Kamis, 01 September 2016

PERKOSAAN DALAM RUMAH TANGGA




Bismillahirrahmanirrakhim.

Sebenarnya sejak lama saya ingin menuliskan hal ini namun belum cukup keberanian untuk mengunggahnya ke publik. Selama ini saya hanya mbatin, atas apa yang saya tahu soal dilematika perempuan dalam rumah tangga. Namun setelah seharian berada dalam seminar yang bertajuk Reproduksi Perempuan dan Kemerdekaannya di aula kelurahan desa Gogodeso. Acara diadakan oleh SAPUAN atau Sahabat Perempuan dan Anak, UNISBA dan pemerintah desa Gogodeso yang dikepalai oleh Bapak Chairul Anam. Sepulang dari sana, timbul keberanian itu. Ternyata apa yang saya khawatirkan selama ini juga telah menjadi masalah yang sangat serius di masyarakat kita.

Secara umum, arti merdeka adalah bebas. Seperti Indonesia yang bebas dari cengkeraman penjajah setelah 360 tahun. Di mana sejak 17 Agustus, Indonesia meski harus jatuh bangun, bisa dan boleh menentukan arah pemerintahannya sendiri tanpa campur tangan bangsa sing. Demikian juga seorang perempuan. Meski sudah berumah tangga, hendaknya kemerdekaan bagi perempuan harus diberikan. 

Pada banyak kasus, perempuan Indonesia cenderung belum merdeka. Perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua oleh masyarakat yang sudah mengajarkan pola pikir turun temurun lalu diadopsi begitu saja sehingga menjadi kebiasaan pada masyarakat luas. Perempuan cenderung nrimo pada kenyataan pahit dalam ruang lingkup kehidupan pribadinya. Misal: lelaki merokok adalah hal lumrah namun perempuan merokok pasti akan dicap sebagai perempuan nakal dan sebagainya. Atau, bila lelaki bisa pergi dan pulang malam dengan tanpa beban, maka hal sebaliknya berlaku bagi perempuan. Blita sepasang suami istri sudah tak mau menambah anak lagi, maka perempuanlah yang di KB. Ada banyak sikap diskriminatif terhadap perempuan di masyarakat kita. Sehingga perempuan tidak memiliki banyak ruang untruk berkarya, berkarier bahkan sekedar berbicara mengeluarkan segala uneg-uneg yang dia miliki. Dan yang lebih parah lagi, perempuan yang menjadi korban perkosaan, bukan hanya terjadi pada mereka yang belum bersuami namun juga mereka yang sudah terbelenggu dalam status perkawinan dan dilakukan oleh pasangannya sendiri.

Kenapa saya katakan perkosaan dalam perkawinan? Bukankah sudah menjadi halal apabila seorang perempuan berhubungan badan dengan suaminya? Jawabnya adalah iya! Mereka halal dalam hukum agama. Namun, berapa banyak lelaki yang peduli soal kesiapan dan kemauan perempuan dalam menjalani hubungan itu?

Perlu kita pahami bahwa dalam sebuah hubungan intim, diperlukan adanya kesepakatan bersama antara pilak lelaki dan perempuan. bahkan adegan romantis yang dilakukan dengan penuh kasih sayang adalah hal wajib sebelum melakukan sebuah hubungan. Pun setelah selesai, ada ungkapan terima kasih yang disampaikan kedua belah pihak karena telah saling mengisi satu sama lain. Dan hal demikian masih belum bisa dirasakan oleh seluruh perempuan Indonesia yang cenderung nrimo opo jare wong lanang! Suara dan keluhan perempuan Indonesia kepada suaminya sendiri, tentang bagaimana dia membantu perekonomian, mengerjakan tugas rumah tangga dan mengurus anak-anak masih dianggap hal paling biasa dalam rumah tangga yang TIDAK perlu mendapat perhatian. 

Demikian juga dalam urusan kasur, perempuan yang dengan terus terang meminta kepada suaminya masih dianggap hal tabu. Namun bila pihak suami yang menginginkan, maka sudah menjadi sebuah keharusan untuk melayani dengan tanpa peduli apakah kedua belah pihak merasa senang. Lalu apa nanamanya hal demikian kalau bukan perkosaan?

Dari data terakhir, menurut Bu Yenny, salah satu pembicara dalam seminar tersebut mengatakan bahwa ibu rumah tangga yang yang justru tak pernah keluar rumah-lah yang paling banyak mengidap penyakit HIV. Ini dikarenakan kurang adanya kesadaran dari pihak laki-laki untuk bisa menahan diri agar tidak menggauili istrinya ketika dia sudah positif terjangkit virus HIV. Seharusnya perempuan yang masih bekerja, mendidik anak, juga mengurus anggota keluarga lain tidak ditambahi dengan masalah virus yang malah akan memperburuk keadaan dalam rumah tangga. Bila seorang perempuan jatuh sakit, maka runtuhlah tiang dalam rumah tangga tersebut. Karena suami sakit dan sudah tidak ada lagi orang yang bekerja karena sang istri juga sakit dan anak-anak akan terlantar bahkan kurang perhatian. Kemudian timbul masalah baru dari sang anak yang tumbuh nakal karena kurang kasih sayang, pergaulan bebas, narkoba dan kenakalan remaja lainnya. 

Perempuan adalah ibu! Dan tiada tempat ternyaman di dunia ini selain pelukan ibu. Sudah selayaknya perempuan dimuliakan dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan untuk membentuk sebuah rumah tangga yang harmonis, perempuan HARUS bahagia. Karena perempuan yang bahagia adalah perempuan yang penuh senyum dan rileks. Dalam artian dia akan jauh lebih bisa menjalankan fungsinya sebagai seorang istri dan ibu daripada perempuan yang stres dan tertekan. Perempuan yang bahagia adalah perempuan yang selalu tersenyum dan dengan senyumnya itu, dia akan menghadirkan kedamaian di dalam rumah tangga mereka. 

Betapa besar pengaruh perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Dimulai dari sebuah keluarga, keindahan ini akan menular kepada anak-anak yang tumbuh dengan bahagia. Anak yang bahagia cenderung lebih cerdas, aktif, kreatif dan kuat secara mental dan personality. Dan anak yang kuat akan mampu membentengi dirinya sendiri dari pengaruh buruk pergaulan di luar rumah. Anak yang tumbuh dengan semestinya cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi persaingan dalam dunia yang semakin sempit. Sangat berbeda dengan anak-anak yang tumbuh sendiri dan dipaksa dewasa sebelum waktunya. Dipaksa mengerti keadaan orang tuanya dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Untuk itu, keharmonisan dalam rumah tangga itu PENTING!

Banyak kasus ditemukan pada anak-anak yang orang tua mengira, sudah disekolahkan di pondok dengan ilmu agama yang baik namun masih terjangkit virus HIV karena homo. Ini disebabkan kurang adanya komunikasi antara anak dan orang tua, dan sejauh mana kedekatan hubungan mereka. Banyak yang mengira, dengan menitipkan anak ke pondok maka tugas orang tua selesai. Padahal belum! Sekolah hanyalah sarana yang diberikan orang tua agar anaknya belajar ilmu namun kedekatan emosional, terlebih lagi antara ibu dan anak masih sangat diperlukan. Hal ini untuk menjaga kejiwaan sang anak agar tidak merasa dikucilkan dari lingkungan keluarga dan perhatian yang masih utuh tentunya. 

Perempuan adalah matahari. Namun sudah sadarkah kita tentang pentingnya matahari itu hadir di rumah kita? tak banyak yang tahu tentang hal ini. Masih banyak perempuan yang dijadikan alat sex gratis hanya dengan satu kata SAH dari penghulu. Namun kebutuhan batin perempuan masih sering diabaikan. Coba kita lihat pada lingkungan sekitar kita atau bertanya pada diri kita sendiri, apakah benar perempuan itu bahagia dalam lingkup rumah tangga? Ataukah sebuah luka tersembunyi di sana dan dibalut dengan senyum dan kata sabar? Maka ini menjadi PR untuk kita semua dalam mensosialisasikan kemerdekaan bagi setiap perempuan. perempuan yang merdeka adalah perempuan yang tidak ‘diperkosa’, bukan hanya tubuhnya namun juga jiwa, ide, bakat, minat dan semangatnya. Perempuan merdeka adalah perempuan yang ‘nyaman dan manusiawi’ dalam menjalani hidupnya. Untuk itu perempuan harus cerdas. Perempuan harus berwawasan luas. Dan saya menyambut baik program sekolah perempuan yang akan segera di buka di Desa Gogodeso. Terima kasih Pak Lurah dan team. Salam bahagia. Salam sayang. (*)
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar