Saya seperti kehabisan kata dalam menuliskan begitu besar
baik sumber daya alam dan manusia di Desa Gogodeso kecamatan Kanigoro ini. Sebuah desa yang
begitu sumringah dalam menyambut dan menghadapi hidup. Hal yang kusadari pada
pagi ini saat saya akan melakukan wawancara dan pemotretan wilayah kebun desa dalam program baru Pak Choirul Anam dan team, yang artikelnya akan saya tulis setelah ini.
Minggu 4 September 2016. Saat kami sarapan nasi pecel di warung Aulia,
tiba-tiba ada sekelompok Bapak-Bapak yang berseragam selayaknya para pejuang
tempo dulu. Ada juga yang memakai kaos bergambar wayang kulit, yang usianya
kuperkirakan 50 sampai 70-an. Dengan menggunakan sepeda onta atau sepeda Hordok, mereka masuk ke dalam warung dan
memesan makanan dengan wajah ceria dan canda tawa.
Hal yang menarik perhatian saya saat itu adalah dari segi
usia mereka juga sepedanya tentu saja. Sepeda yang nyentrik, lengkap dengan
atribut kuno yang masih terawat apik. Seperti tas kulit yang digantung pada
bagian boncengan di belakang. Seperti tempat surat Pak Pos jaman dulu. Iseng saya
tanyakan apakah mereka memiliki komunitas dan langsung diiyakan oleh salah satu
peserta. “Nama komunitas kami adalah Komunitas Sepeda Ontel,” katanya sembari
menyeruput kopi hitam.
Anggotanya lebih kurang 80 orang yang semuanya
mengoleksi sepeda onta. Mereka juga sangat aktif mengikuti berbagai karnaval
yang banyak digelar selama bulan Agustus kemarin. Dan agenda rutin mereka,
bersepeda setiap hari Minggu pagi pukul 06.00 di wilayah Blitar. Jarak yang di tempuh cukup jauh. Bahkan sampai ke desa Penataran, Nlegok. Padahal rumah mereka ada di Gogodeso Kanigoro.
Selain bersepeda, mereka juga sering berkumpul untuk
mengadakan acara musik. Kadang mengundang grup musik keroncong kadang pula orgen
tunggal. Kegiatan rutinan ini dilaksanakan sebagai sarana olah raga juga
sebagai cara untuk menyambung tali silaturahmi antar sahabat tua, juga untuk
berbagi segala informasi. Hmmm... pantas saja mereka tampak bahagia, pikir
saya.
Mendapati orang-orang tua yang masih semangat dan optimis
dalam menghadapi hidup, saya memetik sebuah pelajaran berharga. Salah satunya
adalah: kunci bahagia itu, menikmati hidup! Hidup selaras, seimbang dengan alam
dan menempatkan ajaran Tuhan sebagai panutan. Menjalani hidup dengan kewajaran
yang terpola dalam ajaran adat budaya
dan kebersamaan.
Senang sekali melihat mereka masih guyub rukun di usia
senja. Senyum selalu mengiring setiap kata-kata. Jiwa yang damai terpancar dari
matanya. Surga dunia telah mereka dapatkan, dan kelak
surga akhirat menanti dengan gemilang. Karena saya yakin, surga itu adalah
tempat berkumpulnya orang-orang yang bahagia dalam segala kesyukuran. Allahuma amin.
(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar