan.

Dan kebosanan membawaku kedalam perangkap setan. Tanpa kakak, aku hanyalah selembar daun hijau yang meliuk kesana kemari tertiup angin. Aku lemah tanpa kakakku. Aku tak berdaya melawan bujuk rayu. Juga kerena keadaan fisikku yang memang ayu, aku tertipu oleh kesenangan semu.

Likha,kakaku yang telah rela menghambakan diri sebagai pembantu rumah tangga demi membiayai sekolahku, telah kuhianati dengan penghianatan kejam. Aku menikah dengan seorang pemuda desa sebelum aku dapat mewujudkan inginnya menjadi seorang Guru.

Kini, hanya penyesalan yang begitu mendalam. Yang seakan menghantui setiap perjalanan kehidupan. Aku, yang saat ibi berada diantara geliat musim dingin di Negara Hongkong, gelisah menanti sebuah kabar dari negeri sebrang. Apakah benar foto yang terpajang di halaman Koran paling depan kemarin adalah Likha kakakku? Foto berkerudung hitam denga burkha menutupi bagian muka. Yang difonis hukuman pancung oleh Negara tempatnya bekerja. Dengan tuduhan pembunuhan yang dilakukan kepada majikannya.

 Dari namanya memang tidaklah sama. Namun seingatku, dulu kakakku juga memakai nama samaran yang dipalsukan oleh PT tempatnya menumpang proses. Entah dengan alasan apa pihak PTmelakukan hal demikian. Kami, tak pernah punya kesempatan apalagi kuasa untuk bertanya kepada atassan. Muliut seperti di bungkam. Dibawah ancaman jikalau penerbangan pasti akan di cansel, dan impian kami untuk dapat meraup dolar, hanya tinggal hayalan.

Entah mengapa,  setiap kali aku mamandang foto yang terpajang disana hatiku selalu berdesiran. Seolah ada bisik halus yang berkata, bahwa dia adalah Likha, kakakku tersayang. Sepuluh tahun lamanya kami tak bersua. Tak pernah ada kabar berita menyapa. Sampai mala mini, aku begitu merindunya. Rindu yang teramat sangat. Terlebih lagi, esok hari adalah hari ulang tahun kakakku yang dahulu kala, selalu memberiku hadiah ulang tahun berupa rangkaian bunga-bunga yang ia petik dan rangkai dengan tangannya sendiri, setelah bersusah payah, nekat menerobos pagar kebun milik tetangga.

Siapapun dia, perempuyan dibalik cadar itu. Yang dari sorot matanya mengatakan ketabahan dan kesabaran dalam menaggung berbagai macam beratnya cobaan dalam kehidupan. Aku yakin, dia tak bersalah. Nasib yang menyapanya kali ini, hanyalah salah satu cara yang disediakan Tuhan bagi umatnya yang rela bertaruh nyawa demi untuk membela dan mempertahankan sebuah harga diri. Dan lagi, aku berharap bahwa dia bukan kakakku, Likha.

BIP BIP BIP

Hp ku menyala. Tanda panggilan masuk dari seberang sana. Kode +62 segera terbaca oleh mataku, kuangkat segera, dan… tak kudapati siapapun bicara disana kecuali suara Ibu yang menangis meraung-raung menyebut nama kakakku, Likha. (*)  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar