Siapa yang tak kenal buah ini? Manis, legit, merah,
menggoda, menawan, obat haus, obat sembelit dan sumber vitamin. Dia buah yang
tak kenal musim. Bisa dimakan saat mentah pun kalau sudah matang. Pohon yang
dari akar sampai daunnya mempunyai banyak manfaat. Ehem.. tau kan? Bener! Dia
adalah si merah, pepaya.
Secara pribadi saya memang suka benget buah ini. Kebetulan
di rumah ada dua pohon pepaya yang tumbuh subur dan turut serta menyumbang
nilai gizi pada keluarga. Pun daunnya, yang berasa pahit namun baik untuk
kesehatan itu sangat nikmat. Bisa dimasak urap, tumis atau dimakan dengan
sambel pecel. Pohon yang mudah tumbuh walau tanpa perawatan ekstra, sangat
bermanfaat bagi tubuh dan sekarang, pohon ini dikembangkan dengan sangat pintar
oleh kepala desa Gogodeso, Bapak Chairul Anam bersama team yang terdiri dari
beberapa relawan, donatur dan seluruh warga Gogodeso.
KPK di sini bukan Komisi Pemberantasan Korupsi namun
Komunitas Pecinta Kesejukan. Maka dari itu, Pak Lurah menggandeng sahabatnya
yang peduli dengan pengembangan desa wisata. Bapak Muhamad Dardak selaku
penyedia bibit pepaya,melakukan penanaman pohon pepaya di sepanjang ruas jalan
Desa Gogodeso.
Kenapa pepaya? Karena pepaya memiliki banyak manfaat, itu
sudah pasti. Selanjutnya adalah karena pepaya tidak akan mengganggu jalan desa
karena batangnya tidak akan tumbuh besar. Selain juga buahnya bisa dimanfaatkan
oleh penduduk setempat yang membutuhkan. Nah, bagaimana bila hasil pepaya nanti
melimpah? Pihak pengelola sudah menggandeng BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) untuk turut
serta mengelola hasil panen. Pepaya bisa dijual dalam bentuk buah segar, bisa
juga sebagai bahan saos pepaya, selai pepaya dan manisan. Bahkan terakhir,
pepaya dapat dimanfaatkan sebagai puding. Menurut Papi, pengelola Bungdes,
sampai saat ini bahkan sudah banyak pihak menghubungi beliau dan ingin memesan
buah pepaya.
Pagi ini, sepanjang jalan desa Gogodeso sudah ditanam dengan
serempak 700 bibit pohon dan masih akan bertambah sore hari. Program keren ini
dinamakan ‘KATESISASI’ oleh para penggiat KPK. Seperti diketahui bahwa para
penggerak dan pengelola adalah orang-orang yang mencintai kesejukan. Diharapkan
dengan terlaksananya program ini kesejukan itu akan benar-benar didapat setelah
sepanjang jalan desa penuh dengan warna hijau daun pepaya. Ada juga mitos yang
mengatakan bahwa menanam pohon pepaya di depan rumah dapat menangkal pengaruh
jahat yang dikirim oleh orang yang berniat tidak baik. Entah benar entah tidak,
namun yang pasti bahwa buah pepaya itu enak! Hahaha
Telah disiapkan bibit pepaya dalam jumlah tak terbatas untuk
memenuhi permintaan warga yang ingin menanam pohon pepaya secara gratis.
Program ini sama sekali tidak memakai anggaran desa. Murni dilakukan oleh
mereka yang peduli dengan kesejahteraan warga dan meningkatkan potensi desa.
Diharapkan program ‘KATESISASI’ ini dapat meningkatkan kesejahteraan warga desa
Gogodeso dan menambah nilai gizi. Setiap warga dapat menjual hasil panennya
kepada BUMDES dengan harga yang baik demi terwujudnya visi misi desa Gogodeso
yang damai dengan Tuhan, Menyatu Dengan Alam dan Damai dalam kehidupan.
Ada beberapa jenis bibit pohon pepaya yang di sediakan. Antara
lain jenis Tailan dan Carica. Sebagai lumbung bibit pepaya adalah tanah seluas
¾ hektar yang disediakan pemerintah. Di sana akan dilakukan berbagai eksperimen
tentang tehnik penanaman pohon pepaya, pengolahan pupuk organik, penyangkokan,
pengawinan jenis-jenis pohon pepaya dan sebagainya. Dan yang terpenting dari
semua program ‘KATESISASI’ ini adalah untuk memupuk jiwa dan semangat gotong
royong antar penduduk. Bahwa bangsa ini lahir dari semangat gotong royong dan
mereka ingin agar semangat itu tetap terjaga setiap minggunya dalam wujud kerja
bakti, menanam, merawat dan memanen pepaya. Bahagia bersama, sukses berjamaah
dan sejuk terasa. Bersama-sama mewujudkan Indonesia yang gemah ripah lohjinawi
yang dimulai dari desa. Ah, sungguh mengikuti serangkaian acara pagi ini, saya
jadi bangga menjadi bagian dari mereka dan bangga menjadi warga negara
Indonesia. (*)
Bukan Bungdes mbak, tapi BUMDes Badan Usaha Milik Desa
BalasHapus