Aku
datang! Dengan keberanian yang kupaksakan. Aku datang karena aku tak ingin mati
karena sakit hati dan penasaran. Untuk itu aku ada di sini, menatap mereka yang
duduk di pelaminan putih itu. Bunga-bunga menjuntai, bermekaran indah dan
wangi. Orang-orang sibuk berlalu-lalang dengan senyum mengembang. Ayah ibunya,
berdandan rapi lengkap dengan konde dan blangkonya. Juga sepasang orang tua
lain yang berpakaian serupa. Kukira itu pasti mertuanya.
Aku
datang sendiri. Setelah menolak tawaran sahabatku Ade untuk menemaniku datang
kemari. “Aku bukan pengecut!” kataku padanya. Dan dia hanya menggeleng kepala,
lalu berkata, ”Berjanjilah bahwa kau tak akan menangis dan pingsan di sana, Ria!”
Aku
tak menjawab dan dengan sepeda motor, aku meluncur ke rumahnya. Janur kuning
melengkung di gawang rumah Sunan, mantan tunanganku. Nyaliku ciut. Berkali-kali
aku menelan ludah getir. Namun sudah kuputusankan untuk berani menatap mereka,
walau hanya sebagai tamu tak diundang.
Berpuluh-puluh
pasang mata menatapku. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Tentu saja mereka
takut kalau aku akan membuat onar pesta perkawinan mereka. Tidak! Itu tak akan
pernah kulakukan. Benar bahwa aku sedang sakit hati karena penghianatan yang
mereka lakukan. Namun aku masih cukup punya harga diri untuk mempermalukan diri
sendiri. Walau pahit, aku sudah menerimanya dengan lapang dada. Untuk itu aku
datang kemari, mencari obat dan penawar rasa sakit dari lukaku ini.
Banyak
teman menyarankan agar tidak datang ke pesta pernikahan mereka. Namun kutepis
dengan alasan bahwa melihat mereka bersanding di pelaminan dengan mata kepala
sendiri adalah obat dari segala luka. Dengan keberanian melihat mereka, aku
akan sadar bahwa semua benar-benar sudah selesai. Bahwa antara aku dan dia
memang tak berjodoh. Dan dengan memberikan doa restu kepada mereka, aku akan
melepas segala sakit hati ini. Aku akan melawannya dengan keiklasan yang
kudapat dari melihat kenyataan bahwa Sunan dan Ida, sekarang sudah resmi
menjadi suami istri.
“Kau
akan mati berdiri!” kata Ade lagi, “lupakan saja penghianat itu. Lebih baik
malam ini kita pergi karaoke untuk melepas stress!”
“Kita akan pergi karaoke, tapi setelah aku menjumpai
mereka. Aku janji, tak akan menangis apalagi mati berdiri!”
“Dasar
keras kepala!” umpatnya. Aku hanya diam.
Namanya
Ida. Dia sahabatku sejak kami masih sekolah SMA. Begitu dekat persahabatan kami
sehingga kami sering bertukan baju dan kerudung saat kami hendak pergi.
Maklumlah pakaian kami terbatas. Agar tampak selalu kekinian, maka kami sepakat
untuk saling pinjam pakaian dan kerudung, bahkan juga sandal dan sepatu. Tapi,
sama sekali aku tak menyangka bila akhirnya aku dan dia juga bertukan peran
dalam menemani sosok lelaki bernama Sunan.
Rahasia
itu aku sampaikan padanya. Bahkan sebelum aku memutuskan untuk pergi merantau
ke luar negeri demi mencari bekal hidup. Kukatakan pada Ida bahwa cinta kami
tak direstui oleh kedua orang tua kami. Karena aku anak sulung, dan Sunan pun
sama. Mereka bilang, sesama anak sulung dilarang menikah. Juga karena kondisi
ekonomi keluargaku yang tak mampu, yang membuat keluarga Sunan tak begitu merestui.
Namun,
Sunan bilang dia mencintaiku. Dia berjanji bahwa dia akan memperjuangkan cinta
kami sampai di pelaminan. Bahkan dia
juga yang mendukung aku untuk bekerja dahulu, tak buru-buru menikah sebelum
kami sama-sama siap berumah tangga. Kini, lihatlah itu, sebuah pelaminan megah
terpampang di hadapanku. Sementara aku hadir hanya sebagai tamu. Bukan sebagai
mempelai yang diperjuangkan cintanya oleh lelaki yang kujaga cintanya bertahun-tahun
lamanya.
Suatu
ketika aku pernah mengeluh pada Ida. Seorang sahabat yang selama ini kupercaya
menggenggam semua rahasia hati yang tak terungkap. Padanya kukatakan tentang
kerinduanku pada Sunan. Juga kekhawatiran kalau-kalau cinta kami kandas di tengah
jalan. Ida, sahabatku yang kuanggap baik itu selalu perhatian dan tekun
mendengarkan. Bahkan bila aku berkirim surat kepada Sunan, atau hadiah-hadiah
kecil sebagai ucapan selamat ulang tahun atau hadiah kelulusan, ke alamat
Idalah aku menujukan semua pesan. Tapi kini...
“Kau
jangan khawatir, Ria. Sunan pasti akan menunggumu. Kukira dia sama denganmu,
sangat mencintaimu. Sabarlah. Kuatlah. Jangan terlalu lebay terus-terusan
memikirkan dia di sana. Toh juga dia belum tentu memikirkanmu, kan? Lebih baik
kau fokus kerja. Jangan sampai lalai mengerjakan tugas dari majikan. Bila butuh
teman curhat, ada aku di sini. Ok? Baik-baiklah kau di sana. Jangan melamun dan
memikirkan Sunan terus. Nanti kamu sakit!”
Oh,
Ida! Kalimat manis itu yang selalu dia ucapkan padaku kala itu. Dan aku begitu
percaya padanya. Bahkan aku pernah bercerita tentang mimpi indah kami berdua,
membangun sebuah rumah kecil setelah menikah. Keyakinan itu kuat bahwa orangtua
akan menyetujui bila kami sudah berhasil menjadi manusia yang mandiri. Dan
ternyata semua dukungannya itu palsu! Palsu!
Sejujurnya
aku sangat sakit hati. Mungkin bila yang menikah dengan Sunan itu bukanlah
sahabatku Ida, barangkali tak sesakit ini rasanya. Namun nama Sunan dan Ida
yang saling bertaut dalam kartu undangan itu fakta. Betapa pun aku berusaha tak
mempercayainya.
Suara
musik kebogiro dari kaset bertalu-talu merdu. Para undangan berdiri serempak
karena acara temu pengantin akan segera dilaksanakan. Ida dengan senyum
mengembang berdiri di pelaminan menunggu Sunan yang diiring datang dengan
beberapa seserahan. Aku bersembunyi dibalik tamu-tamu undangan, menahan gemuruh
rasa yang entah. Mataku menghangat, namun segera kuingat janjiku pada Ade. Kuambil
tissu yang telah kusiapkan dalam saku. Aku harus kuat. Harus tegar.
Sepasang
pengantin baru tengah duduk di pelaminan putih. Para penyanyi silih berganti
menghibur para hadirin dengan sebelumnya saling mengucap selamat kepada
mempelai berdua. Para tamu sudah menuju meja panjang yang penuh dengan aneka
hidangan. Beberapa ada yang berfoto bersama mempelai. Sementara aku masih duduk
di pojok ruangan, sibuk menenangkan hati dan memahami bahwa ini sudah terjadi.
Karenanya aku datang kemari untuk menyaksikan hal paling menyakitkan dalam
hidupku. Tubuhku gemetar menahan emosi namun kuyakinkan diriku sendiri bahwa
aku harus kuat. Sangat kuat seperti bangunan beton di negeri rantau.
Aku
tahu bahwa cinta tak harus memiliki. Bahwa hidup, mati, jodoh dan rejeki sama
sekali bikan hak kita untuk menentukan. Aku kembalikan ini semua kepada Dia
yang telah menciptakan aku, hidupku dan segala kisah pilunya. Aku harus
menerimanya dengan tangan terbuka dan yakin bahwa aku akan behegia suatu hari
kelak. Aku menghela nafas panjang dan aku pun berjalan. Kumantapkan langkah
menuju pelaminan putih itu. Di hadapanku, ida tampak gugup dan bungung.
Sementara Sultan terduduk kaku di atas singgah sananya. Aku tersenyum.
Tangan
kami sama-sama dingin. Tapi aku bisa merasakan keringat dingin merembes di
dalam bajuku. Aku nyaris jatuh saat tangan kami bersalaman. Bibir Sultan
gemetar dan aku tak bisa menahan gejolak untuk memeluknya sekaligus
mengumpatinya sebagai lelaki jahanam.
Ida,
dengan gemetar mengulurkan tangannya menyambut tanganku yang basah. Lirih aku
mengucap kata selamat namun sedikit pun aku tak menangis. Aku merasa bangga
sudah berani menghadapi kenyataan buruk ini dan sekarang saatnya aku untuk
pergi. Melangkah maju menyongsong masa depan dan melupakan segala masa lalu.
Aku telah berhasil mengatasirasa takut dan sakit hati karena janji palsu dan
sebuah persahabatan yang juga palsu. Tulus aku berdoa agar mereka bahagia, pun
doa yang sama kupanjatkan pada diriku sendiri.
Di
dalam perjalanan pulang aku seperti burung yang terbang menembus awan gemawan.
Aku bebas. Aku lepas. Kupeluk sahabatku Ade yang berlari menyambutku di halaman
rumah. “Ria.. kau hebat! Kau luar biasa!” katanya. Aku bertanya-tanya apa iya
aku hebat dan luar biasa? Sementara saat ini, di dalam kamar ini, aku sendirian
dan menangis sejadi-jadinya. Memeluk bantal dan guling bahkan memukulnya
berulang kali lalu melemparnya ke dinding bisu. Aku merasa mereka tak mengerti
akan keadaanku yang lara. Sangat lara. Membayangkan kedua pengantin itu sedang
berkasih mesra menikmati indahnya malam pertama. Dalam hati aku menjerit, “Kenapa
bukan aku? Kenapa?”(*)
Mbak, ceritanya bagus banget
BalasHapusTerima kasih, Vety :)
HapusTerima kasih, Vety :)
BalasHapus