Jumat, 10 Januari 2014

TEMBANG CINTA DARI AYAH

 



TEMBANG CINTA DARI AYAH


 


By. Laras Wati


 


 


 


Masih lekat dalam ingatanku, saat aku berada dibawah naungan pohon jambu. Di teras rumah, diatas bangku bamboo. Bersama ayahku, kami memeluk luka lara dengan tembang cinta yang kami nyanyikan bersama. Ayah, dengan celana dan baju lusuh menyelimuti badannya yang kurus, memetik gitar dan melantunkan sebuah lagu. Dan dari lagu itulah aku mengeja cinta yang ayah ajarkan padaku. Dengan penuh haru.

“Ayah bau,” begitulah aku selalu mengejeknya bila kami melewatkan waktu bersama. Saat pagi sebelum berangkat sekolah, atau saat malam saat Ayah memelukku sebelum tidur. Bau yang khas. Khas seorang pekerja keras yang rela terbakar matahari demi sesuap nasi, untuk aku dan adikku, Layun.

Bau ayahku, yang dulu selalu aku jadikan alat untuk mengejeknya. Bukan karena aku dan Layun terlalu nakal. Tapi karena kami ingin mengenang ayah dengan segala baunya. Terbukti saat ayah pulang kerja, kami akan berlari menyambutnya tiba. Bergelanyut manja pada tangannya yang basah oleh keringat bercampur air garam dari lautan, selepas melaut. Membuat tubuh ayahku kian menghitam dan lengket. Namun dari sanalah, aku dan Layun menjemput rezeki yang Ayah dapat dengan bertaruh nyawa.

Mungkin bagi kebanyakan orang, ayahku hanyalah seorang nelayan. Namun bagi aku dan adikku, Ayah adalah seorang pahlawan. Pahlawan dalam keluarga. Juga pahlawan dalam membela sesamanya. Aku selalu mengagumi ayah saat dia berorasi di depan Gedung Kota. Menyuarakan perlawanan atas ketidak adilan, atas hukum yang runcing ke bawah, dari ranjau yang ditanam pada pantai yang seolah diperkosa oleh tangan-tangan kekuasaan dan beruang. Ranjau yang akan menghancurkan coral dibawah lautan. Hingga kian hari kemari, tangkapan ayah kian memperihatinkan. Juga karena tanah kami yang dirampas oleh orang-orang atasan.

Aku sangat mengagumi ayah saat demikian. Membacakan puisi, suara hati dari kaum yang terzolimi. Begitu penuh perasaan. Tak jarang, aku melihat air mata ayah menggenang pada matanya yang memerah. Merah karena setiap hari, dia harus melawan pantulan sinar mentari ditengah lautan. Mata yang, bila ayah adalah orang kaya, pasti akan dilindungi dengan kaca mata hitam dengan UVfilter. Kaca mata yang sering dipakai oleh orang-orang kaya, hingga mereka seperti buta dalam melihat kenyataan di masyarakat kelas bawah. Seperti ayah. 

Hingga dua puluh tahun lamanya, saat aku melanglang buana ke beberapa bagian wajah dunia. Tembang cinta dari Ayah masih saja mengiringi aku dalam melangkah. Bahkan aku mewarisi gitar tua milik ayahku. Yang kubawa hingga ke negeri menara, Hongkong.

Sekalipun,. Ayah tak pernah marah padaku. Bila, dia tak menyukai sesuatu yang kuperbuat bersama Layun, semisal saja kami bertengkar, memperebutkan kerang yang kami temukan di bibir pantai. Ayah hanya memandang tajam kami berdua. Tanpa kata tanpa suara. Lalu matanya akan berkaca-kaca. Seolah membawa kami berdua masuk kemasa lalu, saat kami bertiga terpaku diambang pintu, saling merangkul bahu melepas kepergian ibu. Iyah, ibu yang hanya aku kenal lima tahun lamanya. Sebelum ibu pergi meninggalkan kami ke kota. Mengikuti seseorang yang dia cinta. Ibu pergi karena tak tahan dengan kemiskinan yang kami derita. Hingga ambisi untuk mencari pria lain yang lebih menjanjikan, menutup hatinya untuk memberikan kasih sayang kepada kami, kedua putrinya. 

Saat berduka, Ayah selalu mengingatkan kami akan sakitnya sebuah akibat karena pertengkaran. Akibat dari mempertahankan egois karena mementingkan sesuatu. Yang pastinya hanya akan menimbulkan penyesalan. Secara tidak langsung, kami belajar dari apa yang tertera disana, pada garis bening dipelupuk matanya yang memandang iba. Lalu aku dan Layun, pasti akan memegang dan mencium punggung tangan Ayah dan menagis bersama. Dari sanalah kami membangun ikatan cinta yang kukuh, untuk melawan kerasnya jalan takdir yang harus kami taklukkan.

“Langkahkan kakimu menyusuri lika liku dunia anakku, karena disanalah akan kau temukan samudra ilmu,” begitu kata Ayahku. Yang memelukku erat sebelum aku melesat, menembus dinding jarak dan waktu. Padanya kukatakan, “Ayah, ini karena tembang cintamu.” Kupeluk Ayahku kuat-kuat. Kucium bau Ayahku dan kutanamkan dalam benak dan lembar hatiku yang paling dalam. Dia Ayahku, lelaki kurus kering berambut panjang keriting itu pahlawanku. Seorang yang telah membawaku meniti tangga kehidupan. Hingga saat ini, dimana aku akan mengambil alih sebuah tanggung jawab untuk ganti menjaganya. Saat dia hanya dapat terduduk tak berdaya, pada kursi goyang di beranda rumah kami. Memandang hamparan laut yang muram, kehilangan keindahan tanpa semburat jingga diantara mega-mega yang berarak pulang keperaduan.(*)
 —                   
 


 


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar