Bismillahirrahmanirrakhim.
Sebenarnya sejak lama saya ingin menuliskan hal ini namun belum
cukup keberanian untuk mengunggahnya ke publik. Selama ini saya hanya mbatin, atas apa yang saya tahu soal
dilematika perempuan dalam rumah tangga. Namun setelah seharian berada dalam
seminar yang bertajuk Reproduksi Perempuan dan Kemerdekaannya di aula kelurahan
desa Gogodeso. Acara diadakan oleh SAPUAN atau Sahabat Perempuan dan Anak,
UNISBA dan pemerintah desa Gogodeso yang dikepalai oleh Bapak Chairul Anam. Sepulang
dari sana, timbul keberanian itu. Ternyata apa yang saya khawatirkan selama ini
juga telah menjadi masalah yang sangat serius di masyarakat kita.
Secara umum, arti merdeka adalah bebas. Seperti Indonesia
yang bebas dari cengkeraman penjajah setelah 360 tahun. Di mana sejak 17
Agustus, Indonesia meski harus jatuh bangun, bisa dan boleh menentukan arah
pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan bangsa sing. Demikian juga seorang
perempuan. Meski sudah berumah tangga, hendaknya kemerdekaan bagi perempuan
harus diberikan.
Pada banyak kasus, perempuan Indonesia cenderung belum
merdeka. Perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua oleh masyarakat yang
sudah mengajarkan pola pikir turun temurun lalu diadopsi begitu saja sehingga
menjadi kebiasaan pada masyarakat luas. Perempuan cenderung nrimo pada kenyataan pahit dalam ruang
lingkup kehidupan pribadinya. Misal: lelaki merokok adalah hal lumrah namun perempuan
merokok pasti akan dicap sebagai perempuan nakal dan sebagainya. Atau, bila
lelaki bisa pergi dan pulang malam dengan tanpa beban, maka hal sebaliknya
berlaku bagi perempuan. Blita sepasang suami istri sudah tak mau menambah anak
lagi, maka perempuanlah yang di KB. Ada banyak sikap diskriminatif terhadap
perempuan di masyarakat kita. Sehingga perempuan tidak memiliki banyak ruang
untruk berkarya, berkarier bahkan sekedar berbicara mengeluarkan segala uneg-uneg yang dia miliki. Dan yang
lebih parah lagi, perempuan yang menjadi korban perkosaan, bukan hanya terjadi
pada mereka yang belum bersuami namun juga mereka yang sudah terbelenggu dalam
status perkawinan dan dilakukan oleh pasangannya sendiri.
Kenapa saya katakan perkosaan dalam perkawinan? Bukankah sudah
menjadi halal apabila seorang perempuan berhubungan badan dengan suaminya? Jawabnya
adalah iya! Mereka halal dalam hukum agama. Namun, berapa banyak lelaki yang
peduli soal kesiapan dan kemauan perempuan dalam menjalani hubungan itu?
Perlu kita pahami bahwa dalam sebuah hubungan intim, diperlukan
adanya kesepakatan bersama antara pilak lelaki dan perempuan. bahkan adegan
romantis yang dilakukan dengan penuh kasih sayang adalah hal wajib sebelum
melakukan sebuah hubungan. Pun setelah selesai, ada ungkapan terima kasih yang
disampaikan kedua belah pihak karena telah saling mengisi satu sama lain. Dan hal
demikian masih belum bisa dirasakan oleh seluruh perempuan Indonesia yang
cenderung nrimo opo jare wong lanang! Suara
dan keluhan perempuan Indonesia kepada suaminya sendiri, tentang bagaimana dia
membantu perekonomian, mengerjakan tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak
masih dianggap hal paling biasa dalam rumah tangga yang TIDAK perlu mendapat
perhatian.
Demikian juga dalam urusan kasur, perempuan yang dengan
terus terang meminta kepada suaminya masih dianggap hal tabu. Namun bila pihak
suami yang menginginkan, maka sudah menjadi sebuah keharusan untuk melayani
dengan tanpa peduli apakah kedua belah pihak merasa senang. Lalu apa nanamanya hal
demikian kalau bukan perkosaan?
Dari data terakhir, menurut Bu Yenny, salah satu pembicara
dalam seminar tersebut mengatakan bahwa ibu rumah tangga yang yang justru tak
pernah keluar rumah-lah yang paling banyak mengidap penyakit HIV. Ini dikarenakan
kurang adanya kesadaran dari pihak laki-laki untuk bisa menahan diri agar tidak
menggauili istrinya ketika dia sudah positif terjangkit virus HIV. Seharusnya perempuan
yang masih bekerja, mendidik anak, juga mengurus anggota keluarga lain tidak
ditambahi dengan masalah virus yang malah akan memperburuk keadaan dalam rumah
tangga. Bila seorang perempuan jatuh sakit, maka runtuhlah tiang dalam rumah
tangga tersebut. Karena suami sakit dan sudah tidak ada lagi orang yang bekerja
karena sang istri juga sakit dan anak-anak akan terlantar bahkan kurang
perhatian. Kemudian timbul masalah baru dari sang anak yang tumbuh nakal karena
kurang kasih sayang, pergaulan bebas, narkoba dan kenakalan remaja lainnya.
Perempuan adalah ibu! Dan tiada tempat ternyaman di dunia
ini selain pelukan ibu. Sudah selayaknya perempuan dimuliakan dalam berbagai
aspek kehidupan. Bahkan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis,
perempuan HARUS bahagia. Karena perempuan yang bahagia adalah perempuan yang
penuh senyum dan rileks. Dalam artian dia akan jauh lebih bisa menjalankan
fungsinya sebagai seorang istri dan ibu daripada perempuan yang stres dan
tertekan. Perempuan yang bahagia adalah perempuan yang selalu tersenyum dan
dengan senyumnya itu, dia akan menghadirkan kedamaian di dalam rumah tangga mereka.
Betapa besar pengaruh perempuan dalam kehidupan rumah
tangga. Dimulai dari sebuah keluarga, keindahan ini akan menular kepada anak-anak
yang tumbuh dengan bahagia. Anak yang bahagia cenderung lebih cerdas, aktif,
kreatif dan kuat secara mental dan personality. Dan anak yang kuat akan mampu
membentengi dirinya sendiri dari pengaruh buruk pergaulan di luar rumah. Anak yang
tumbuh dengan semestinya cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi
persaingan dalam dunia yang semakin sempit. Sangat berbeda dengan anak-anak
yang tumbuh sendiri dan dipaksa dewasa sebelum waktunya. Dipaksa mengerti
keadaan orang tuanya dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Untuk itu,
keharmonisan dalam rumah tangga itu PENTING!
Banyak kasus ditemukan pada anak-anak yang orang tua
mengira, sudah disekolahkan di pondok dengan ilmu agama yang baik namun masih
terjangkit virus HIV karena homo. Ini disebabkan kurang adanya komunikasi
antara anak dan orang tua, dan sejauh mana kedekatan hubungan mereka. Banyak yang
mengira, dengan menitipkan anak ke pondok maka tugas orang tua selesai. Padahal
belum! Sekolah hanyalah sarana yang diberikan orang tua agar anaknya belajar
ilmu namun kedekatan emosional, terlebih lagi antara ibu dan anak masih sangat
diperlukan. Hal ini untuk menjaga kejiwaan sang anak agar tidak merasa
dikucilkan dari lingkungan keluarga dan perhatian yang masih utuh tentunya.
Perempuan adalah matahari. Namun sudah sadarkah kita tentang
pentingnya matahari itu hadir di rumah kita? tak banyak yang tahu tentang hal
ini. Masih banyak perempuan yang dijadikan alat sex gratis hanya dengan satu
kata SAH dari penghulu. Namun kebutuhan batin perempuan masih sering diabaikan.
Coba kita lihat pada lingkungan sekitar kita atau bertanya pada diri kita
sendiri, apakah benar perempuan itu bahagia dalam lingkup rumah tangga? Ataukah
sebuah luka tersembunyi di sana dan dibalut dengan senyum dan kata sabar? Maka
ini menjadi PR untuk kita semua dalam mensosialisasikan kemerdekaan bagi setiap
perempuan. perempuan yang merdeka adalah perempuan yang tidak ‘diperkosa’,
bukan hanya tubuhnya namun juga jiwa, ide, bakat, minat dan semangatnya. Perempuan
merdeka adalah perempuan yang ‘nyaman dan manusiawi’ dalam menjalani hidupnya. Untuk itu perempuan harus cerdas. Perempuan harus berwawasan luas. Dan saya menyambut baik program sekolah perempuan yang akan segera di buka di Desa Gogodeso. Terima kasih Pak Lurah dan team. Salam bahagia. Salam
sayang. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar