RINDU KAKAK KU
By. Laras Wati
Malam tampak
rapuh. Tanpa kelip bintang dan terpasung kabut dingin, keindahan malam seolah
lenyap tertelan malas. Setidaknya begitulah yang kurasakan. Yang saat ini,
hanya dapat bersembunyi dibalik selimut tebal, berwarna kuning tua bermotif bunga-bunga
yang sejujurnya, sangat tidak aku suka. Dalam kesendirian yang kian terasa,
sungguh aku merindukan hadirnya sebuah tawa. Tawa riang dari canda yang terucap
dari aku dan kakakku, Likha.
Entah dimana dia
saat ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya, aku tak lagi bersua
dengannya. Perjalanan hidup telah memisahkan kami dalam menyusuri deru debu
kota, bahkan Negara.
Dulu, aku sering
menyebutnya Likha gendut. Karena memang dia lebih gendut dariku. Dan kerena
kegendutannya itulah, Likha rela berlapar-lapar karena ingin menjadi kurus
sepertiku. Bahkan, dia rela untuk menimba air dari sumur buatku, sewaktu kami
mandi barsama, atau saat kami mencuci pakaian pada hari libur sekolah. Lebih dari
itu, kakaku Likha, sebenarnya memang sengaja ingin mengalah agar aku
mendapatkan jatah lebih banyak dari pembagian makanan yang Ibu hidangkan.
Kami memang
hanya dua bersaudara. Namun, dengan keadaan Ayah yang sakit-sakitan, beliau
jadi jarang untuk keluar bekerja menarik becak. Sementara Ibu, hanya sebagai
perempuan rumahan yang hanya dapat menjadi teladan bagi kami untuk belajar
bersabar. Tapi Likha, dia telah menjadi wanita perkasa semenjak aku dapat
mengingat masa lalu. Likha kakakku, bekerja sebagai kuli pada sebuah pabrik
pembuat yoyo, demi membantu Ayah membiayai sekolahku.
Likha, telah
mengorbankan haknya untuk belajar, demi sebuah cita-cita mulia, agar aku bisa
menjadi seorang guru. Hingga pada suatu waktu,
Likha memohon izin kepada Ayah dan Ibu. Dia ingin pergi jauh. Jauh sekali.
Merantau ke Negara tetangga sebagai seorang TKI.
“Gajiku tak akan
pernah dapat mencukupi semua kebutuhan kita, Ayah.” Begitu kayanya. Sembari membelai
rambutku yang terurai panjang sebatas bahu.
Aku tak begitu
paham akan arti sebuah perpisahan kala itu. Namun, selepas kepergian kakaku,
aku seperti kehilangan sesuatu. Hidupku menjadi sunyi senyap. Tanpa ada
seseorang berhidung pendek dan bartangan kasar itu selalu memarahiku untuk
belajar. Terlebih lagi saat aku menyibak kelambu kamar dan mengambil air wudhu
diwaktu subuh. Tak lagi kudengar suara cerewet yang menyuruhku segera bergegas,
untuk segera bangun dan menjalankan kewajiban. Ah, aku benar-benar kesepian. Setiap
hari, yang kudengar hanyalah suara Ayah yang terbatuk-batuk, lalu disusul oleh
Ibu yang sibuk mengoleskan balsam keseluruh badan. Aku bosan.
Dan kebosanan
membawaku kedalam perangkap setan. Tanpa kakak, aku hanyalah selembar daun
hijau yang meliuk kesana kemari tertiup angin. Aku lemah tanpa kakakku. Aku tak
berdaya melawan bujuk rayu. Juga kerena keadaan fisikku yang memang ayu, aku
tertipu oleh kesenangan semu.
Likha,kakaku
yang telah rela menghambakan diri sebagai pembantu rumah tangga demi membiayai
sekolahku, telah kuhianati dengan penghianatan kejam. Aku menikah dengan
seorang pemuda desa sebelum aku dapat mewujudkan inginnya menjadi seorang Guru.
Kini, hanya
penyesalan yang begitu mendalam. Yang seakan menghantui setiap perjalanan
kehidupan. Aku, yang saat ibi berada diantara geliat musim dingin di Negara Hongkong,
gelisah menanti sebuah kabar dari negeri sebrang. Apakah benar foto yang
terpajang di halaman Koran paling depan kemarin adalah Likha kakakku? Foto berkerudung
hitam denga burkha menutupi bagian muka. Yang difonis hukuman pancung oleh Negara
tempatnya bekerja. Dengan tuduhan pembunuhan yang dilakukan kepada majikannya.
Dari namanya memang tidaklah sama. Namun seingatku,
dulu kakakku juga memakai nama samaran yang dipalsukan oleh PT tempatnya
menumpang proses. Entah dengan alasan apa pihak PTmelakukan hal demikian. Kami,
tak pernah punya kesempatan apalagi kuasa untuk bertanya kepada atassan. Muliut
seperti di bungkam. Dibawah ancaman jikalau penerbangan pasti akan di cansel,
dan impian kami untuk dapat meraup dolar, hanya tinggal hayalan.
Entah mengapa, setiap kali aku mamandang foto yang terpajang
disana hatiku selalu berdesiran. Seolah ada bisik halus yang berkata, bahwa dia
adalah Likha, kakakku tersayang. Sepuluh tahun lamanya kami tak bersua. Tak pernah
ada kabar berita menyapa. Sampai mala mini, aku begitu merindunya. Rindu yang
teramat sangat. Terlebih lagi, esok hari adalah hari ulang tahun kakakku yang
dahulu kala, selalu memberiku hadiah ulang tahun berupa rangkaian bunga-bunga
yang ia petik dan rangkai dengan tangannya sendiri, setelah bersusah payah,
nekat menerobos pagar kebun milik tetangga.
Siapapun dia,
perempuyan dibalik cadar itu. Yang dari sorot matanya mengatakan ketabahan dan
kesabaran dalam menaggung berbagai macam beratnya cobaan dalam kehidupan. Aku yakin,
dia tak bersalah. Nasib yang menyapanya kali ini, hanyalah salah satu cara yang
disediakan Tuhan bagi umatnya yang rela bertaruh nyawa demi untuk membela dan
mempertahankan sebuah harga diri. Dan lagi, aku berharap bahwa dia bukan
kakakku, Likha.
BIP BIP BIP
Hp ku menyala. Tanda
panggilan masuk dari seberang sana. Kode +62 segera terbaca oleh mataku,
kuangkat segera, dan… tak kudapati siapapun bicara disana kecuali suara Ibu
yang menangis meraung-raung menyebut nama kakakku, Likha. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar