Rabu, 31 Agustus 2016

BLITAR BERPESTA





Kemeriahan acara tujuh belasan yang diselenggarakan pada setiap bulan Agustus masih tampak mewarnai kota Blitar. Di beberapa tempat, dari ruang lingkup RT sampai setingkat Kotamadya dan Kabupaten masih berlomba-lomba untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 71.

Panggung-panggung sederhana didirikan, sebagai tempat main grup orgen tunggal dengan penyanyi warga sekitar yang memiliki bakat terpendam. Jadi, tidak hanya memeriahkan acara kemerdekaan namun acara ini juga sebagai ajang uji bakat dan kemampuan untuk bergaya di atas panggung.

Penampilan penari dan penyanyi cilik yang lincah dan membuat haru para orang tuanya, menjadi acara yang selalu ditunggu-tunggu seluruh warga Indonesia, Blitar khususnya. Karena dalam acara ini, mereka dapat menampilkan kebolehan putra putrinya dalam berolah vokal pun tari dengan tanpa biaya.


Pada hari Minggu 28 Agustus, di penghujung bulan penuh berkah bagi Indonesia ini, kota Blitar mengadakan acara tahunan yaitu karnaval. Acara yang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat dari seluruh pelosok daerah di Blitar, menjadi sebuah tanda bahwa Blitar adalah kota sayuk, rukun dan masih menjaga semangat kebersamaan serta nasionalisme. Bukan hanya di tingkat kota dan kabupaten, bahkan di daerah-daerah seperti Serang, misalnya. Mereka mengadakan acara serupa yang bertajuk Serang Carnival 2016, diisi dengan pawai untuk mempertontonkan berbagai potensi daerah dan pameran hasil bumi. Ini wujud dari keberlimpahan daerah yang semangat, gemah ripah lohjinawi.

Berbagai atraksi seperti tarian warok, peran Anoman dan Tunggul ametung juga dipilih sebagai sarana edukasi kepada generasi muda guna mengenal tokoh-tokoh budaya Indonesia. Para penari yang terdiri dari pemuda desa setempat, menggunakan bahan daur ulang untuk membuat baju-baju sebagai busana pawai seperti bekas bungkus kopi saset, sabun dan sebagainya. Kreativitas anak negeri diuji dalam membuat berbagai patung dan ogoh-ogoh untuk di arak sepanjang jalan. Dan Blitar pun berpesta dengan penuh keceriaan.


Banyak hal yang bisa kita petik dari berbagai kegiatan yang diadakan oleh pemerintah kota dan daerah ini. Adalah untuk menyalakan kembali semangat kebersamaan dan gotong royong atas dasar Pancasila. Bahwa Indonesia adalah negara dengan keragaman budaya juga kemerdekaan Indonesia didapat dengan cara bergotongroyong, saling membantu dan mengobarkan semangat para pembela bangsa. Indonesia adalah negara kesatuan yang tak dapat terpecah belah oleh berbagai isu agama dan sara. Indonesia adalah bangsa besar yang berbudaya dengan berjuta suku bangsa. Maka, dengan adanya berbagai pesta rakyat yang meriah dan dapat diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat, diharapkan agar semangat membangun dan gotong royong itu tetap terjalin erat. Bahu membahu, demi terwujudnya Indonesia yang adil dan makmur. Hiduplah, Indonesia raya!(*)

NGOPI? YA DI KOPI BATHOK GATHUK






Mau tau tempat nongkrong paling asik di Blitar, langsung aja meluncur ke Kopi Bathok Gathuk Kanigoro, barat Kantor Kabupaten Blitar. Kenapa harus Kopi Bathok Gathuk? Karena di sana, Anda bukan hanya disuguhi kopi yang khas dengan gelas bathok atau tempurung kelapa, yang dihidangkan dengan pilihan gula putih dan gula merah.


Nah, mulai tertarik kan? Di warung Kopi Bathok Gathuk yang dimiliki oleh seorang seniman kondang dari Kanigoro Blitar bernama Dyan Brew ini, Anda serasa berkunjung ke rumah seni. Tidak berlebihan bila saya sebut warung kopi ini sebagai rumah seni, karena segala perabot yang ada, hampir semua berbau seni. Mulai dari meja, kursi, lukisan, perabot bahkan nama menunya. Maklum lah, karena Pak Brew adalah seorang pelukis senior yang sudah malang melintang di dunia internasional seperti Australia. 


Pak Brew melanglang buana di negeri kanguru sejak tahun 2005 sampai 2014 sebagai seorang pelukis yang sudah memiliki banyak karya. Namun sekarang Pak Brew kembali, dan ingin ikut ambil bagian dalam memajukan kotanya, Blitar. Di sini Pak Brew membuka warung kopi dengan tema budaya, mengusung cita-cita agar kedepannya tempat ini bisa menjadi pusat informasi seni, budaya dan pariwisata. Sesuai kapasitasnya sebagai wakil dewan kesenian kabupaten Blitar, beliau ingin menjembatani setiap kelompok masyarakat yang ingin tahu atau ingin lebih mengenal budaya Indonesia, di Blitar pada khususnya.

Pak Brew tak segan membagi ilmu dan pengalaman dibidang seni budaya yang dibutuhkan berbagai kelompok masyarakat juga akademisi yang ingin memperoleh ilmu pengetahuan mengenai berbagai hal soal seni, budaya dan pariwisata dan kearifan lokal. Nah, penasaran bukan?

Meski judulnya adalah warung kopi, namun di sini tidak hanya menjual kopi. Ada beberapa menu menarik yang disuguhkan antara lain: 

~ OMBEN-OMBEN KEPANASEN: Kopi Bathok Gathuk, Kopi Bathok Susu, Kopi Bathok Jahe, Kopi Bathok Slintat Slintut, Kopi Bathok Sumringah, Wedang jahe Gula Batu, Wedang Asem Gula Jawa, Wedang Teh Slulup, Wedang Jahe, Wedang Rempah Byar Pet, Kopi Coklat Angtet-anget Panas dan STMJ. 

~CEMILAN: Pecel Punten Whaa.. Huuhaah..., Jadah Bakar Similikiti, Gedang Bakar Asolole, Roti Bakar Tul Jaenah, Tape Bakar Nyampleng, Jagung Bakar Jempol Rosa, Kentang Goreng Kentung, Tahu Susu Kres-kres, Ketan Bubuk Koplak, Rujak Es Krim Mak Bedunduk, Krupuk Sambelan.

~OMBEN-OMBEN KADEMEN: Soda Sorak-sorak Gembira, Kencur Lego Lilo, Jahe Abang Ketrucut, Kunir Asem Kenceng Pengeram-eram, Jus Woh-wohan, Rucuh Tomat, Rucuh Tape, Jus Tape Susu dan Rujak Uyub.

~DAHARAN: Nasi Pecel Rumangsaku Paling Enak, Nasi Ayam Lodho Ora Ngapusi Ayam Kampung dan Rawon Bathok Ela-elo. 


Dari nama menunya saja sudah dapat kita bayangkan bagaimana mak nyus-nya hidangan di warung Kopi Bathok Gathuk. Jadi, bagi teman-teman luar kota yang sedang berkunjung ke Blitar jangan lupa untuk mampir ke sini. Oh iya, meski tempat dan namanya keren, harga di sini ramah di kantong, loh! Juga, pada malam tertentu, teman-teman akan dihibur dengan acara live music yang syahdu. Yuuk, rame-rame ke Kopi Bathok Gathuk. Di tunggu ya.. (*)

Kamis, 25 Agustus 2016

PAGELARAN LUDRUK dan DIDIK NINI THOWOK






Tanggal 21 Agustus 2016 akan menjadi hari yang bahagia bagiku. Kenapa pasal? Karena pada tanggal itu aku bertemu dengan idola sejak kecil. Dulu aku sering melihatnya tampil di layar kaca dengan tarian fenomenal. Berbagai tarian dengan menggunakan topeng dan posisi tangan terbalik di punggung, luwes dan gemulai, sudah benar-benar bisa menghipnotis mata kecilku yang lekat memandang layar kaca. 

Saat itu, aku melihat sebuah pengumuman bahwa Mas Didik Nini Thowok akan hadir di kota Malang untuk mendukung pagelaran seni ludruk yang nyaris punah. Karena kepedulian para seniman dari kota Malang, dan disambut baik oleh dinas kebudayaan setempat, mereka berhasil menampilkan pagelaran ludruk di gedung kesenian Gajayana yang didukung penuh oleh mas Didik Nini Thowok.
Acara dimulai pada pukul 19.00, diawali dengan pagelaran uyon-uyon oleh para pesinden muda. Kemudian lanjut dengan tetarian yang dibawakan oleh para penggiat budaya kota malang antara lain tari Kepontal-pontal dan ngidung oleh para tandak dengan pakaian tradisional kebaya. Lalu, Pak Yongki Kurniawan selaku koordinator acara, melelang sampur mas Didik Nini Thowok seharga 5.000.000 sebagai biaya operasional acara yang mencapai angka 12.500.000.

Betapa aku salut kepada sahabat sekaligus inspirator yang satu ini. Beliau adalah pembuat topeng, penari dan penggiat seni budaya yang tak pernah pupus semangat untuk menyuarakan kembali betapa kita bangsa Indonesia memiliki budaya yang adilihung. Bahwasanya kita harus mencintai dan membelanya dari gempuran budaya asing yang masuk dengan gampangnya ke Indonesia. Dengan acara yang diprakarsai oleh beliau ini, seolah beliau menyerukan bahwa jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan keragaman budaya.


Setelah melewati serangkaian acara, tiba saat pertunjukan utama yaitu pagelaran ludruk oleh Lerok Anyar yang membawakan lakon Sawunggaling. Kisah perjuangan seorang pemuda desa yang larut dalam upaya mengusir penjajah Belanda dengan dibumbui kisah asmara romantis dua insan muda. Sebuah karya yang apik, yang digarap dan dipersiapkan dengan sangat singkat oleh sang sutradara, dalam waktu dua minggu.

Di tengah acara, Mas Didik yang barlaku sebagai dayang sang putri, menampilkan tetembangan dan tarian yang sungguh sangat membuat aku terpukau! Gayanya yang gemulai, senyum dan tutur bahasanya yang sopan dan lembut, membuat aku semakin kagum atas sosok seorang Didik Nini Thowok. Bagiku dialah seniman sejati. Yang mampu menyerap saripati keindahan dunia menjadi seni yang enak dinikmati. Tak peduli betapa banyak hujatan yang ditimpakan oleh beliau, bagiku Mas Didik Nini Thowok adalah aset bangsa yang harus diakui oleh negara dan ditularkan ilmunya kepada generasi penerus kita.

Mengingat sedikit sekali pemuda pemudi pada zaman sekarang ini yang tak lagi peduli kepada kebudayaan bangsa, dan saat melihat Mas Didik Nini Thowok melenggak lenggok di atas panggung, sejujurnya aku merasa haru. Dalam era kemajuan zaman dimana segala sarana dan fasilitas untuk belajar ini begitu mudah, namun kita seperti kehilangan gairah untuk mengenal bahkan menjadi pelaku dan bagian dari serangkaian adat itu sendiri. Lalu pertanyaanya adalah: apa benar kita sudah kehilangan jati diri?

Melihat Pak Yongki dan Mas Didik yang masih mengobarkan semangat dan berharap dapat mempengaruhi minat orang lain untuk lebih mencintai budaya sendiri, aku jadi ikut semangat. Setidaknya aku masih bisa memberikan sedikit kemampuan dan kecintaanku dalam dunia seni budaya kepada anak-anakku. Dari sana, kuiharap mereka lebih mengenal budaya sendiri dan menjadikannya pondasi dalam menghadapi gempuran budaya asing.

Oh iya, sedikit pengetahuan yang kudapat saat wawancara bersama sang sutradara, bahwasanya kenapa sebagian pemain ludruk itu waria. Dengan gayanya yang santun, beliau menjelaskan bahwasanya dulu, aslinya pemain ludruk adalah memang laki-laki  tapi tidak banci. Mula-mula dia adalah pengamen dan ketika semakin banyak orang menyukai caranya bernyanyi, maka dia mengumpulkan beberapa teman untuk bermain bersama dan untuk menarik perhatian para penonton, maka dia berakting menggunakan pakaian wanita sebagai tuntutan profesi. Jadi, apabila ada anggapan bahwa pertunjukan ludruk itu tidak layak tayang karena seluruh pemainya banci adalah tidak benar!

Jadi, ini merupakan PR bagi kita bersama untuk mengenalkan kembali, juga mendukung setiap kegiatan budaya yang diadakan dengan tanpa pamrih oleh para pelaku seni. Tidak ada hal paling membanggakan kecuali melihat mereka bisa terus exis dengan keragaman petuah dan pitutur agung yang dikemas dalam sebuah cerita yang apik. Salam budaya. (*)

Sabtu, 16 Juli 2016

HIKMAH RAMADHAN DAN LEBARAN 2016



2016 adalah tahun ke 2, dari semenjak aku pulang ke Indonesia. Setahun lalu, aku pulang tepat pada hari ke 3 bulan Ramadhan, dan bisa berlebaran bersama keluarga tercinta. Namun ada yang beda di ramadhan ke 2 setelah kepulangan. Hal yang paling nyata adalah bertambahnya teman, yang datang ke rumah pun yang aku kunjungi.

Ramadhan dan hari lebaran boleh jadi adalah hari paling langka aku nikmati semenjak 14 tahun silam. Sejak tahun 2001, aku lebih banyak merantau ke beberapa negara dan propinsi seperti: Taiwan, Hongkong dan Bali. Tak usah kuceritakan kenapa aku merantau selama itu, ya? Anggap saja itu adalah kawah candradimuka bagiku, untuk menuju proses pendewasaan, hehe..

Tahun 2015, aku memutuskan untuk berani pulang dan bertekat bahwa aku harus bisa hidup di Indonesia, Blitar khususnya. Aku akan meninggalkan zona nyaman dan memulai sesuatu yang benar-benar baru di kotaku. Bayangkan saja, 14 tahun merantau, aku bahkan banyak yang lupa nama tetangga. Anak-anak yang dulu masih kecil saat kutinggal, kini sudah tumbuh dewasa dengan wajah yang berubah. Lalu bagaimana aku akan memulai sebuah usaha bila nyatanya aku ini buta, alias tak tau medan? Istilahnya aku benar-benar mulai dari titik nol. Beradaptasi dan pengenalan kembali terhadap lingkungan. Pelan-pelan aku mulai memiliki jaringan komunitas juga organisasi yang secara kebetulan, dipertemukan Tuhan untukku. 

Di tahun 2016 ini, aku sudah masuk dalam beberapa komunitas antara lain: FLP Blitar, gabung dalam grup keroncong Ojo Dumeh, menjadi kontributor media BlitarTourism, dan membuka bisnis kecil-kecilan meski masih jatuh bangun seperti: jualan mie ayam MAMA dan lain sebagainya. Namun menjelang lebaran, aku mendapatkan jalan rejeki yang tak terduga yaitu jualan kue kering lebaran, stik keju, kaos dan sepatu meski belum banyak, tapi hal itu wajib aku syukuri sebagai langkah awal yang baik.

Dari hasil berjualan itu, pada ramadhan tahun ini aku bisa membelikan beberapa potong pakaian untuk anakku (meski pakaian baru bukan hal wajib di hari lebaran) dan menyajikan kue-kue lebaran dari hasil tanganku sendiri. Ada kue nastar, putri salju, kue kacang, kastangel, stik bawang dan stik keju. Lumayan capek juga ternyata bikin kue. Butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra. Untungnya anak lelakiku Avic, yang sudah berumur 16 tahun, mau turun tangan membantu. Di situlah hikmah paling besar yang aku rasakan. Dari media kue lebaran, aku juga mengajarkan kepadanya tentang arti bekerja, sabar dan telaten demi tujuan yang kita inginkan. Selebihnya adalah, komunikasi diantara kami jadi lebih intens. Di sela bekerja, aku sering menanyakan (sambil menyelidiki) apakah dia sudah punya pacar, bagaimana sekolahnya, siapa guru favoritnya, siapa teman akrabnya, menanyakan nama teman perempuannya dan nama teman yang sering datang ke rumah. Dengan bahasa yang lebih menyerupai sahabat, aku ingin mengontrol sejauh mana pergaulan anakku yang sudah mulai beranjak dewasa.

Takbir! Adalah hal yang paling dirindukan setiap perantau. Aku pernah merasakannya sendiri. Saat malam takbir dan saat itu aku masih berada jauh diperantauan, apa yang bisa kukerjakan hanya menangis sambil bertakbir sendiri dalam hati. Saat itu aku merindukan anak-anak dan ibuku. Namun apa daya, saat itu aku harus bekerja dan hanya dapat mengirim biaya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi kali ini, aku berkesempatan untuk mengikuti dan meliput langsung kegiatan takbir akbar bahkan parade drum yang diadakan di kota Blitar. Alhamdulillah, Allah SWT sudah menjawab semua inginku. Berkarya di negeri sendiri dan ikut andil dalam memajukan pariwisata kota Blitar adalah impianku. 

Oh iya, hal lain yang sangat menarik adalah saat aku mulai nyelengi atau menabung dalam gentong plastik selama setahun penuh. Aku menabung uang recehan dua ribu dan lima ribuan. Setiap kali ada rejeki, aku sisihkan sebagian uang itu untuk persiapan lebaran tahun depan. Kali ini jumlahnya ternyata lumayan, loh! Dan malam sebelum lebaran, aku memasukkan uang recehan itu ke dalam amplop yang kusediakan untuk anak-anak kecil. Sebuah ritual yang paling aku sukai setiap berkesempatan lebaran di rumah. 

Lebaran ini, tamu-tamu yang datang ke rumah juga lebih beragam. Selain saudara dan para tetangga, teman-teman dari komunitas juga hadir untuk berlebaran. Kami berbincang banyak hal mulai dari budaya, berbagi informasi dan semangat agar terus getol untuk berkarya dengan hati. Berkarya atas dasar cinta. Bukan hanya materi semata. Karena bila kita sudah mendahulukan cinta dalam berkarya, InsyaAllah akan dapat menciptakan sebuah karya yang jujur dan sampai ke hati penikmatnya. Amin.
Demikian sekelumit kisahku di ramadhan dan lebaran tahun  2016 ini. Sebenarnya masih ada banyak kisah lagi yang ingin kuceritakan namun kiranya tulisan ini terlalu panjang, akan membuat teman-teman semakin bosan, hahaha... Jadi, bagaimana bila setelah ini kita agendakan untuk bertemu, ngopi dan ngobrol tentang banyak hal seputar sastra, seni tulis, kisah hidup, cita-cita dan lain sebagainya.  Ok, ya?!


Minggu, 12 Juni 2016

MALAM MINGGU? KERONCONGAN DI CAFE VIP, AJA!








Sekitar pukul delapan malam tadi, iseng-iseng aku jalan-jalan ke pusat kota Blitar. Melintasi jalan Merdeka. Eh, aku mendengar alunan musik keroncong merdu banget. Lalu mataku menangkap sekelompok pemain musik yang sedang tampil di trotoar di depan cafe VIP Blitar. Walah, dasar penggila musik keroncong, aku pun berhenti dan minta ijin untuk memotret mereka. 

Dalam hati aku berkata, keren nih grup keroncong yang manggung di trotoar kayak gini. Seperti kesenian jalanan yang sering aku lihat di TV. Lalu, aku beranikan diri untuk menemui ownernya dan melakukan sedikit wawancara.

Namanua Mas Eko. Pengusaha cafe yang masih sangat muda dan sangat iniovatif dalam mengelola usahanya. Duduk dengan jaket merah dan topi ala-ala penyanyi Anak Singkong, super deh pokoknya. Pembawaannya yang santai dan ramah, membuat obrolan pertama kami malam tadi mengalir asik. Dan lebih asik lagi, ketika Mas Eko menyuguhkan minuman dingin dengan rasa green tea. Jadi deh dobel-dobel asiknya, hehe.

Mas Tony bertutur bahwa cafe VIP sudah berjalan selama 3 tahun. Berada di tengah kota dan tempat yang strategis, membuat cafe VIP ini berhasil menghipnotis pengunjung untuk duduk berlama-lama di sana. Apalagi dengan suguhan aneka menu yang enak bangeetttt dan pas di kantong, juga layanan free wifi-nya yang anti lelet, menambah kenyamanan dalam berkongkow ria bersama teman-teman.
Satu hal yang sangat menarik dari cafe VIP ini adalah, desaign interiornya sangat artistik. Juga model cafe yang terbuka, sehingga pengunjung dapat dengan leluasa melihat lalu lalang kendaraan yang lewat di jalan utama kota Blitar Patria. Asli kereennn...!!

Nah, mulai deh aku bertanya soal grup keroncong yang terdiri dari anak-anak muda kreatif yang sedang unjuk kebolehan di hadapan kami. Mas Eko bilang, pada awalnya mereka adalah anak-anak jalanan yang bisa main musik dan senang berkesenian. Kamudian, anak-anak jalanan itu membentuk satu grup musik yang akhirnya disupport oleh Mas Eko, diberikan tempat dan kesempatan untuk bermain setiap malam minggu. Oh! Aku terharu. Anak-anak muda Indonesia yang belajar musik dan berkesenian secara otodidak dan benar-benar dilahirkan oleh keadaan. Juga permainannya itu, sungguh! hmm... luar biasa!

Aku bertanya apa nama grup musik itu dan Mas Eko, sambil tersenyum menjawabnya, ‘OJO DUMEH’. Kalian tahu kan, arti kata ojo dumeh? Benar, artinya adalah, jangan sok! Jadi nama grup musik itu sekaligus mengingatkan kita agar ojo dumeh jadi orang. Jangan sok. Jangan sombong. Karena hidup itu misteri. Hidup adalah teka-teki Illahi. Sama sekali tak bisa diramal dan diprediksi. Seperti mereka kelompok musik yang terlahir hadir dari anak jalanan itu, siapa sangka dapat memainkan musik dengan komposisi yang pas banget? Semua tentu juga karena ada campur tangan Tuhan, kan? Jadi memang kata ‘OJO DUMEH’ menjadi alarm agar kita manusia lebih  mawas diri dan intropeksi diri, jangan-jangan selama ini kita sudah terlalu besar kepala dengan segala pencapaian yang sudah kita raih?!

Di akhir perjumpaan malam tadi, aku juga berkesempatan untuk menyanyikan dua buah lagu keroncong berjudul Sepasang Matabola dan Surat Undangan. Ah, menyanyikan lagu kenangan itu benar-benar membawaku memasuki ruang waktu masa lalu ketika aku masih aktif menyanyi di kotamadya Blitar. Jadi timbul lagi semangat untuk berkesenian, agar tak lekang di telan zaman. 

Pada kesempatan itu, aku juga memberi usulan soal menyoal bagaimana bila selain musik keroncong, cafe VIP juga mensupport seni teater jalanan. Barangkali bisa bergantian untuk tampil di atas trotoar di depan cave VIP menghibur para pengunjung yang rajin bertepuk tangan. Sayangnya, di Blitar ini belum ada komunitas teater yang mengajukan proposal. Nah, pembaca yang budiman, setelah membaca artikel ini, apakah kalian setuju kalau kita membuat grup teater jalanan dari kota Blitar? Ayo.. siapa yang mau gabung???